Jebakan Toilet

Apa yang kamu lakukan begitu masuk kamar penginapan, hotel, homestay, atau numpang nginap di rumah orang saat lagi jalan-jalan? Kalo saya: NGECEK TOILET. Bagi saya, toilet yang bersih dan nyaman lebih penting dari tempat tidur atau kamarnya sendiri. Saya bisa langsung stress kalo ketemu toilet dengan kloset duduk tanpa sprayer. Kalo shower mandinya pake selang sih, bisa ditarik buat ganti sprayer. Tapi kalo shower-nya yang jenis tanpa selang, mampus lah.

Pernah sekali waktu saya menginap di salah satu hotel di daerah Jimbaran, Bali. Hotelnya bagus, toiletnya juga bagus, tapi klosetnya tipe semprotan misterius. Kloset ini biasanya ada label ECO-nya, eco toilet. Kalo sudah selesai boker, kita tinggal memutar kenop di samping kloset dan keluarlah semprotannya dari belakang bibir kloset. Yang kampret, di hotel ini semprotannya KENCENG BANGET. Asli kenceng banget! Waktu boker pertama kali saya kurang waspada, dan memutar kran semprotannya tanpa prasangka apa-apa. Begitu air menyemprot, saya merasa seperti disodomi spidol.

Toilet lain yang bikin saya gelisah adalah toilet kapal laut. Boker di toilet kapal punya dua tantangan. Yang pertama adalah kapalnya goyang-goyang, yang kedua kebersihannya kurang terjaga. Biasanya sih di dalam toilet ada pegangan buat tangan, jadi kita bisa mempertahankan keseimbangan kalo kapalnya dihantam ombak besar. Tapi tetap saja ada momen ketika kita harus melepaskan pegangan dan menggunakan kedua tangan sambil menjaga keseimbangan, yaitu saat CEBOK. Belum lagi kalo ada yang ngantri dan ngetok-ngetok pintu toilet. AAAARGH!

Tapi di atas semuanya, pengalaman boker saat jalan-jalan yang paling traumatis adalah ketika menjajal WC CUBLUK. Waktu itu saya sedang caving di Gunung Kidul dan nginap di rumah penduduk. Tau sendiri lah ya di Gunung Kidul itu susah air. Tanahnya gersang, saking gersangnya penduduk harus membeli air untuk mandi dan cuci. Demi menghemat air, maka sebagian besar toilet di sana menggunakan sistem cubluk.

WC cubluk adalah wc kering. Kira-kira kayak septic tank yang dikasih lubang di atasnya lah. Jadi tokai kita akan langsung terjun bebas ke bawah, tanpa sistem leher angsa untuk mencegah bau naik ke atas. Kenapa dinamakan cubluk, mungkin karena tumbukan tokai ketika mendarat di bawah bunyinya “bluk!”

Singkat cerita, di hari ketiga perut saya mules gara-gara kebanyakan makan sambal. Saya bertanya ke pemilik rumah, wc-nya dimana. Dia menunjuk sebuah bilik kecil berdinding tripleks tanpa atap di samping rumah. Saya menatap bilik itu dengan curiga karena saya tidak melihat ada pipa air di sekitarnya. Penasaran, saya bertanya ke teman-teman saya yang lain, “Eh ada yang udah boker belom?” Jawabannya seragam, belum ada satu orang pun yang masuk bilik itu. Huft.

Dokter Jun, dokter spesialis diving, pernah berkata kepada saya, “Tidak ada satu hal pun yang tidak bisa ditahan manusia kecuali mules.” Karena sudah hampir jebol, akhirnya saya menyerah dan menyiapkan mental untuk masuk bilik merenung itu. Pintu saya buka, dan….

Sebuah lubang kecil dengan dasar tak terlihat ada di dalamnya. Di samping lubang itu ada dua buah papan, sepertinya untuk tempat berpijak. Karena belum pernah melihat wc cubluk sebelumnya, saya bertanya lagi ke pemilik rumah yang sedang memberi makan ayamnya.

“Pak, ini beneran wc-nya?”
“Iya mas, masuk aja, jangan malu-malu,” katanya. Dih, siapa juga yang malu-malu.

Saya mendekat lalu menatap lubang kecil berdiameter kira-kira 15 cm itu dari luar pintu. Lubang yang misterius. Lubang yang mengundang rasa penasaran saya untuk melongok ada apa di dalamnya. Itulah manusia ya, yang seharusnya jangan dilakukan tetap dilakukan juga. Mirip lah kayak film horor, kalo liat ada setan, bukannya kabur malah penasaran pengen ketemuan. Akhirnya saya menyesal sendiri.

Di dasar lubang yang dalamnya sekitar dua meter itu terhampar berbagai jenis dan warna tokai. Gas metan yang dikeluarkannya menghantam penciuman saya dengan sangat dahsyat, membuat perut saya semakin bergejolak. Sebenarnya saya ingin lari dari kenyataan itu, tapi nanti si bapak pemilik rumah tersinggung. Demi menghargai perasaan si bapak, saya mengalah. Namanya juga tamu, kalo disuguhkan minuman ya harus diminum, kalo disuguhkan wc ya harus boker.

Saya menutup mulut dan hidung saya dengan kaos, menyalakan lima batang rokok agar baunya bercampur dengan asap, lalu saya jongkok dan mempersembahkan hasil pencernaan saya, bergabung dengan koleksi tokai di bawah sana. Itu adalah 5 menit terlama dalam hidup saya. Saya menatap langit dan bersumpah untuk tidak akan pernah boker di wc cubluk lagi. Saya akan menghindari segala jenis petualangan dan jalan-jalan di daerah karst Gunung Kidul. Tidak akan pernah.

***

Tahun 2006 Jogja kena musibah gempa. Saya menjadi relawan untuk urusan Air dan Sanitasi selama masa tanggap darurat. Tugasnya adalah membantu menyediakan air bersih dan sarana WC DARURAT untuk pengungsi. Di mana daerah kerja saya? Yap, Gunung Kidul :|

Advertisements

18 thoughts on “Jebakan Toilet

  1. Wahahahahahaa faaakkk kaaak selain kamu pembawa sial trip.. kenapa per eek an itu nampaknya akrab nian dengan dirimu yaaa.. aku pernah di makassar. Lagi bertandang rumah sodara jaoh. Mules. Eh tempat eeknya ditutup bilik bambu gitu. Udah kotor.. dan wc jongkok seadanya yang susah disirammm. Jadi disiram. Eeknya naek lagi. Siram. Eek naek lagi. Siram. Eek tambah naek. Hampir tumpah. Oh aku belon bilang ya kalo ambil aernya aer sumur. Jdi udah pake usaha nimba.. eh gak masuk2 pula eeknya. Lama2 berbaur sama air. Airnya jd kekuningan. Trus tiba2 pintu diketok. Mamaku ud mau pulang. Akhirnya aku pasrah kak. Aku tinggal. Mungkin sodaraku itu akan selalu mengenangku menjadi si anak yg eeknya mengambang dan berbaur..

    Liked by 2 people

    • MWAAAHAHAHAHAHAHA!!!

      asli itu bikin frustrasi kak apalagi di rumah orang huahahahaha…

      kalo ketemu problema kayak gitu, biasanya aku tunggu aernya turun trus gelontor pake aer seember kecil. pernah gagal sih, trus aku dorong pake sikat wc abis itu sikatnya aku buang mwahahahaha

      Like

  2. Hastagah jam segini aku ngakak nggak jelas gara-gara postingan eek. XD.

    Jamban cubluk itu biasanya ada penutup lubangnya, biar baunya nggak kemana-mana. Meski kalau lagi eek ya tetap kecium karena kan lubangnya dibuka, haha.

    Aduh, aku masih ketawa karena komen yg pertama, soalnya pernah ngalamin. Pasrah aja gitu menyerah tak berhasil menyiram eek, gara2 jambannya. Hih!

    Like

  3. Okay…jd ceritanya aku SEDANG mengalami “pup ngambang” dan bingung cara mengatasinya. Aku browse eh muncul ini. Setelah baca komen ternyata bnyk tmnnya. Jd ini gmn? Udh disiram g mau. Udh dorong pk sikat msh ada jg. Udh dr sejam lalu. Untung penghuni rmh lg pd tidur. Matilah aku kl smpe jam 1 nanti blm jg mau turun. Aoa daya….ide terakhir sih: cari ranting + kresek :|

    Like

      • Waduh kacau abis x))
        Udah coba gelontor pake aer seember langsung ke lubang klosetnya? Biasanya si barang bukti langsung masuk tuh, kecuali septic tanknya penuh dan kyknya itu yg terjadi…
        Kalo msh gagal, diamkan dulu 30 menit sampe air yg tadi udah meresap ke septic tank, baru gelontor lg.
        Bused deh ini tips super absurd hahaha…
        Semoga sukses!

        Like

      • Halo hahahaha bego bgt ya aku :|
        Udh nunggu 2 jam lho yg kemaren itu, ttp ga bs. Akhirnya pake plan B deh. Very very veryyyyyy bad. Aku dr yg waktu itu, baru bisa pup sekarang.
        4 hari bro. Trauma. And..masih di rmh mertua.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s