Berbagi (tentang) Hiu di Kawasi

image

“Gorango bintang itu berbahaya tidak?” tanya saya pada mereka. Serempak, mereka menjawab, “BERBAHAYAAA!”

“Yakin?” tanya saya lagi.

“YAKIIIIN!”

“Tidak.”

Lalu, mereka terdiam. Kaget.

Saya kemudian menjelaskan tentang Gorango Bintang yang menurut mereka beberapa kali terlihat di pantai Kawasi. Anak-anak itu manggut manggut saat tahu kalo makanan Gorango Bintang alias Hiu Paus atau Whale Shark adalah ikan-ikan kecil, bukan orang apalagi perahu.

Saya bersyukur mendapat kesempatan berbagi ilmu dengan siswa-siswi SMP dan SMA Kawasi ini setelah beberapa hari sebelumnya menemukan sirip hiu yang sedang dikeringkan di salah satu rumah warga. Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk berbicara tentang peran hiu dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, dan mereka cukup antusias mendengarkan ocehan saya yang isinya hasil googling sehari sebelumnya hahahaha..

Beberapa dari mereka mengaku pernah makan daging hiu, dan rasanya LEBIH ENAK DARI IKAN DASAR. Whoa, baru tau gue. Dan selama ini, mereka taunya kalo ikan ya ikan, titik. Sekarang saat sirip hiu punya harga, ya siripnya dicari lalu dijual. Bodinya dimakan.

Well, tidak salah. Toh juga hiu belum dilindungi di Indonesia. Lagi pula, melarang tanpa memberi solusi untuk mengganti salah satu sumber penghasilan mereka ya egois.

Yang bisa dilakukan saat ini hanya sebatas edukasi. Efektif atau tidak, yang penting sudah dilakukan. Kata Mahatma Gandhi sih begitu. Atau Cak Lontong ya. Lupa.

Oya, sharing hari itu ditutup dengan pertanyaan menarik dari salah satu siswi SMA, Astitin, “Kenapa sirip hiu yang paling dicari dibanding bagian tubuh lain?”

Saya ingin menjawab, “Dear Astitin, seandainya orang-orang pernah bertemu Mansar Elly dari kampung Saleo, Raja Ampat, mereka pasti akan memburu titit hiu, bukan sirip, karena titit hiu lebih berkhasiat daripada siripnya.”

Advertisements

4 thoughts on “Berbagi (tentang) Hiu di Kawasi

  1. Yah jd masalah perumpamaan titit hiu lebih berkhasiat nggak dibahas di depan mereka? #penontonkecewa hahaha
    Bener banget kalo pelarangan tapi nggak dikasih solusi padahal itu menjadi penghasilan mereka ya sampai kapanpun akan susah diluruskan. Salut deh ma bang Regi yang justru memberi edukasi ke anak sekolah, agar generasi penerus di sana paham tentang akibat perburuan hiu. Lanjutken! :-)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s