The Beginning of Drama Jalan-Jalan

14 tahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya tidak merayakan lebaran di rumah. Saya sedang menempuh tahun pertama saya sebagai mahasiswa di Jogja, dan tinggal di asrama Bolmong. Ternyata, lebaran di asrama itu pedih. Selesai sholat ied, tidak ada makanan enak yang menyambut di asrama. Hanya ada kerupuk dan air putih sebagai pengganjal perut, ditambah lagi, semua warung makan tutup. Udah gitu kalo di rumah biasanya kita salam-salaman dengan sodara dan tetangga, di asrama hanya salam-salaman dengan sesama penghuni. 5 menit selesai, lalu tidak ada kegiatan apa-apa lagi. Sepi seketika.

Lebaran pertama saya di rantau selesai sebelum jam 9 pagi. Lalu, saya tidur.

***

Jam 2 siang saya dibangunkan Handri, teman sekamar saya.

“Gy, bangun!”
“Hmh…?”
“Bangun bangun.”
“Kenapa? Ada makanan datang?” tanya saya super malas.
“Bukan, bukan makanan.”
“Terus?”
“Daripada di sini bengong sampe lusa, gimana kalo kita ke Jakarta?”
“Wuih, Jakarta? Ngapain?”
“Jalan-jalan aja.”

Sejak kecil saya belum pernah ke Jakarta. Saya hanya melihat Jakarta dari tivi saja. Saya masih ingat betapa kagumnya saya dengan Aray, teman kelas saya di SMP, yang menghabiskan libur caturwulan-nya dengan piknik keluarga ke Jakarta. Di hari pertama masuk sekolah, dia memamerkan foto-foto liburannya kepada kami semua. Kami takjub. “Gila orang ini kaya banget, liburan aja ke Jakarta. Naik kapal Kambuna lagi…”

Dan sekarang, saya akan ke Jakarta pertama kalinya untuk jalan-jalan! Bayangkan, saya bisa menyamai prestasi Aray dan memiliki foto-foto narsis yang lebih oke di depan Monas, Blok-M, Bundaran HI, dan pintu tol! Pintu tol men, lokasi syutingnya iklan Xon-Ce Elma Thena! AAAAAKKK!

“Oke ayok! Naik apa?” Saya semakin antusias.
“Kereta aja, naik ekonomi.”

Saya tidak punya bayangan kereta ekonomi itu seperti apa. Naik kereta aja belum pernah. Pasti canggih dan modern.

***

Kami tiba di stasiun Lempuyangan jam 4 sore. Kereta berangkat masih sejam lagi, tapi kami sengaja datang lebih awal agar kebagian tempat duduk.

“Beli karcis di mana Han? tanya saya.
“Gak usah. Langsung naik aja, nanti bayar langsung ke petugasnya.”
“Hah emang bisa?”
“Bisa. Kalo beli karcis harganya sepuluh ribu. Bayar di atas lima ribu perak.”

Ebused. Beda harganya sampe lima puluh persen! Pantes PT KAI rugi terus. Sebagai virgo yang tidak suka melanggar aturan, sebenarnya hal-hal seperti ini membuat saya jadi tidak tenang. Kalo ternyata gak boleh bayar di kereta gimana? Kalo tukang tagih karcisnya menolak disogok gimana? Terus kita ditahan polisi karena tertangkap tangan melakukan penyuapan!

“Tenang aja, aku udah biasa kayak gini. Banyak yang bayar di kereta kok,” Handri mencoba meyakinkan saya.

Saya menatap wajah Handri, dia terlihat santai dan sangat yakin. Baiklah, kalo pun ada apa-apa yang penting gak ditendang keluar dari kereta pas lagi jalan.

***

Kami naik ke gerbong kedua, dan langsung menemukan tempat duduk dekat pintu masuk. Saya memperhatikan interior kereta ekonomi itu. Tanpa AC, gerah, penuh dengan penjual, dan bau pesing dari WC. Canggih dan modern. Yeah right.

“Tasnya taruh di atas tempat duduk aja biar tempat duduknya gak diambil orang. Kita turun beli makan sama aqua dulu,” kata Handri. Tempat duduk kami berhadapan dengan sepasang suami istri dan bayi kecilnya. Mereka terlihat bisa dipercaya untuk dititipkan tas.

“Boleh tolong liatin tas kami Pak, Bu? Kami mau turun beli makanan dulu sebentar.”
“Oh monggo mas monggo, nanti saya liatin,” jawab si Bapak.
“Makasih Pak, Bu.”

Karena di kereta gerah, kami baru naik saat pengumuman keberangkatan terdengar dari pengeras suara. Dan astaga, di tempat duduk kami, sudah ada dua orang pria berpostur tegap dan kekar, keduanya duduk sambil menyilangkan tangannya di dada.

Mereka berseragam doreng. Kepala mereka menunduk, mungkin sedang berusaha tidur. Mata mereka tertutup baret merah masing-masing yang berlambang: KOPASSUS. Saya dan Handri berpandangan. “Glek. Gimana ini?”

Sepasang suami istri yang tadi kami minta untuk menjaga tas kami malah pura-pura tidur. Mana mungkin mereka tertidur ketika anaknya sedang menangis meraung-raung. Handri menarik lengan saya, menjauh dari situ.

“Gimana nih? Masak tempat duduk kita diambil?” protes saya. “Ini gara-gara gak beli karcis, akhirnya gak kebagian nomer tempat duduk resmi!”
“Kamu pikir di karcis ada nomer tempat duduknya? Ini kereta ekonomi, bukan eksekutif!”
“Oh gitu.. Terus gimana??”
“Coba kita cari tempat kosong dulu, ayo.”

Kami berjalan hingga ke gerbong paling belakang. Tidak ada tempat duduk yang tersisa. Penumpang yang naik belakangan bahkan sudah mulai menggelar tikar atau koran bekas mereka di lantai, di penghubung gerbong, sampe kolong tempat duduk.

“Ya udah, ayo kita balik, minta tempat duduk kita lagi ke tentara itu,” kata Handri.
“Eh serius? Emang berani?”
“Berani lah! Kan kita duluan di situ! Mentang-mentang tentara, seenaknya.”
“Eh jangan ah jangan, mending kita lesehan aja deket pintu atau di mana gitu yang kosong daripada nyari masalah.”
“Gak. Kita ambil lagi tempat duduk kita.”
“Kopassus loh Han..”
“Terus? Takut?”
Ya iya lah kampret! Mereka disebut pasukan elit bukan karena jago makan combro!

Saya masih berusaha menahan Handri, tapi dia sudah berjalan dengan cepat kembali ke gerbong dua.

Mampus nih. Semakin dekat ke tempat duduk, detak jantung saya semakin cepat pula. Baret merah Pak tentara mulai terlihat mencolok di antara kepala-kepala penumpang lain.

“Ayo!” Handri berjalan dengan mantap. Saya mengikuti dari belakang, masih tidak percaya dengan keberanian Handri. Ini seperti misi bunuh diri.

Handri berdiri di samping “bekas” kursi kami, menatap tajam kedua tentara yang sedang tertidur itu.

“PERMISI PAK!” Handri bersuara agak keras. Fatality in 3.. 2.. 1.

Salah satu dari tentara itu mengangkat kepalanya kemudian menatap Handri dengan SANGAT TAJAM. “Ada apa?” katanya. Suaranya berat, tegas, dan intimidatif. Saya menyaksikan adegan itu dengan tegang. Handri terlihat menelan ludah. Jakunnya naik turun.

“Tadi di sini ada dua tas, tas saya dan teman saya.” Suara Handri terdengar gemetar.
“Iya, tasnya sudah saya pindahkan ke bawah tempat duduk. KENAPA?” tanya Pak tentara lagi.

Handri menarik napas panjang-panjang, saya juga. Kalimat berikut pasti akan membuat kami berdua berhadapan satu lawan satu dengan pasukan elit ini demi memperebutkan tempat duduk. Saya menahan napas.

“Boleh minta tolong dititip di sini ya pak tasnya? Kami mau lesehan di deket pintu aja,” kata Handri dengan sangat sopan.

Eh apa? KAMPREEETTT!

“Oh boleh, tenang aja, aman.”
“Makasih pak.”
“Sama-sama. Ada lagi?”
“Udah gitu aja pak. Permisi.”
“Mari.”

Kami pergi dari situ. Saya jengkel sekaligus lega karena selamat dari maut.

“Nantang Kopassus cuma gara-gara tempat duduk? Udah gila apa?” katanya sambil tertawa lepas. Dasar penipu.

13 jam selanjutnya kami duduk melantai di samping WC bau pesing, dekat pintu kereta yang terbuka, diterpa angin kencang sepanjang malam.

Advertisements

9 thoughts on “The Beginning of Drama Jalan-Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s