Solo Trekking Annapurna Base Camp Part 1 : Kathmandu – Pokhara

Selama ini kalo ngetrip saya suka lupa detail perjalanan saya seperti nginap di mana, bayar berapa untuk ini itu, berapa jam jalannya, rutenya lewat mana, dan lain-lain makanya gak pernah ditulis. Tapi waktu ngetrip ke Annapurna Base Camp (ABC) akhir November 2017 kemarin, saya rasa saya perlu membuat tulisan ini selengkap-lengkapnya setelah pulang karena saya sangat terbantu dengan tulisan-tulisan tentang ABC yang saya temukan di berbagai blog lain sebelum berangkat.

Saya juga perlu berterima kasih secara khusus ke Bart (www.bartzap.com) dan Acen (www.jalanpendaki.com) yang sudah bersedia saya tanya-tanya mengenai hal-hal lain seputar ABC yang tidak saya temukan lewat googling hehehe..

Ini untuk membalas budi, sekaligus menambah informasi mengenai solo trekking ke Annapurna Base Camp yang sudah ada.

***

Saya termasuk beruntung. Tiket Malindo Air PP Jakarta – Kathmandu saya terbilang murah, totalnya 3 juta saja. Kebetulan waktu itu harga tiket Malindo Air emang lagi murah, dan tanpa pikir panjang langsung saya beli tiket PP-nya 4 bulan sebelum berangkat. Saya akan berada di Nepal selama 14 hari. Dan saya belum tahu apa yang akan saya lakukan selama di sana…

Setelah browsing-browsing, akhirnya saya menemukan hal menarik yang bisa menjadi misi utama di Nepal nanti. Saya akan trekking ke basecamp Annapurna! Sebenarnya agak ragu juga untuk trekking karena saya kurang yakin kalo saya masih kuat naik gunung, tapi dari informasi yang saya dapat, katanya jalur trekking ABC ini levelnya easy to medium. Gak butuh fisik yang prima banget, bisa jalan sendirian, dan biayanya juga gak mahal.

 

Day 1 : Kathmandu (Arrival)

Saya tiba di Kathmandu sekitar jam 9 malam. Satu hal yang tidak saya antisipasi adalah menyiapkan jaket sebelum turun pesawat. Suhu di luar ternyata 7 derajat celcius dan saya hanya memakai kaos oblong. Kampret.

Begitu masuk ruangan bandara, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengurus visa on arrival. Kita tinggal nge-scan paspor kita di salah satu mesin aplikasi visa otomatis yang bentuknya kayak ATM, menginput beberapa data yang dibutuhkan, dan selfie. Serius selfie. Dari situ langsung ke counter pembayaran visa dan menyerahkan print out dari mesin aplikasi tadi sama pas foto 3×4 selembar. Untuk visa selama 15 hari saya membayar 25 USD.

Setelah mendapat bukti pembayaran visa on arrival, counter berikutnya adalah melewati imigrasi. Di sini petugasnya akan minta pas foto kita lagi selembar, nanya tentang rencana berapa lama di Nepal dan akan ngapain aja. Tinggal bilang mau trekking ke ABC, terus visanya ditempel di paspor, dan selesai.

Sebelum keluar bandara jangan lupa menukar uang secukupnya. Money changer di bandara ratenya gak jelek kok, selisihnya tipis banget dengan money changer di dalam kota. Saya menukar 20 USD untuk nanti bayar taksi dan beli sim card Nepal. Kurs waktu itu 1 USD = 102 NPR (Nepalese Rupee). 1 NPR kurang lebih 130 IDR.

Bandara Tribhuvan Kathmandu

Dari pintu keluar kedatangan, belok kanan dikit nanti ada dua counter sim card, NTel dan Ncell. NTel ini semacam telkomnya kita, Ncell itu punya Axiata. Saya membeli sim card Ncell dan paket data 2,5 Gb seharga Rs 500 (Rp 65.000). Signal internet Ncell di sepanjang trek ABC lancar sampe Sinuwa, ilang di Bamboo, nongol lagi di Dovan, lalu lenyap setelah Himalaya sampe ABC. Sim card Nepal harus diaktivasi langsung di counter, yang dibutuhkan hanya copy paspor saja.

Beres urusan sim card, selanjutnya adalah nyari taksi ke hotel. FYI, taksi di Nepal itu kecil-kecil, lebih kecil dari Karimun. Udah kecil, atapnya juga rendah. Kalo taksi di Indonesia bisa bawa penumpang 4 orang, taksi di Nepal maksimal 3. Itu juga yang duduk di belakang udah sempit apalagi kalo bawa tas gede-gede.

Area backpacker Kathmandu ada di Thamel. Hotel, hostel, cafe, toko-toko outdoor, restoran, toko minuman, semuanya berkumpul di sana. Tarif taksi dari bandara ke area Thamel adalah Rs 700 (Rp 91.000). Taksi pre-paid sedikit lebih mahal, jadi mending langsung tawar-menawar aja dengan supir taksi yang bakal menghampiri begitu liat kita celingak-celinguk. Gak kok mereka gak kasar atau rese, apalagi untuk yang sudah terbiasa dengan gaya supir taksi di bandara-bandara Indonesia.

Jarak dari bandara ke area Thamel gak terlalu jauh, cuma 15-20 menit naik taksi. Saya menginap di Tibet Peace Inn, bookingnya lewat Booking.com sebulan sebelumnya. Harga per malamnya Rs 3.000 (Rp 390.000) karena saya bukan di dorm room tapi kamar sendiri. Kalo dorm room sekitar Rs 800 (Rp 104.000).

Oya kalo kamu nyampe Thamelnya udah lewat jam 10 malem, jangan kaget karena suasananya sudah sepi. Toko-toko mulai tutup dari jam 9 malam termasuk sebagian restoran. Tapi masih ada beberapa restoran yang buka sampe jam 12, cari aja di sekitar Thamel. Harga makanannya gak begitu mahal juga, satu porsi steak lengkap plus minum  paling Rs 700an (Rp 100 ribuan).

Kamar hotel Tibet Peace Inn

Pengeluaran hari pertama :
Visa on arrival : Rp 337.500
Sim card Ncell : Rp 65.000
Taksi bandara – Thamel : Rp 91.000
Makan malam : Rp 100.000
Hotel : Rp 390.000
Total : Rp 983.500

***

Day 2 : Kathmandu (TIMS, ACAP, and shopping)

Kathmandu ini berdebu, rame, crowded, kendaraan dan manusia berseliweran di jalan. Tapi dingin. Jadi jalan kaki kelilingin kota pun gak bakal bikin keringetan.

Mungkin karena dekat dengan India, kota ini dan penduduknya terpengaruh budaya dari sana, mulai dari cara berpakaian, adat istiadatnya, sampe ke musik. Makanannya pun India banget, penuh bumbu dan rempah dengan menu andalan kari.

 

Keluar dari hotel, langsung cari money changer untuk menukarkan USD ke NPR. Sembarang money changer. Ratenya sama aja. Berapa sebaiknya yang harus kita tukar? 6 juta rupiah adalah angka yang aman untuk saya.

Setelah megang uang, selanjutnya adalah mengurus ijin trekking (TIMS / Trekker’s Information Management System) dan ijin memasuki kawasan konservasi Annapurna (ACAP / Annapurna Conservation Area Project) di Nepal Tourism Board (NTB), 20-30 menit jalan kaki dari Thamel. Pake google map aja, lokasinya akurat. Kalo mau naik taksi, tarifnya sekitar Rs 300 (Rp 39.000).

Nepal Tourism Board

Dua ijin ini wajib dimiliki karena nantinya akan ada check point di jalur trekking. Data kita juga akan masuk database trekker yang memasuki kawasan konservasi, dan memudahkan pengelola untuk memantau trekker apabila terjadi keadaan darurat. Yang perlu kita siapkan :

1. Pas foto 3×4 cm 4 lembar (2 lembar untuk setiap ijin)
2. Uang Rs 4.000 (Rp 520.000) untuk TIMS dan ACAP (masing-masing Rs 2.000)
3. Mengisi form registrasi

Di Counter TIMS dan ACAP pertanyaan standarnya adalah kita dari negara mana, sendirian atau grup, trekking ke mana, berapa hari trekkingnya, rutenya akan lewat mana, dan nanti pake guide atau jalan sendiri. Tidak ada keharusan untuk pake guide, jadi kalo kamu emang solo trekker dan jomblo ya jawab aja apa adanya.

Jangan kesorean ke kantor NTB, counter TIMS tutup jam 4 sore dan counter ACAP malah jam 3. Kalo terlanjur tutup, terpaksa ngurus besoknya atau di Pokhara. Saya tidak menyarankan mengurus di Pokhara kecuali punya waktu 2 hari di sana, karena bus dari Kathmandu ke Pokhara itu tibanya mepet-mepet jam 4 sore. Kantor NTB di Pokhara cuma buka sampe jam 4.

Counter TIMS

TIMS Card

Counter ACAP

IMG_20171122_175000_HDR

ACAP Permit

Setelah urusan TIMS dan ACAP beres, sisa waktunya bisa digunakan untuk melengkapi kebutuhan trekking.

Thamel adalah surganya toko outdoor. Ada ratusan toko yang menjual segala macam barang yang dibutuhkan trekker, mulai dari yang original seperti The North Face, Columbia, dan Timberland, hingga yang KW atau buatan lokal. Jadi tidak perlu belanja di Indonesia, di sini lebih murah, pilihannya banyak, dan kualitasnya oke. Kecuali sepatu trekking ya, karena sepatu yang masih baru dan langsung dipake trekking bakal bikin kaki lecet atau melepuh. Sepatu trekking sebaiknya sudah berumur minimal sebulan pakai jadi sudah empuk.

Nah, apa saja peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk trekking ke ABC?

Essential

1. Kupluk
Atau apa saja yang bisa menutupi kepala dan kuping biar anget.

2. Buff
Buff ini lebih berfungsi sebagai masker sih, karena Kathmandu yang berdebu, dan jalur trekking yang bau kotoran keledai dari mulai trekking sampe Bamboo.

3. Down jacket
Ini super mega penting banget! Selain kemampuannya menahan dingin, down jacket juga ringan dan tidak menyita ruang dalam ransel. Pilih yang warnanya menyolok biar keren kalo di foto, dan yang bisa menahan dingin hingga -5 derajat celcius. Di Indonesia bisa beli di Uniqlo, harganya sekitar 400 ribu rupiah.

4. Sarung tangan
Jari tangan adalah bagian yang paling rentan dengan dingin. Pakai sarung tangan yang bahannya sintetis seperti kombinasi polyester dan spandex. Produknya Mountain Hard Wear yang original lumayan murah, sekitar Rs 1.200 (Rp 156.000).

5. Warm hiking pants
Dari awal trekking sampe Deurali, ini cuma saya pakai untuk tidur. Dari Deurali sampe ABC, ini dipakai buat jalan juga karena suhu yang semakin dingin. Pilih celana panjang yang bahannya sintetis dan dalamnya ada lapisan bahan penghangat. Saya beli yang merk Jack Wolfskin, harganya Rs 2.000 saja (Rp 260.000).

6. Trekking socks
Kaos kaki trekking itu lebih tebal dan hangat dibanding kaos kaki biasa. Fungsinya biar kulit kaki tidak mudah lecet dan jari-jari kaki terjaga dari suhu yang dingin saat jalan. Jangan pake kaos kaki kantor yang tipis kayak lingerie ya. Di Shona’s Alpine harganya Rs 150 atau Rp 19.500.

7. Sepatu trekking
Ini harus yang benar-benar sudah nyaman, yang sudah pernah dipake jalan jauh dan benar-benar gak bikin lecet. Ingat, kita akan jalan seharian, berjam-jam, selama 7 hari. Produk luar yang saya rekomendasikan adalah The North Face, Columbia, atau Wolverine. Buatan Indonesia yang menurut saya kualitasnya bagus? Eiger.

8. Thermal inner wear
Begitu tiba di guest house, hal pertama yang saya lakukan adalah ganti baju trekking, pake inner wear, pake baju buat tidur, dan jaket. Langsung anget. Setelah Deurali, thermal inner wear ini saya pake juga sekalian untuk jalan. Wajib punya!
Saya beli satu pasang di Shona’s Alpine seharga Rs 2.000 (Rp 260.000).

9. Kaos / upper long sleeve
Dua sudah cukup. Satu buat jalan dari hari pertama sampe selesai, satu buat cadangan. Gak perlu gonta-ganti baju tiap hari. Lebih baik lagi kalo bahannya sintetis dan khusus untuk trekking. Harganya Rs 800 (Rp 104.000) di Shona’s.

10. Hiking pants
Pakai yang bahannya sintetis, ringan, bukan katun. Katun tidak menahan panas tubuh. Celana pendek oke juga sih, tergantung kenyamanan aja. Punya saya buatan Consina, dulu belinya Rp 150.000 saja.

11. Trekking pole
Awalnya saya kurang terbiasa menggunakan trekking pole, rasanya kayak nambah beban aja. Tapi setelah beberapa jam, ternyata tongkat ini sangat membantu mengurangi beban di otot kaki. Satu cukup, satu pasang lebih baik. Trekking pole yang merk Black Diamond harganya mayan mahal, sepasang Rp 650.000 di Indonesia. Alternatif lainnya adalah merk lokalan, paling 200 ribu sepasang.
Oya, kalo mau bawa trekking pole dari Indonesia, ingat bahwa trekking pole itu harus masuk bagasi karena ukurannya lebih panjang dari yang diperbolehkan dibawa ke kabin pesawat. Packing dengan baik, jangan sampai patah.

12. Ransel min. 40 liter + rain cover
Ransel gak perlu besar-besar. Kita tidak sedang naik gunung yang harus bawa bahan makanan sendiri, alat masak, tenda, sleeping bag, dll. Yang penting cukup untuk kebutuhan esensial saja, barang lainnya bisa ditinggal di Pokhara. Semakin ringan ransel kita semakin baik. Ransel kayak Eiger atau Consina menurut saya sudah cukup, tapi kalo mau yang lebih oke, bisa beli Deuter, Osprey, atau Queachua. Fjallraven? Overpriced.

13. Botol minum 1 liter
Kenapa harus 1 liter? Karena di semua guest house tidak ada yang menjual air mineral, melainkan air yang sudah difiltrasi dan sistemnya dijual per liter. Harganya Rs 70-120 (Rp 9.000 – 15.000. Makin tinggi elevasi, harga makanan dan minuman juga akan semakin mahal). Kita bisa pilih mau air dingin atau panas. Makanya bawa botol yang bahannya bagus dan tahan panas, misalnya Nalgene atau Tupperware nyokap. Jangan lupa dibalikin, nanti kamu dikutuk jadi arem-arem.

15. Alat mandi + microfiber towel
Hampir semua guest house punya fasilitas hot shower (kecuali di Jhinu Danda yang punya hot spring, kali hot showernya gak laku makanya gak ada), jadi bisa mandi tiap hari kalo mau. Bayarnya Rs 200 (Rp 26.000) sekali mandi. Terus, kenapa handuknya harus yang berbahan microfiber? Biar ringan, packingannya gak makan tempat, dan cepat kering. Di Tokopedia banyak yang jual, harganya 50 – 100 ribuan rupiah.

16. Kamera
Saya membawa kamera Fuji X70 untuk traveling kemana-mana. Selain kecil dan ringan, kualitas fotonya sudah lebih dari cukup untuk saya. Kekurangannya cuma gak bisa gonta-ganti lensa dan baterenya lebih boros dibandingkan DSLR. Kalo mau bawa drone, kamu harus punya ijin khusus dari pemerintah Nepal. Menerbangkan drone di area Himalaya tanpa ijin itu dilarang, dronenya bisa disita kalo ketangkap. Kalo ketangkap.

17. Powerbank
Bawa powerbank dengan kapasitas besar, misalnya Vivan 18.000 mAH. Charge sampai penuh, lalu simpan dan gunakan saat sudah di ABC yang listriknya makin susah. Guest house sebelum-sebelumnya masih bisa ngecharge handphone dan batere kamera dengan leluasa, tapi di ABC colokannya terbatas, orangnya rame, dan listriknya gak nyala 24 jam karena sumbernya yang cuma dari solar cell.

18. Obat-obatan & P3K
Obat-obatan pribadi, plus Diamox dan Dexamethasone untuk mengantisipasi AMS (Altitude Mountain Sickness). Saya akan membuat postingan khusus tentang AMS ini.

19. Sunglasses
Selain biar keren, kacamata item membantu menjaga mata dari debu dan pantulan cahaya matahari di salju yang bisa bikin snow blind. Merk yang biasanya digunakan pendaki adalah Oakley atau Julbo.

20. Lip balm
Saya kemarin menganggap remeh barang ini. Gengsi juga sih, masak ikut-ikutan Sandiaga Uno pake lip balm. Hasilnya? Bibir saya pecah-pecah, luka, berdarah, dan sakit banget kalo buka mulut pas mau makan atau ketawa. Efek bibir luka ini dimulai sejak hari kedua trekking dan baru sembuh setelah 3 hari balik ke Indonesia. Merk Banana Boat adalah yang sering direkomendasikan.

21. Payung
Jaga-jaga kalo ujan. Pake rain coat ribet. Kelamaan keburu basah.

22. Pisau lipat swiss army
Karena kita gak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan..

23. Sendal jepit
Buat di kamar. Buat ke kamar mandi. Buat boker.

24. Sanitiser dan tisu basah
Karena gak mandi tiap hari, ini menjadi penting.

Optional

1. Bluetooth speaker
Create memories with music. Sambil jalan sambil dengerin album Journey to Nepal. Download deh di iTunes.

2. Tripod
Namanya juga solo trekking. Siapa lagi yang mau megangin kamera kita kalo bukan tripod? Selain itu, kalo kebetulan langitnya bersih saat malam hari, kita bisa main slow shutter dan menghasilkan foto yang keren.

3. Buku
Daripada bengong gak tau mau ngapain di guest house, dining room, atau di kamar, dan terlalu introvert untuk bersosialisasi dengan trekker lain, buku adalah teman terbaik. Bawa buku yang ringan-ringan saja ya, jangan bawa KBBI.

4. Sambal ikan Roa Manado!
Sebenarnya makanan di jalur trekking ini enak-enak aja sih, tapi saya sendiri sesekali butuh ini kalo ketemu nasi goreng yang hambar.

That’s it. Lalu, di mana tempat belanja kebutuhan trekking di area Thamel?

Saya punya rekomendasi toko yang oke banget, namanya Shona’s Alpine. Cari aja di google map pasti ketemu. Banyak review positif tentang toko ini di Lonely Planet, TripAdvisor, dan berbagai blog traveler. Semua yang dibilang di review-review itu terbukti benar.

Tokonya kecil, penuh dengan aneka rupa perlengkapan trekking mulai dari sarung tangan, jaket, thermal underwear, dll kecuali sepatu trekking. Shona, ibu-ibu Nepal pemilik toko ini, sangat paham tentang apa yang akan kita butuhkan dan dia gak akan berusaha menjual barang yang gak dibutuhkan.

Belanja di Shona’s rasanya kayak belanja sambil konsultasi langsung dengan pendaki profesional. Kita bisa nanya-nanya segala macam yang berkaitan dengan rencana trekking kita. Harganya masuk akal, gak perlu tawar-menawar, dan dia jujur. Kalo barangnya berkualitas bagus dibilang bagus, kalo jelek ya jelek.

“So where will you go?” tanyanya.
“ABC.”
“What do you need?”
“Long john, upper long sleeve for trekking, drinking bottle, warm pants, and socks.”
“Okay, i’ll help you pick what’s best for you,” katanya sambil tersenyum lebar.

Kemudian dia mengambil semua barang yang saya sebutkan tadi, lengkap dengan penjelasannya kenapa harus yang ini, kenapa gak perlu yang itu, harganya berapa, dan pilihan-pilihan berdasarkan kualitasnya.

“This one looks good for you,” katanya bersemangat sambil menunjukkan kaos lengan panjang berbahan sintetis yang kelihatannya bakal ngepress ketat di badan saya.

“So you can show your muscle to the girls when you’re in Bali hahaha..” sambungnya lagi. Saya melihat kaos itu, lalu menatap perut saya dengan prihatin, dan terbayang sosok Ruben Onsu.

Shona’s Alpine

Kelar belanja, selebihnya tinggal jalan-jalan di Kathmandu. Saya tidak sempat ke Durbar Square karena malas, jadi hanya jalan-jalan di dalam area Thamel saja sampe malam, balik ke hotel, lalu packing untuk berangkat besok.

Official store The North Face

Dan ternyata salah satu jaket keren di official store The North Face ini adalah buatan Indonesia. Cool!

Thamel Area

Untuk sarapan besok paginya, saya mampir di sebuah toko roti dekat hotel. Semua toko roti di sini ngasih diskon setelah jam 8 malam. Lupa diskonnya berapa persen, yang jelas sebiji roti gede isi coklat yang enak banget harganya cuma Rs 50 (Rp 6.500).

Roti diskonan

Pengeluaran hari ke-dua :
TIMS : Rp 260.000
ACAP : Rp 260.000

Makan siang : Rp 40.000
Makan malam : Rp 80.000
Roti 2 biji : Rp 13.000

Hotel : Rp 390.000
Total : Rp 1.042.000

***

Day 3 : Kathmandu – Pokhara

Dari Kathmandu, kita geser lagi ke Pokhara. Kenapa? Ya karena gunungnya ada di sana.

Pilihan paling nyaman tapi murah untuk ke Pokhara dari Kathmandu adalah naik Tourist Bus tipe standar. Harga tiketnya Rs 1.000 (Rp 130.000) dan bisa dipesan sehari sebelumnya melalui hotel tempat kita menginap. Pilih seat sisi sebelah kanan biar gak panas kena matahari.

Tourist Bus “Global Vacation”

Tourist Bus ngumpulnya di Kantipath Road, cuma 10 menitan jalan kaki dari Thamel. Ingat, semua Tourist Bus akan berangkat jam 7 pagi tepat dan mereka on-time, jadi jangan telat. Usahakan sudah ada di lokasi 30 menit sebelum berangkat. Walopun ada banyak bus yang ngetem di sana dari berbagai perusahaan, mereka semua berangkatnya kompak. Kalo ketinggalan, terpaksa nyari alternatif lain seperti Local Bus (lebih murah tapi kurang nyaman dan nyampenya bisa 10 jam lebih) atau taksi (Rs 10.000 / Rp 1.300.000).

Waktu tempuh ke Pokhara dengan Tourist Bus sekitar 7-8 jam (210 km). Bus akan berenti 3 kali sepanjang jalan, untuk makan pagi, makan pagi menjelang siang, dan makan siang. Ini adalah kesempatan juga untuk ke toilet, karena busnya agak males berenti kalo ada penumpang yang kebelet di tengah perjalanan.

Di Pokhara, semua Tourist Bus akan berhenti di Tourist Bus Station. Dari sini ke Lakeside atau Phewa Lake, area backpackernya Pokhara, jaraknya cukup dekat. Kalo jalan kaki sekitar 15-20 menit, kalo naik taksi Rs 250 (Rp 32.500).

Pokhara adalah kota yang lebih selow daripada Kathmandu. Lebih tenang, damai, dan gak begitu berdebu. Saya menginap di Hotel Love & Light, 5 menit jalan kaki dari Lakeside. Hotel ini sangat saya rekomendasikan karena pelayanannya yang super ramah, friendly, helpful, dan bersih. Toiletnya ada sprayernya, dan ini menjadi faktor penting bagi saya dalam memilih hotel hehe.. Harga per malam di dorm room cuma Rs 700 (Rp 91.000), kasurnya enak, selimutnya tebel, terus hot showernya jalan 24 jam. Oya hot shower juga penting banget, karena tanpa hot shower, rasanya kayak mandi pake aer es. Di Booking.com hotel ini ratenya Excellent.

IMG_20171203_065109

Tourist Bus Station Pokhara

IMG_20171202_151943

Trotoar di area Lakeside, nyaman untuk pejalan kaki

DSCF0776

Lake Phewa atau Lakeside Pokhara

Lakeside area

Hati-hati dengan barang KW. Saya terkejut girang dan langsung niat mau beli saat melihat headlamp Tikka ini harganya cuma Rs 950 atau 120an ribu rupiah (harga normalnya 500 ribuan). Sampai akhirnya saya perhatikan baik-baik merknya…

Dorm room di Hotel Love & Light

Sebagai area backpacker, Lakeside ini juga rame banget kayak di Thamel. Semuanya ada mulai dari cafe, restoran, toko buku, aksesoris dan banyak toko outdoornya, jadi kalo masih ada barang yang harus dibeli, bisa beli di sini. Harganya kurang lebih sama dengan harga di Kathmandu, dan ada official store The North Face-nya juga.

