Manado Tanpa Itinerary Part 3: Bunaken Yang (Semakin) Mahal

“Reg, lu enak banget ya tinggal di Manado, tiap weekend bisa nyelam di Bunaken!”

Dari Hongkong.

Nyelam di Bunaken itu sejak dulu mahal. Tahun 2010 saja harga sewa kapalnya per hari 650-850 ribu. Belum lagi sewa tabung dan bayar tip untuk orang kapal. Kalo tiap weekend ke Bunaken, bisa dipastikan gaji saya habis di weekend kedua. Di situ kadang saya merasa kere.

Sekarang, tahun 2015, menyelam di Bunaken rasanya semakin mewah. Harga sewa kapal sudah naik dua kali lipat, jadi jangan harap bakal nemu yang harganya dibawah 1,5 juta. Karena diving di Bunaken terlalu mahal dan kami bukan traveler ambisius, kami sepakat untuk diving di pantai Malalayang saja. Cukup menyewa tabung 75 ribu, pinjam alat di Yodho –instruktur diving saya– lalu nyemplung deh. Yang penting insang basah.

“Ke Bunaken gak usah nyelam kak, aku cuma pengen liat pulau sama pantai Bunaken aja kayak apa. Sekedar syarat aja,” kata Titiw.

Saya sih maklum saja. Sebagai bagian dari 5B, Bunaken memang tidak bisa dilepaskan dari Manado. Masak sudah jauh-jauh ke Manado terus gak ke Bunaken?

“Gini, tiap hari ada kapal ojek yang ke Bunaken dari pelabuhan Manado. Berangkatnya jam 8 pagi, baliknya jam 2 siang. Kita naik itu aja, murah, sekitar 15 ribu per orang. Tapi jadinya gak bisa snorkeling di laut, paling main di pantai aja sama jalan-jalan di pulau. Ok?
“Okay kak,” jawab mereka, sebulan sebelumnya.

Ternyata, saya salah ngasih info.

Kapal ojek memang setiap hari ada. Berangkatnya juga benar jam 8 pagi, pulang jam 2 siang. Harga tiketnya juga hanya 15 ribu. Yang salah adalah: RUTE-nya.

Si kapal ojek berangkat dari Bunaken jam 8 pagi ke pelabuhan Manado, lalu pulang lagi ke Bunaken jam 2 siang! Ya iyalah wong itu kapal ojek penduduk Bunaken yang mau belanja di Manado. Jadi, kalo mau naik itu, harus nginap semalam di Bunaken karena ojeknya balik ke Manado lagi keesokan paginya. Duh.

Untungnya Odre Titiw dan Mahe selow saja waktu saya mengklarifikasi “drama salah info” itu. Mereka maklum, entah kenapa.

“Terus gimana, mau tetep ke Bunaken? Harus nyewa kapal sih yang pasti,” kata saya.
“Ya udah, sewa kapal aja. Udah nanggung gini.”
“Kalo nyewa kapal, sekalian diving aja mau gak?”
“MAU!”

Dasar gak mau rugi.

Sehari sebelum ke Bunaken, saya menelepon Yodho, minta dicarikan kapal. Sejam kemudian Yodho menelepon balik.

“Reg, ada kapal. Ini yang paling murah.”
“Sip. Berapa sewanya?”
“1,5 juta.”
“APAAHHH???”

Hening.

Tau gak sih 1,5 juta itu bisa buat apa?

Tambahin 500 ribu ya. Maaf.

Saya menoleh ke yang lain. Mereka terlihat pasrah, lalu, masing-masing mulai menghitung. Untungnya kami berempat, jadi biaya sewa kapal bisa dibagi jadi lebih ringan.

“Ada temenku juga satu orang mau ikut,” kata Yodho lagi.

Hamdalah! Bisa bagi lima!

Lalu, kami mulai mengajak siapa saja yang namanya terlintas di kepala, yang sedang di Manado, untuk ikut ke Bunaken demi menekan anggaran. Sekilas mirip cara kerja orang MLM. Sayang, tidak ada satu pun yang berhasil kami rekrut. Mungkin mereka mengira akan diprospek dengan kedok diajak ke Bunaken.

***

Ada 13 diving spot di Bunaken. Saya belum menyelami semuanya, tapi memang benar bahwa kondisi terumbu karang di Bunaken saat ini sudah biasa-biasa saja. Dibandingkan dengan Alor, Bunaken kalah telak. Apalagi dengan Raja Ampat. Terkapar berdarah-darah. Penggunaan bom ikan beberapa tahun lalu dan sampah kiriman dari Manado membuat kondisi terumbu karangnya terus mengalami degradasi. Akibatnya, ikan-ikan jadi tidak betah. Mereka jarang kongkow lagi di perairan Bunaken.

Dari beberapa diving spot itu, ada dua yang paling saya suka, Fukui dan Likuan. Di Fukui saya pernah bertemu Blue Ringed Octopus, Napoleon segede kompresor AC, dan Giant Clam. Di Likuan? Penyu, penyu, dan penyu! Maka, saat kapal kami berangkat dari pelabuhan Marina Manado, tujuan kami jelas: Dive 1 Likuan, Dive 2 Fukui.

Berbekal klappertaart dari Cella Bakery untuk sarapan, kami memulai trip hari ketiga yang semakin tidak sesuai itinerary.

***

15 menit kemudian badai menyapa kami.

Awan gelap bergulung-gulung menyembunyikan matahari. Angin kencang datang dari barat, membuat permukaan laut yang sebelumnya tenang menjadi bergelombang. Ombak makin lama makin keras menghantam lambung kapal. Air laut melompat-lompat berebut naik ke atas kapal yang sedang berjuang melawan arus.

“AMANKAN KLAPPERTART!” seru Odre.

Oke.

Karena cuaca tidak memungkinkan untuk turun di Likuan, Yodho meminta kapal masuk mendekat ke pantai Pangalisang, Bunaken Timur.

“Likuan badai, kena angin barat. Turun di Pangalisang lebih aman.”

Benar saja. Begitu kapal masuk ke pantai timur Bunaken, air laut sama sekali tidak bergejolak. Teduh seperti telaga pemancingan lele. Senyum kami yang sebelumnya hilang kembali mengembang. Alat dipakai, kamera disiapkan, masker diludahi.

IMG_3388

Terus terang saya tidak punya ekspektasi apa-apa dengan dive spot ini. Pangalisang masih asing di telinga saya. Bukan hanya belum pernah saya selami, tapi memang sangat jarang orang bercerita tentangnya. Jadi saya menyimpulkan, yaah paling 11-12 lah sama dive site Muka Kampung yang “biasa-biasa saja” itu.

Setelah semuanya siap, kami memencet tombol deflate BCD bersama-sama. Belum semenit turun, saya sudah dibuat takjub.

Pangalisang masih BAGUS BANGET!

Hard coral dan soft coralnya rapat, sehat, cantik-cantik pula. Gerombolan ikan berseliweran di depan mata, dari pelagis sampai anthias. Seekor penyu berenang mendekat, menginspirasi Titiw untuk meniru gayanya.

Ketika @titiwakmar terinspirasi gerakan penyu..

A post shared by Regy Kurniawan (@regykurniawan) on

 

Baru pertama kali turun di dive point Pangalisang, dan ternyata bagus!! #Bunaken

A post shared by Regy Kurniawan (@regykurniawan) on

 

Pangalisang memberi 45 menit bottom time yang sangat menyenangkan untuk kami. Rasanya kayak makan roti warung, eh ternyata isi Nutella. Diving berikutnya di Fukui juga seru, tapi Pangalisang-lah juaranya. Setelah dua dive yang keren itu, kami kembali ke pelabuhan Marina.

IMG_3483

Bunaken mungkin sudah kalah pamor dengan junior-juniornya. Resort-resort diving pun satu demi satu mulai memindahkan investasinya ke perairan lain yang masih “segar.” Tapi, ternyata Bunaken belum tumbang. Masih ada Pangalisang yang menjaga wibawanya. Bersama dengan dive spot jagoan Bunaken lainnya, Sachiko, Raymond’s, dan Alban, mereka membentuk kwartet superhero bernama “PASARAYA.” Ugh.

IMG_3411

***

Memang itinerary kami melenceng jauh dari rencana awal. Bukan melenceng lagi sih, tapi nyasar. Untungnya improvisasi kami malah lebih seru dari rencana asli. Untungnya kami sama-sama gak ambisius dan selow. Untungnya mereka semua adalah travel partner yang sangat menyenangkan. Dan untungnya, kali ini tidak ada drama wisata-nya sama sekali. Minim lah. Nol koma sekian.

Terima kasih atas kunjungannya ke “rumah” gue, gengs! :D

***

Malam itu, petualangan kami ditutup dengan kuliner paling legendaris se-Manado: KFC.

Advertisements

23 thoughts on “Manado Tanpa Itinerary Part 3: Bunaken Yang (Semakin) Mahal

  1. Aaaaaaaa ternyata di foto2nya keren yaaaa.. ini flesdisku belom bisa liat foto2 bunaken. Muahahahahaa.. makasih kak reg ud jd tuan rumah yg menyenangkan. Btw abis kfc dapet bronis jua hamdallah yaaaa :”))

    Like

  2. Halo Ka Regy, salam kenal! Saya lagi merencanakan trip ke bunaken and just passsed by your website. Adakah rekomendasi CP yang kira-kira bisa dihubungi selama di Bunaken? I’ll appreciate that a lot. Terima kasih ya :)

    Like

    • Halo Tata :D

      Wah kalo CP di Bunakennya gak punya, adanya CP temen yg biasa arrange trip diving atau snorkeling di Bunaken. Tapi mungkin dia bisa bantu lah cariin CP utk keperluan trip kamu. Kalo mau, balas via email aja ya di regy@yahoo.com nnt gw kasih nomernya.

      Like

  3. harga sewa kapal yg murahnx di plabuhan calaca,klu di marina plaza kemahalan,atau hubungi langsun sma pemilik kpal itu yg pling murah,contohnx aq cma harga 500.000/kpal untk pergi pulang,ni no aq 081340351560 marwan bunaken,asli orng bunaken,jdi tau sejarahnx tntang bunaken.

    Like

  4. info sewa kpal ke bunaken cma di sini yg murah meriah…..?
    Harga sewa untk speed boat 1-6 orng :
    Rp : 500.000/boat PP
    Harga sewa perahu kaca(katamaran) 1-15 orng
    Rp : 1.000.000/boat PP.
    Ini milik sendiri Bukan pelantara(calo)
    Hb : Bpk marwan Bunaken
    Hp : 081340351560

    Like

  5. Pingback: (Our) Top 3 Honeymoon Destinations in Manado | feby azrian

  6. Pingback: Macam-macam Wisata | shigenohideko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s