[Solo Hiking Kerinci – Part 1] Mak Jus safe house

“Bang, bangun bang, udah nyampe.”

Beberapa tepukan di bahu saya dari penumpang sebelah membangunkan saya dari tidur yang tidak pernah lelap sejak beberapa jam yang lalu. Mobil Kijang Innova yang saya tumpangi berhenti persis di pertigaan Tugu Macan, desa Kayu Aro, Kerinci. Saya melangkah keluar dari mobil dan menurunkan ransel saya. Sesaat kemudian, mobil tumpangan saya sudah kembali melaju meninggalkan saya sendirian di tengah kegelapan. Tidak ada satu orang pun penduduk desa yang terlihat malam itu.

Saya melihat jam tangan saya, masih jam 2 subuh. Berdasarkan tulisan-tulisan tentang pendakian Kerinci di internet, yang saya tahu adalah perjalanan dari Padang butuh waktu 8 jam. Mobil saya berangkat jam 8 malam, seharusnya saya tiba jam 4 subuh. Dengan begitu, saya cukup tidur sejam lalu ke pasar, belanja beberapa kebutuhan untuk 4 hari di gunung, lalu nyewa ojek ke Pintu Rimba untuk memulai pendakian jam 7 pagi.

Nyet, ini masih jam 2 subuh. Masih gelap, dan saat itu desa Kayu Aro lagi kebagian jadwal mati lampu. Kabut yang cukup tebal dengan temperatur 10° C membuat tubuh saya menggigil di depan Tugu Macan. Saya segera melangkah ke homestay Paiman, yang direkomendasikan banyak orang untuk menginap.

Tiba di depan homestay, pintunya terkunci. Saya mengintip melalui jendela kaca yang dipenuhi stiker. Di ruang tengah homestay ada sofa, di atas sofa ada seorang pemuda yang sedang tidur dengan nyenyaknya.

Saya mengetok pintu perlahan, sambil memanggil masnya pelan.

“Mz…”

Tidak ada respon. Saya terus mengetok dan memanggil-manggil masnya dalam kegelapan malam.

“Mz…”

Setelah beberapa saat berusaha, akhirnya masnya terbangun. Dia duduk, mengucek matanya, lalu melihat ke arah saya. Saya lega dong, akhirnya akan selamat dari serangan suhu udara yang semakin dingin itu. Saya tersenyum sambil berkata, “Tolong mas, pintunya terkunci.”

Masnya berdiri, menatap saya dengan mata melotot, lalu buru-buru masuk ke salah satu kamar di ruangan itu. Yang terdengar selanjutnya adalah bunyi kunci kamar yang diputar, dan masnya tidak keluar lagi sama sekali. Saya melongo.

Kampret. Gue dikira setan.

Saya memanggul lagi ransel saya yang beratnya 20 kg lebih itu. Harapan saya tinggal satu, basecamp Kerinci yang katanya buka 24 jam. Saya melangkah dengan gontai mengikuti peta pada handphone saya. Jarak dari homestay Paiman ke basecamp Kerinci hanya 650 meter.

Saya tiba di depan sebuah rumah yang jendelanya dipenuhi stiker juga. Di depan rumah ada sebuah spanduk besar dengan tulisan Mak Jus lengkap dengan gambar siluet pendaki. Fiuh, ini dia. Kirain warung makan yang mengambil nama dari ungkapan legendaris Pak Bondan Winarno.

Lampu sudah menyala lagi, dan saya mengintip ke dalam rumah itu. Tidak ada satu orang pun di sana. Kosong. Saya membuka pintunya, dan ternyata benar, tidak terkunci! Saya masuk, meletakkan ransel saya, lalu masuk hingga ke dapur demi mencari Mak Jus atau siapa saja lah, tapi nihil. Semua orang sudah tidur.

Saya kembali ke ruangan utama rumah Mak Jus. Ruangan itu luas. Tidak ada meja atau kursi di sana, hanya ada tikar yang digelar menutupi seluruh permukaan lantai yang bisa menampung 20-an orang pendaki. Seluruh tembok dan jendela dipenuhi tempelan stiker, spanduk, dan foto-foto yang ditinggalkan pendaki dari berbagai daerah. Saya mengeluarkan jaket saya, lalu tidur meringkuk di salah satu pojok ruangan.

Besok harus ke pasar.

Next: [Solo Hiking Kerinci – Part 2] Son Goku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisements
%d bloggers like this: