Berburu Manta di Raja Ampat

5 September 2013

Saya memencet tombol inflate BCD saya dengan enggan. Sesaat kemudian saya sudah terapung di permukaan laut Raja Ampat, tepat di atas titik penyelaman “Manta Point.” Saya tidak bisa menyembunyikan wajah kecewa saya karena sore itu, setelah menunggu selama sejam di kedalaman 15 meter, dia tidak datang juga. Sejak pertama kali menyelam pada tahun 2010 saya memang belum pernah sekali pun bertemu dengan Manta Ray, si raksasa laut yang anggun. Makanya saya kuciwa.

Malamnya, setelah selesai makan kami briefing untuk rencana penyelaman besok harinya.

“Jadi besok mau kemana Reg? Mau manta point lagi atau ke wreck?” tanya Riyanni.

Saya bingung. Pertanyaan ini benar-benar sulit untuk dijawab. Lebih membingungkan daripada makan buah simalakama.

“Err… Manta atau wreck yaa… Wreck aja deh. Eh manta aja deh. Eh gak tau deng, terserah.”
“Manta aja? Lo kan belum pernah liat manta?”
“Iya manta aja.” Jawab saya pasrah.
“Yakin gak mau liat wrecknya?”
“Ya udah wreck aja.” Ini juga jawaban pasrah.
“Woi labil woooii..”

Sampai di sini saya mendadak teringat dengan sebuah cerita tentang cowok dan cewek yang mau makan.

“Mau makan apa?”
“Terserah.”
“Emm nasi padang?”
“Gak ah bosen.”
“Gado-gado?”
“Duh lagi gak pengen.”
“Steak?”
“Ah jangan steak dong, yang lain aja.”
“Ayam goreng?”
“Ayam lagi ayam lagi.”
“Angkringan?”
“Gak sehat.”
“TERUS APA DOOONG?”
“Terserah.”
*Bunuh diri.*

Karena gak mau dicap labil, akhirnya dengan mantap saya katakan:

“Pagi manta point, siang wreck!”

Eh dikabulkan. Hahahahaha…

Rencana pun disusun. Pagi-pagi jalan dari resort, turun di manta point, terus ke kampung Arborek buat makan siang, abis itu turun di wreck. Hati pun riang.

***BESOKNYA***

Kami kembali berada di atas titik penyelaman Manta Point. Laut pagi itu sangat teduh, seteduh wajah Rafika Duri. Saya mengenakan dive gear saya, melompat ke laut, lalu turun ke kedalaman menyusul Om Saka, dive guide kami yang sudah duluan nyemplung.

Dive point ini adalah cleaning station Manta Ray, tempat dia biasanya mondar-mandir sambil bersihin parasit di tubuhnya. Disini geng ikan tukang bersih-bersih berkumpul. Mereka berenang di sekitar Manta sambil curi-curi gigit parasit yang nempel.

Saya tiba di dasar laut lalu berlutut di luar batas “area pengunjung,” menunggu lagi seperti hari kemarin. Para guide Raja Ampat membuat semacam “boundary” bagi mereka yang ingin menonton Manta. Boundary ini berbentuk melingkar, di dalam area boundary itulah Manta Ray biasanya berdiam sambil bersih-bersih parasit. Diver dilarang melewati batas itu kalo nggak mau Manta-nya kabur.

Menanti apa yang dinanti

Menanti si ganteng

15 menit berlalu… 30 menit berlalu… Saya bosan lalu mulai menghitung pasir di dasar laut. 40 menit kemudian, saya menyiapkan hati saya untuk kecewa lagi. Dan akhirnya saya pergi dari ruang tunggu itu, jalan-jalan di sekitar sambil motret-motret pasir. Ngambek.

Mood yang sudah jelek membuat saya semakin malas untuk mencari objek lain. Kamera dan strobe saya matikan. Saya hanya berputar-putar di sekitar boundary sambil menonton Wira yang sedang belajar membuat gelembung udara berbentuk buah hati. “Untuk Gigi,” katanya. Jiyeee Wira jiyeee..

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tiba-tiba di tengah suara gelembung udara buah hati yang keluar dari regulator Wira, saya mendengar sesuatu.

“TING TING TING TING TING!”

Suara pointer beradu dengan tabung selam! Apakah ada sesuatu? Apakah ada Ayu Ting Ting? Atau tukang es mambo?

Saya bergegas menuju ke arah datangnya suara itu, ternyata Om Saka sedang heboh sendiri sambil memanggil-manggil kami semua. Jangan-jangan yang dilihat dia bukan Manta lagi tapi Naga, hebohnya ngegas banget.

Saya tiba di dekat Om Saka, dia dan Pinneng memberi kode bahwa ada sesuatu yang sedang bergerak ke arah kami. Saya menajamkan penglihatan saya, kira-kira 20 meter di depan ada sesosok piring terbang warna hitam yang sedang bergerak lambat. Bukan, bukan piring terbang. Lebih mirip… wajan terbang? Ah bukan. Sosok misterius itu terus bergerak maju, mendekat, mendekat, mendekat… Samar-samar bentuknya semakin jelas.

DEG! Inikah Manta Ray? Inikah pari raksasa idola saya?

ANJEEEENG GEDE BANGEETTTT!

Foto! Saya menghidupkan lagi kamera dan strobe saya, mengatur posisi strobe untuk wide angle, lalu bergerak menuju jalur si Manta lewat. Semakin doski dekat saya semakin gugup, grogi, deg-degan. Saya mengarahkan kamera, JEBRET! Frame pertama over exposure.

Saya menurunkan power strobe lalu memotret lagi, JEBRET! Komposisinya kurang pas. Saat akan memotret lagi, posisi si Manta sudah sangat dekat dengan saya. Badan saya kaku. Jari saya tidak bergerak. Saya terhipnotis dengan keanggunannya dan hanya terdiam ketika tubuhnya lewat persis diatas kepala saya. Saya mengalami momen spiritual yang sangat kuat, seperti saat pertama kali mendengarkan lagu “Wintertime Love” The Doors. Napas saya terhenti.

Kamera saya turunkan. Saya memilih untuk menikmati momen itu, tanpa memotret, hanya melihat dan mengaguminya. Sang Manta terus bergerak melewati saya, mengibaskan sayapnya dengan lambat. Saya coba mengikutinya, kicking sekuat tenaga agar tidak tertinggal. Saking bersemangatnya kicking, fins kiri saya patah dan tenaga dorong saya berkurang drastis. Saya berhenti mengejar. Hanya mata saya yang terus mengikuti hingga akhirnya dia hilang dari pandangan saya.

***

Tidak ada satu pun foto bagus yang saya hasilkan pagi itu di Manta Point. Tapi, saya tidak menyesal sama sekali. Saya telah bertemu dengan idola saya, dan itu sudah lebih dari cukup. Merasakan dan meresapi sebuah momen kadang kala lebih berarti daripada merekamnya.

Sampai berjumpa lagi ya mas. Mas Ray.

First encounter. Over exposure!

First encounter. Over exposure!

Second shot, komposisi gagal

Second shot, komposisi gagal

Motret dari belakang sebelum doski ngilang. Dadaaah kakak mantaaa :*

Motret dari belakang sebelum doski ngilang. Dadaaah kakak mantaaa :*

Thanks to Mayang, gue punya foto keren bersama kakak manta ini :D

Thanks to Mayang, gue punya foto keren ini :D

Advertisements

3 thoughts on “Berburu Manta di Raja Ampat

  1. Foto terakhirnya kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen

    *bilang keren sampe bibir memble*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s