Pintu Darurat Bergoyang

Oktober kemarin. Saya sedang bersama rombongan divemag yang berbaik hati mengajak saya jalan-jalan gratis ke Raja Ampat. Pesawat kami sudah mengudara sekitar sepuluh menitan. Saya mulai mengatur posisi senyaman mungkin untuk tidur setelah kecapekan nonton konser Metallica di GBK beberapa jam yang lalu. Menurut jadwal, pesawat akan tiba di Sorong jam 6 pagi waktu setempat.

Saat mata saya sudah lengket, mendadak dari pengeras suara terdengar pengumuman, “Para penumpang yang terhormat, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami mengalami gangguan teknis pada pesawat, dan akan mendarat kembali di Bandara Soekarno-Hatta. Terima kasih.”

Semua penumpang bangun lagi. Ada apa? Saya bertanya ke Wira, dia tidak tahu apa-apa. Dia kan bukan pegawai pesawat. Di kursi seberang saya, seorang ibu dengan bayi dalam gendongannya mulai menangis meraung-raung minta turun saat itu juga. Duh bu, Transjakarta aja kalo mau turun harus di halte, apalagi pesawat?

Suaminya berusaha menenangkannya.

Tunggu.

Dari mana saya tahu kalo itu suaminya? Bisa saja mereka hanya teman baik, teman dekat, yang kebetulan pergi bareng-bareng. Tapi, kalo lelaki itu bukan suaminya, terus suaminya kemana? Kenapa istrinya pergi dengan “teman dekatnya?” Ciee yang “teman dekat” ciee..

Dua orang bapak di belakang kursi saya ikut-ikutan panik. Mereka kasak-kusuk nanya ada apa, kenapa turun lagi, kapan terbang lagi, kalo gak bisa diperbaiki nanti penumpang nginap dimana, boleh request tempat nginap atau gak, kalo pesawatnya gagal mendarat kira-kira mati syahid gak, dll.

Untungnya pesawat kembali menjejak landasan pacu tidak lama kemudian. Begitu pesawat parkir, si ibu dan “teman dekatnya” langsung berdiri dari tempat duduk, mengambil semua barangnya di bagasi kabin, dan merangsek ke pintu depan. “SAYA NGGAK MAU PERGI! SAYA NGGAK JADI BERANGKAT! BIARKAN SAYA PERGI!” Ya udah pergi sana…

Dua orang bapak-bapak menyusul mereka dari belakang. Jelas dari belakang. Kalo dari depan bukan menyusul tapi menyusui. Krik.

Setelah mereka turun, dua orang teknisi pesawat naik. Hero banget lah, bawa radio HT pula. Saya selalu ingin bekerja sambil pegang radio HT, kesannya kayak orang penting gitu.

Dua orang teknisi ini masuk ke kabinnya pilot, lalu keluar dengan tergopoh-gopoh menuju ke pintu belakang pesawat. Sepertinya pembicaraan mereka dengan pramugari kurang terkontrol volumenya, sehingga isi pembicaraannya sampai ke telinga saya melalui bisik-bisik penumpang.

Namanya informasi yang disampaikan melalui jembatan keledai, makin panjang jembatannya makin tinggi pula improvisasinya. Awalnya saya hanya mendengar kalo pintu darurat tidak bisa tertutup rapat. Tau-tau ada informasi tambahan, saat di udara tadi pintunya sampe goyang-goyang! Informasi berantai ini terus berjalan hingga kursi depan. Entah jadi apa beritanya di depan sana. “Pintu darurat terbuka karena pramugari bergoyang.”

Untungnya kerusakan ini bisa diperbaiki tidak sampai setengah jam. Pesawat kembali mengudara, kali ini tanpa dua orang bapak-bapak plus seorang ibu beserta “teman dekatnya.” Cie..

Advertisements

3 thoughts on “Pintu Darurat Bergoyang

  1. Hehehe.. “Pintu darurat terbuka karena pramugari bergoyang.” ya ampun :D mending tertunda tapi selamat hingga tujuan..
    Mas, numpang nanya (maaf ya gak nyambung, tapi sedikit nyambung kan karena disebutin Divemag-nya si awal itu;) ), Divemag itu hanya menerima artikel penyelaman di Indonesia saja ya? Tertarik ndak sama penyelaman di luar Indonesia?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s