DAL BHAT POWER 24 HOUR!

Awalnya saya melihat tulisan ini di sebuah kaos yang digantung di salah satu toko souvenir Kathmandu. Lalu di sweater. Kemudian di sebuah kupluk. Di stiker mobil pun ada.

Hmm.. Pasti ini obat kuat. Hebat sekali brandingnya. Slogannya pun berani, 24 hour power. Shabu-shabu kalah dari segi durasi. Tapi kok obat kuat bisa seheboh ini sih? Ada gitu yang mau make kaos dengan slogan obat kuat? Saya belum pernah melihat orang pake kaos dengan tulisan “KING COBRA 5x LEBIH DAHSYAT” atau “MAGIC TISSUE, SIHIR 24 JAM.”

Saya baru tahu kalo Dal Bhat ternyata makanan saat membaca buku menu di salah satu restoran di Thamel. Padahal imajinasi saya sudah kemana-mana.

Kalo bukan obat kuat, mungkin saja Dal Bhat adalah nama perusahaan listrik di Nepal. Bukan main cintanya masyarakat ke BUMN mereka. 24 hour power adalah hal yang sangat diidamkan teman-teman saya di Manado yang sering mengalami pemadaman listrik. Mereka menjadi beringas dan langsung merepet panjang lebar di facebook tiap kali mati lampu. Cacian ke PLN akan sambung-menyambung di status dan kolom komentar, lalu ujung-ujungnya jadi pertikaian antara kubu Jokowi vs Prabowo. Ahok vs Anies. Via Valen vs Raisa. Ngucapin natal vs gak ngucapin natal. Gitu terus sampe semua episode Black Mirror jadi kenyataan.

Atau, Dal Bhat bisa jadi adalah merk dagang dari baterai handphone. Ya siapa tahu Dal Bhat ini semacam baterai Valentine yang sempat merajai pasar baterai handphone di Indonesia 17 tahun yang lalu. Kala itu baterai original malah kalah saing dengan ketahanan tenaga baterai Valentine. Handphone yang baru dibeli saja baterainya langsung dilepas, ganti dengan Valentine. Entah bagaimana nasib merk ini, padahal saya lebih senang Valentine dikenal sebagai baterai daripada hari kasih sayang.

Tapi, bisa jadi juga slogan itu adalah sebuah quote random. Quote yang bertujuan menyeruak brutal penuh tenaga dari belantara quotes melankolis tentang power.

“The past cannot be changed, the future is yet in your power.”

“If you loose the power to laugh, you loose the power to think.”

“Turn the pain into power.”

Lalu Dal Bhat datang,

“HALAAAHHH TAI, DAL BHAT POWER 24 HOUR!!”

Nyatanya, Dal Bhat adalah makanan. Dal itu sup, Bhat itu nasi. Selain dua elemen kunci tadi, Dal Bhat dilengkapi juga dengan kari (biasanya vegetarian), acar, dan kerupuk yang nama lokalnya membuat mulut dan otak saya berulang-ulang menyebutnya tanpa suara: papad. Aneh aja gitu namanya, dan saya membaca sambil menyebutnya dalam hati: papad. Papad papad papad. Diulang-ulang terus di kepala sampe akhirnya papad kehilangan makna.

Dal Bhat dan black tea, duet maut andalan saya. Acarnya yang warna merah itu. Rasanya sangat antah-berantah, entah gimana ngejelasinnya..

Waktu trekking ke Annapurna kemarin, Dal Bhat ini saya amati adalah menu favorit guide dan para porter. Di setiap tea house yang saya singgahi dan ada mereka, menu yang mereka pesan selalu Dal Bhat.

“To eat Dal Bhat, don’t use spoon and fork, use your hand,” kata Jit dengan mulut penuh nasi, salah satu guide Annapurna yang sedang makan Dal Bhat pake tangan. Saya memperhatikannya makan dengan mata berbinar, senang melihat orang yang makan dengan lahap. “This is how a true Nepalese eat Dal Bhat,” sambungnya.

Jadi nasinya dicampur langsung dengan kari dan acar, terus supnya dipegang dengan tangan kiri, diminum langsung dari mangkoknya sambil makan.

Saya jadi membayangkan nasi padang dengan kuah santan kentalnya, rendang penuh bumbu, gulai otak, dan telur balado. Bedanya dengan nasi padang, Dal Bhat ini bisa nambah sepuasnya gratis. Top-up otomatis.

Saat nasi Jit hampir habis, seorang pelayan menghampirinya sambil membawa nasi sebakul, lalu menawarkan untuk menambah nasinya. Begitu juga saat sup atau acarnya habis, bisa nambah lagi. Berkali-kali sampe menyerah dan akhirnya dia bilang cukup.

Man. Sistem ini harusnya ada juga di warung padang.

Penasaran karena melihat Jit makan dengan sangat lahap, saya ikut memesan Dal Bhat. Bagaimana rasanya? Berikut adalah penilaian amatir saya yang tidak tahu apa- apa soal bahan-bahan dapur apalagi perihal menganalisis dari sisi kulineristik.

1. Dal atau sup
Sup kental ini berisi kacang merah kecil dan biji-bijian yang belakangan baru saya tahu kalo itu yang namanya kapulaga. Rasa bawang putih juga cukup kuat. Ini bagus untuk membantu tubuh kita menghadapi Altitude Mountain Sickness dan vampir.

2. Bhat atau nasi
Ya rasa nasi.

3. Tarkari (vegetable curry)
Tarkari atau kari ini isinya kentang, wortel, kacang-kacangan, dan bahan-bahan lain yang tidak mampu saya identifikasi, dengan dressing berwarna kuning yang menggugah selera. Walaupun saat pertama kali makan rasanya agak kurang familiar, pada percobaan kedua rasanya menjadi enak. Kita emang cepat akrab.

4. Papad
Saya lebih memilih kerupuk putih khas warteg dibanding kerupuk papad ini. Papad dibuat dari tepung dan kacang merah mini yang dikeringkan. Rasanya mayan lah, berbumbu tapi bukan yang gurih kayak kerupuk kita. Tetap menang kerupuk Indonesia.

5. Acar
Bukan bermaksud mendiskreditkan si acar, tapi ini satu-satunya bagian yang paling tidak bisa saya makan dan langsung saya lepehin saat pertama kali bertemu lidah saya. Mungkin lidah saya juga shock berat saat itu, lebih shock daripada waktu pertama kali makan belalang mentah. Saya tidak bisa menemukan kata untuk menggambarkan bagaimana rasanya. Getir kali.

Waktu nasi saya habis, pelayannya datang nambahin. Kari habis, dia datang lagi. Saat piring saya sudah kosong dan hanya menyisakan segumpal acar jahanam itu, si pelayan menghampiri saya lagi.

“You still hungry? You want more rice or curry?”

“Thank you, i’m already full,” jawab saya tersenyum lebar sambil mengusap-usap perut.

“But you didn’t eat the pickle, you don’t like it?”

“Err.. Well.. I like it actually, it’s just too spicy..”

“Ooo too spicy. Too bad, the flavor would be perfect with pickle,” katanya sambil mengambil piring saya. Saya melirik si pickle yang terlihat bangga setelah mendapat pujian, lalu menoleh ke arah lain karena melihatnya saja sudah membuat lidah gemetar.

Saat sedang duduk kekenyangan, Jit bertanya kepada saya.

“So do you like Dal Bhat?”

“Yes of course! I was so hungry and i ate like crazy, it tasted good.”

“Now your stomach looks full, full of power hahaha..”

“Yeah, Dal Bhat power 24 hour!” jawab saya.

“No not 24 hour. It’s 23 hour. 1 hour to eat hahaha..”

Tau kan rasanya kalo mendengar joke jayus tapi tetep harus ketawa demi menghargai?

***

Saya akan merekomendasikan Dal Bhat kalo lagi trekking di Nepal. Selain mengenyangkan, komposisi menu ini mengandung bahan yang dibutuhkan di pegunungan. Karbohidratnya tinggi, dan menurut beberapa studi, makanan berkarbohidrat tinggi dapat mencegah munculnya gejala AMS.

Nda usah takut gendut. Takutlah akan Tuhan.

Advertisements

9 thoughts on “DAL BHAT POWER 24 HOUR!

  1. Jadi penasaran gimana rasa acar yang aneh buat salah satu artis Indonesia kek bang Regy. Secara orang sini terbilang perut gampang dibanding bule, apa aja dimakan hahaha. Plis deskripsikan rasanya… getir seperti ketemu pelakor? atau getir ketemu penata rambut Kim Jong Ul?

    Like

    • Cuma ada satu artis di dunia ini Lim: Aa’ Azrax :’)

      Sampe detik ini aku masih berusaha mendefinisikan rasa acar itu Lim, tapi ga berhasil2 juga. Seperti manusia, rumit. Hahahaha ngomong opooo iki x)))

      Like

    • Mungkin ada hubungannya dengan menurunkan tekanan darah kali ya.. Diamox, dexamethasone, itu juga salah satu fungsinya utk hipertensi. Aku kmrn susah tidur aja, kalo sampe kehilangan selera makan sih nggak, tetep rakus hahahaha.. April ga trekking bart?

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s