Manado Tanpa Itinerary Part 1: Highland Tour!

Okay Reg, jadi itinerary-nya gini:

Hari 1: Nyampe Manado langsung sarapan Tinutuan di Wakeke, city tour, kulineran.

Hari 2: Diving di pantai Malalayang, makan pisang goreng + dabu-dabu, liat sunset, wisata malam dalam kota.

Hari 3: Highland tour, liat pasar Tomohon, lanjut ke Bukit Doa, Danau Linaw, terus ke Danau Tondano, balik Manado dan beli oleh-oleh di Merciful Building.

Hari 4: Pulang Jakarta.

Deal?

“Deal,” jawab saya melalui whatsapp dengan Titiw dan Mahe.

Mahe, suaminya Titiw, adalah pria yang sepertinya sangat teratur. Saya yakin kalo dia traveling semuanya serba terencana. Cocok banget sama Titiw, keduanya terstruktur dengan rapi, kayak Tetris yang dimainkan penderita OCD. Kalo Odre sih santai, tanpa itinerary juga dia gak masalah selama ada agenda mantai dan berinteraksi dengan penduduk lokal. Dia suka sekali berinteraksi dengan penduduk lokal.

Sayangnya saya pelupa. Sehari setelah obrolan itu, saya lupa itinerary mereka. Bahkan saat menjemput mereka di bandara Manado sebulan kemudian, saya benar-benar lupa kita harusnya kemana saja. Tentu saja saya agak gugup, karena menjadi tuan rumah itu tidak main-main. Kalo mereka kecewa, nanti citra Manado sebagai kota pariwisata dunia 2014 akan tercoreng. Beban itu terlalu berat buat saya.

“Jadi pada mau kemana nih?” tanya saya, nekat, saat semuanya sudah di mobil.
“Bebas kak yang penting jangan ambisius banget,” jawab Titiw.
“Iya kak,” sambung Mahe. Mana mungkin dia berbeda pendapat dengan istri.

Fiuh. Saya lega. Mereka sudah lupa dengan itinerary-nya. Atau, mereka pikir saya masih ingat tapi lupa urutannya saja. Selamat tinggal itinerary.

Hari 1

Sarapan tinutuan dan pisang goreng + dabu-dabu di pantai Malalayang.

Dulu sekali tempat ini cuma pantai batu dan ada beberapa warung pisang goreng saja di pinggir pantainya. Kira-kira 2-3 tahun yang lalu, Pemkot Manado bekerjasama dengan salah satu perusahaan teh botol terkemuka di Indonesia, sebut saja Sosro, menata pantai Malalayang dan menyulapnya menjadi tempat rekreasi terbuka untuk masyarakat umum. Maka jadilah kawasan nongkrong paling cihuy di Manado ini.

DSCF9259

Setelah sarapan, kami naik ke daerah Tomohon karena mau diving di Malalayang sudah kesiangan. Lagi pula saat itu hanya Tomohon yang terpikirkan oleh saya.

Waktu melintasi desa Pineleng, perbatasan antara Manado dengan Minahasa, mereka melihat tulisan “MAKAM TUANKU IMAM BONJOL” di pinggir jalan.

“Loh emangnya Imam Bonjol makamnya di sini?”
“Hus, Tuan Kita Imam Bonjol. Iya makamnya di sini.”
“Tuan Kita? Tuanku ah!”
“Yee gak boleh egois. Mau mampir?”
“Mauk!”

Maka terjadilah pelanggaran itinerary yang pertama.

Memang tidak banyak orang yang tahu kalo Imam Bonjol dimakamkan di Minahasa. Beliau meninggal dalam pengasingan oleh Kumpeni pada tanggal 6 November 1864. Bagaimana ceritanya sehingga beliau bisa ditangkap dan dikirim ke Minahasa?

Well, dulu ada satu strategi rahasia Belanda yang licik nan cerdik dalam menangkap para pemimpin perang Indonesia. Strategi luar biasa yang selalu sukses sepanjang buku pelajaran sejarah SD SMP SMA: ngajak berunding. Diajak berunding lalu ditangkap. Twisting.

DSCF9264

Dari makam Imam Bonjol, kami lanjut ke….. air terjun Kali :|

Pintu masuk air terjun ini mudah ditemukan, tinggal nanya-nanya aja sama warga. Jaraknya kira-kira hanya 10 menit dari lokasi makam. Tidak ada retribusi maupun pengelola resmi air terjun ini, bahkan tempat parkir kendaraan pun tidak tersedia. Mobil saya parkir di halaman rumah penduduk dekat pintu masuk.

Jalur turun ke air terjun lumayan menantang dengan waktu tempuh 2 jam bolak-balik. Yang bikin menarik, air terjun Kali punya jembatan ikonik yang fotojenik. Titiw juga menulis tentang air terjun ini di blognya.

Air Terjun Kali

Setelah menembus hutan lebat air terjun Kali, kami lanjut ke tujuan terakhir untuk hari pertama: Danau Tondano, danau terbesar se-Sulawesi Utara yang terkenal karena problem eceng gondoknya.

Danau ini cantik, sayang belum ada viewing point-nya, tempat orang bisa melihat panorama danau dari ketinggian sambil makan Roti Eneng-nya Diana. Uh itu roti yang enak banget, adanya di Pasar Santa, Jakarta. Tapi bukanya cuma tiap weekend aja. Cobain deh. Saya belum pernah soalnya..

Menurut saya, yang paling menarik dari kawasan danau Tondano justru boulevardnya, tempat warung-warung makan Minahasa berjejer hadap-hadapan sepanjang 200 meter di kiri kanan jalan berlatar pemandangan danau. Menu wajib di sini adalah Bebek Woku. Asli enak banget dan pedasnya bikin konsumsi nasi terpaksa ikut meningkat. Sate Kolombi –bekicot– juga enak, tapi kurang berbumbu sih menurut saya.

DSCF9308

Danau Tondano

[Bersambung]

Next: Pantai Tepung Maizena

Advertisements

4 thoughts on “Manado Tanpa Itinerary Part 1: Highland Tour!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s