Espresso Depresso

Kata @priant_ryder, superhero Indonesia yang sedang naik daun, “Jakarta itu biaya hidupnya murah. Yang mahal adalah gaya hidup.” Saya setuju dengannya.

Dengan prinsip konyol itu, walaupun sedang kere, suatu sore saya sok-sokan janjian meeting dengan teman saya di salah satu coffee shop di Jakarta. Di FX mall, tepatnya. Dan saya hanya punya uang 30 ribu. Benar-benar cuma 30 ribu. Saya tidak punya uang di ATM, saya tidak punya kartu kredit. Totally kere.

Saat keluar dari parkiran motor FX, sebuah pesan singkat muncul di layar handphone.

“Reg, gw agak telat ya, masih OTW. Kira-kira 30 menit lagi. Lo duluan aja nyari tempat.”

Karena saya beranggapan di dalam mall harganya lebih mahal daripada yang di luar, maka saya mencari coffee shop yang terlihat kurang fancy di teras FX. Ada satu yang logo cafenya terlihat murahan.

Saya masuk, lalu duduk di kursi yang terletak di pojok café. Seorang pelayan menghampiri saya.

“Silakan menunya pak.”
“Terima kasih.”

Saya membuka buku menu itu, dan hampir tersedak melihat harga-harganya. Fak. Saya bakal pulang jalan kaki sejauh 12 km dari FX ke Rawamangun kalo gini. Rata-rata harga segelas kopinya lebih dari 30 ribu!

Dalam sekejap, saya merasa begitu sendirian di dunia ini.

“Pak..?”

Suara pelayan tadi membangunkan saya dari hibernasi.

“Sudah siap order pak?”
“Belum mas, masih milih.”
“Baik pak, silakan panggil saya kalo sudah siap,” katanya sembari tersenyum.

Saya mempelajari buku menu itu sekali lagi. Menelusuri menu demi menu untuk mencari yang termurah. And then, i found it.

Di pojok kanan bawah saya melihat tulisan: Espresso ..… Rp 20K.
20 ribu! I have no idea what Espresso is. Pengalaman saya dengan kopi hanya kopi Kapal Api biar gak ngantuk dan coffeemix biar bokernya lancar. Tapi bodo amat. I’ll go with it! Saya siap untuk menjalani pengalaman pertama saya bersama espresso.

“Mas!”
“Sudah siap pesan pak?”
“Iya. Saya minta espresso ya.”
“Pakai milk, foam, atau tidak pak?”
“Nggak usah Mas.” Kali aja kalo pake cream atau foam atau apa lah itu harganya jadi lebih mahal. Gak ah.
“Ada lagi pesanan yang lain?”
“Udah itu aja dulu.” Seolah-olah saya bakal pesan menu lain setelah ini.

10 menit kemudian, pesanan saya datang. Mas-mas pelayan menurunkan bakinya di meja saya, lalu meletakkan sebuah gelas kecil berisi kopi berwarna hitam pekat.

“Silakan Pak.”

espresso

Dafuq is this?

Saya mengamati gelas sloki yang terlihat seperti sloki berisi anggur kolesom cap orang tua itu. Saya menyeruputnya sedikit, kayak orang-orang kalo minum kopi panas lah. Diseruput.

PFFFTTHHH! Pahit!

Dalam pemahaman saya kopi itu seharusnya ada manis-manisnya, menggunakan gelas normal seperti pada umumnya, dan tidak kental seperti vegeta, maka saya menunggu. “Oh, mungkin ini baru bagian intinya,” batin saya. Kayak kalo kita pesen es teh di mall, biasanya kan yang datang segelas teh tawar dan sesloki gula cair. Bayangan saya, ini baru kopi cairnya. Setelah ini akan datang gula dan, i don’t know, aer panas?

10 menit kemudian tidak ada yang menyusul si sloki. Saya mencegat pelayan yang tadi.

“Mas..”
“Ada yang bisa dibantu pak?”
“Tadi saya pesan espresso…”
“Iya..?”
Mendadak saya bingung harus bertanya apa. Si pelayan kelihatan bingung juga.
“Tadi saya pesan espresso, yang datang ini, ini udah ya?”
“Iya pak. Pesanan bapak hanya itu saja kan?”
“Oh.. Iya.”

Jadi ini yang namanya espresso. Sesloki kopi super pahit.

“Kalo gitu saya minta gula.”
“Gula?”
“Iya gula pasir.”

Senyum si mas berubah dari yang tadinya senyum tulus menjadi senyum ngenyek. “Aha! Si bapak ini sepertinya tidak tahu apa itu espresso.”

“Baik pak, sebentar saya ambilkan gulanya.”

Sesaat kemudian dia kembali membawa gula pasir satu sachet.

“Silakan pak,” katanya sambil berusaha menahan senyum ngenyeknya.

Saya menyobek sachet gula itu lalu menuangkan semua isinya ke dalam gelas. Lalu saya terlihat semakin bodoh. Espresso adalah kopi yang sangat, sangat kental. You know what happened after I poured all the sugar in it? That sugar was floating. It’s floating like shit.

Saya mengaduknya pakai garpu karena sendok kegedean. Kopi itu jadi semakin kental. Tambahan gula tidak membuatnya menjadi layak minum seperti harapan saya. Tidak jauh dari situ, seorang pelayan menatap saya dengan prihatin tapi tetap tersenyum ngenyek. Kampret.

“MAS!” panggil saya dengan lantang.

Senyumnya langsung hilang. Mungkin dia kaget lalu gugup karena saya sadar dia memperhatikan saya dan saya terlihat tidak senang. Tergopoh-gopoh dia mendatangi saya.

“I.. Iya pak?”
“MINTA GELAS GEDE!
“Baik pak..”
“SAMA AIR PANAS!”
“Ha..?”

Tiba-tiba bahu saya ditepuk.

“Oi Reg.”
“Eh, bro, duduk.” Teman saya sudah datang. Pelayan tadi bertanya lagi.

“Pak, jadi minta air pan..”
“NGGAK JADI! NANTI AJA. Syuh syuh.”

Jakarta, 2012.

Advertisements

13 thoughts on “Espresso Depresso

  1. Bahahahaha.. kakkkkk ini sama bangettt sama aku. Aku gak ngerti kopi. Asal main pesen espresso. Kok gelasnya kecil. kok pait. Selosorin gulaaa yg banyak.. sejem kemudian jantungku berdebarrrr padahal lagi jatuh cinta aja kagak :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s