Pengeluaran hari ke-tiga :
Tiket Tourist Bus : Rp 130.000
Taksi dari stasiun bus ke Lakeside : Rp 32.500
Makan siang : Rp 15.000
Makan malam : Rp 30.000
Hotel (dorm room) : Rp 91.000
Total : Rp 298.500

***

Detail perjalanan dari hari ke-empat hingga trekking lanjut ke sini ~> Solo Trekking Annapurna Base Camp Part 2 : Nanjak!

Oya, yang mau nanya-nanya seputar persiapan trekking di Kathmandu dan Pokhara, langsung aja di kolom comment :D

  1. Kaaaak tulisannya apik dan tidak buat boring. Cuma kasih lebih detail lagi dong kak merk2nya. Trus sama kalo bilang keluar uwit 50Rs, langsung kasih tanda kurung sebelahnya itu berapa rupiah. Biar gak ngitung trus di otak x)).

    Like

    Reply

    1. Waah siap kak tiw, thank you masukannya yaa nanti langsung aku edit ^^

      Like

      Reply

  2. Tulisanya keren persiapanya mantap tapi lebih bagus lagi di tambah foto2 di ABC kak.. hehehe

    Like

    Reply

    1. Itu nanti di bagian 2 anak muda..

      Like

      Reply

  3. mantapz diks ragy, tapi kok pulangnya gak mampir sini jadi oleh2nya gak kebagian.. padahal pakaian kotornya sy yg laundry… huft banget deh

    Like

    Reply

    1. Hufttt.. tunggu aku di 2018 kaks

      Like

      Reply

  4. ya Allah, mupeng sangad!

    Like

    Reply

  5. Mantap sekali dek…
    Penasaran dengan part 2 nya.
    Jadi pengen,,, mama2 masih bisa nda e…???
    😊😊😀😀😀

    Like

    Reply

    1. Masih bisa, oma2 saja bisa hehehe

      Like

      Reply

  6. LUAR BIASA komplet mas Regy.
    Aku naksir sama Nepal karena banyak temen yang bilang kalau negara ini fotogenik, mau dijepret kek apa juga bagus.

    Like

    Reply

    1. Thank you oom. Nepal memang fotogenic, di kotanya atau di gunung-gunung sama menariknya :D

      Like

      Reply

  7. Mau nanya, kl pake sepatu eiger cukjp g ya? Udah vibram, waterproof sih… Soalnya adanya yg itu….

    Like

    Reply

    1. Cukup kok, Eiger juga tangguh kalo dari segi kualitas hehe.. yang pake sepatu running pun ada, yang penting sepatunya nyaman dan gak bakal bikin lecet kalo dipake jalan 6 jam sehari

      Liked by 1 person

      Reply

      1. Terima kasih buat infonya, yg ternyata ada juga traveller yg pake sepatu running krn aku juga sdh menyiapkan buat cadangan kalau sampai sepatu tracking ku (camel) malah menyiksa langkah gara2 habis disolin malah jadi keras kurang elastis, mungkin juga karena sdh kelewat tua dan lama tdk pernah dipakai 😦

        Like

      2. Oh iya sepatu running ga masalah, at least kalo bootnya jebol atau kurang nyaman msh ada gantinya. Banyak kok yg pake kets doang naik turun hehe.. good luck utk tripnya mas bambang!

        Like

  8. bagian 2 nya mana gan? bagus tulisannya, ngebantu, soalnya november gw ke sana

    Like

    Reply

  9. woah kak regy, tulisannya menggugah untuk kesana. aku pun ada wacana akhir bulan november ini. lanjutannya yg part II mana nih kaa, ditungguuu

    Like

    Reply

  10. Nungguin part II nya dong kaaak 😀

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: