Low Back Pain, Musuh Di Balik Pinggang Pendaki

“Mulai sekarang kamu nggak boleh naik gunung lagi. Olahraga lain yang memberi tekanan besar pada pinggang juga sebaiknya jangan dilakukan.”
“APA DOK? Gak boleh NAIK GUNUNG lagi??”
“Iya, nanti low back pain-nya makin parah. Saraf kamu kejepit, jangan diberi tekanan yang terlalu besar.”
Saya lemas. “Terus?”
“Olahraga yang cocok dan nggak berat buat pinggang banyak, kok. Misalnya berenang.”

Masalahnya saya tidak bisa berenang.

Saya shock berat. Itu adalah larangan yang sangat sulit diterima karena saya cinta gunung sejak SMA. Saya bahkan masih menyimpan ambisi besar untuk mendaki Carstensz dan Himalaya suatu saat nanti.

Saya terpaksa menemui dokter saraf itu. Enam hari yang lalu pinggang bagian belakang kanan saya mendadak sakit, dan besoknya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Jangankan bangun, ganti posisi saja susah. Saya harus dibantu orang lain untuk bangun dan ke toilet. Duduk pun rasanya tersiksa sekali.
Nyerinya luar biasa.

Untungnya setelah empat hari sakitnya mulai berkurang, dan begitu kondisi saya membaik, saya langsung menemui dokter untuk berobat sekaligus konsultasi.

“Memangnya gak bisa disembuhkan dok?”
“Bisa, ada dua cara. Fisioterapi, atau operasi.”
“Kalo fisioterapi berapa lama?”
“Bisa bertahun-tahun.”
“Kalo operasi?”
“Mahal.”

Anjing. Tau aja gue kere. Dasar dokter sarap.

“Selama pinggang kamu nggak diberi beban yang besar, aman kok,” katanya lagi.

Memang sih, kebiasaan saya yang suka ngisi barang banyak-banyak ke dalam carrier kalo mau naik gunung adalah tersangka utamanya. Udah berat, jalan jauh, naik turun, kadang manjat, dan kadang lari kalo gak bisa ngerem pas turun gunung.

Saya pernah baca kalo beban maksimal carrier kita tidak boleh lebih dari 1/3 berat badan. Artinya dengan berat badan 65 kg, maka beban yang saya pikul harus kurang 20 kg. Nah, seumur-umur saya naik gunung, belum pernah juga bawa carrier sampe 20 kilo.

“Gaya jalan. Mungkin cara kamu berjalan yang bikin pinggangmu menderita,” kata senior saya di Mapala saat sakit pinggang itu menyerang untuk pertama kali.

“Orang yang nanjaknya cepat, pengen buru-buru sampai, tapi banyak berhenti, duduk, istirahat, lanjut lagi, itu biasanya yang paling rentan dengan cedera pinggang. Beda kalo jalannya pelan tapi stabil, berirama,” sambungnya. “Pinggang kamu menerima beban lebih besar dari berat tasmu yang sebenarnya karena efek kejut, misalnya mendadak berdiri lalu langsung jalan lompat-lompat.”

Jalan lompat-lompat. Emangnya pocong…

“Apalagi kalo udah jalan paling depan, biasanya suka ninggalin teman. Ya kan? Terus istirahat sambil ngeliatin teman nyusul. Dan begitu mereka nyampe, kamu langsung berdiri terus lanjut jalan lagi sambil ketawa ngenyek. Bener gak?”
“Iya sih..”
“Nah gara-gara itu kamu kena karma. Ini balasannya. Rasain.”

Tai.

***

Kembali kata-kata dokter tadi bergema di kepala saya sepanjang jalan pulang ke rumah.

“Hati-hati Reg, kalo kamu ngeyel, nggak percaya dengan saran saya, sakitnya bakal makin sering muncul. Makin rentan. Bukan naik gunungnya yang beresiko, tapi bawa beban beratnya itu. Okay?”
“Okay dok.”
“Deal ya, stop naik gunung. Pokoknya berhenti. Pensiun.”
“Iya dok.”
“Good. Semoga kita nggak ketemu lagi ya.”
“……………”

Saya menyandarkan kepala saya di kaca jendela taksi. Kelip lampu malam membaur dengan cahaya jalanan yang benderang. Pikiran saya melayang-layang.

Saya bahkan belum sempat mengucap selamat tinggal dengan aroma pohon pinus di pagi hari.
Dengan seruput kopi sembari menyaksikan kabut turun perlahan menutupi lembah.
Dengan tusukan angin dingin yang sesekali bercampur bau belerang.
Dengan bunyi binatang malam yang bersahut-sahutan.
Dengan hangatnya tenda.
Dengan semuanya.

 

 

 

 

 

 

Saatnya menggunakan porter.

Advertisements

13 thoughts on “Low Back Pain, Musuh Di Balik Pinggang Pendaki

  1. besok² kalo mo naik gunung, carriernya dikirim duluan pakai paket pos JNE atau TIKI, aja.. pasti pas hari H, kamunya bisa lenggang kangkung :D
    #saransuper

    Liked by 1 person

  2. di cirebon ada ahli saraf bagus lho gy, aku udah buktikan sendiri. thn 2010 kmrn ada 3 syaraf kejepit di leher blakang dan ngaruh ke kepala sakitnya sampe aliran darah dan udara ke kepala kosong. sakitnya naudzubillah… kayak org dicabut nyawanya. sakitnya datang tiba2 kadang ilang lalu tiba2 dateng…
    3x urut dsitu alhamdulillah dah normal lagi. ahli syaraf ini kepala sekolah. dl dia belajar dr beberapa pesantren di jatim.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s