Tersesat di Gunung Soputan

“PUSH UP!! PUSH UP SEMUA!!!”

Sayup-sayup saya mendengar suara itu di kejauhan. Di ujung sana. Saya tidak melihat apa-apa selain jalan setapak yang basah karena hujan, memantulkan cahaya bulan yang bersinar lemah dan sesekali tertutup awan. Saya terus berjalan…

***

Dua jam sebelumnya saya dilepas dari pos start untuk jurit malam. Ini adalah salah satu bagian dari prosesi pelantikan anggota Kelompok Pelajar Pecinta Alam SMA 2 Manado, sekolah saya. Sudah 2 hari saya dan 15 orang peserta lain dihajar oleh mentor-mentor kami di Gunung Soputan, gunung favorit saya, gunung yang sudah saya daki lebih dari 30 kali.

Sepotong lilin sepanjang dua ruas jari, dua batang korek api, dan secarik kertas pemantik adalah bekal tiap peserta untuk menempuh jalur jurit malam sejauh 500 meter. Bukan jarak yang jauh, memang, tapi berjalan setengah kilometer di tengah hutan sendirian sangat menyeramkan ‘nyet.

15 orang telah dilepas satu demi satu, dan kini giliran saya. Tepat jam 12 malam.

Saya menyalakan lilin saya. Febry, senior saya yang menjaga pos start, memberi pesan sebelum saya jalan,

“Hati-hati. Jangan liat kiri kanan, kalo ada apa-apa jalan saja terus. Kalo ada yang “ganggu” cuekin aja.”

Bangsat. KALO ADA APA-APA JALAN AJA TERUS? KALO TIBA-TIBA DI TENGAH JALAN ADA PAK JOOP AVE GIMANA? MASAK GAK MINTA TANDA TANGAN? DIA KAN MENPARPOSTEL!

“Udah sana jalan,” kata Febry membuyarkan konsentrasi saya yang sedang bersiap pura-pura mati.

Saya menarik nafas panjang, menatap wajah Febry yang disinari cahaya obor, sambil berharap semoga obornya meledak di tangan. Dengan pasrah saya mulai melangkahkan kaki menembus pekatnya gelap malam yang dilengkapi dengan hujan gerimis. Suara burung hantu di kejauhan menambah horor suasana saat itu. Saya mulai membaca ayat kursi.

Nyala lilin cukup menyilaukan pandangan saya. Kabut tipis mengurangi jarak pandang, menambah tingkat kesulitan jurit malam brengsek ini. Saya terus berjalan dan berjalan mengikuti jalan setapak yang terlihat samar-samar. Lalu, entah bagaimana, tiba-tiba saya telah berada di tengah kepungan pepohonan dan semak-semak tinggi! Saya mundur, sorong ke kiri, sorong ke kanan, lalalalalala jalannya ilang!

JALANNYA ILANG! MANA JALANNYA?

Lilin saya dekatkan ke tanah, berusaha mencari jalan setapak yang baru saja saya lalui. Nihil. Tidak terlihat jalan apa pun bahkan jalan semut. Saya berdiri di tumpukan daun pinus, di tengah semak dan pepohonan, tanpa bisa menemukan jalan yang tadi. Setetes air jatuh tepat di sumbu lilin saya yang semakin pendek. Csss… Lilinnya mati. Saya panik.

Saya mengeluarkan 2 batang korek api dari saku celana saya. Sakunya basah. Koreknya ikut basah. Kepala koreknya juga basah. Saat saya menggeretkannya ke kertas geretan, kepala koreknya ancur. Fak.

Mata saya bergerak otomatis, berusaha mencari tahu ada apa di sekeliling saya. Gelap. Saya melihat ke atas, ke langit, berusaha mencari rasi bintang untuk menentukan arah. Sayang, langit tertutup awan mendung. Kalo pun rasi bintangnya kelihatan saya juga tidak tahu cara membacanya sih. Tapi paling tidak ada satu aksi keren lah di tengah kepanikan itu.

Hanya ada satu cara untuk keluar dari semak belantara ini: Menerobos maju. Kenapa menerobos maju? Karena menerobos mundur tidak lazim dilakukan. Belum pernah ada orang yang bilang “Ayo kita menerobos mundur!”

Didorong rasa panik dan takut dimakan setan, saya menerobos semak belukar dan apa saja yang ada di depan. Kadang tangan beradu dengan ranting berduri, kadang kaki terantuk akar pohon yang dalam imajinasi saya berkembang menjadi betis kuntilanak yang lagi bobok.

Saya maju terus, terlempar ke kiri dan ke kanan karena berjalan tak tentu arah, hingga akhirnya semak dan pohon-pohon kecil semakin berkurang. Sepertinya saya berhasil menemukan jalan.

Sepatu saya bertemu dengan pasir. PASIR! Saya mendekatkan mata saya ke tanah, benar, itu adalah jalan setapak kecil yang berpasir. Tidak ada daun-daun yang menutupi, tidak ada lagi semak yang menghalangi. Saya sudah berada di jalan setapak lagi. Horee!

Saya berdiri dengan gagah, lega, lalu segera berganti dengan kebingungan. Muncul masalah baru. Ke kiri, atau ke kanan? Faaakkk! Saya mengalami disorientasi. Dalam gelap saya tidak bisa mengira-ngira jalan itu dari mana menuju kemana.

Kiri atau kanan?

Orang bijak sering berpesan, gunakan tangan kanan untuk kebaikan dan gunakan tangan kiri untuk cebok. Saya putuskan untuk menghadap ke kanan, lalu berjalan sambil berdoa. Saya melanjutkan jurit malam saya, tanpa penerangan sama sekali sambil merapal semua doa yang saya hafal. Kayaknya doa makan juga ikut kesebut.

Hujan yang turun semakin deras membuat saya basah kuyup. Mungkin sudah lebih dari sejam saya berjalan, bisa jadi 2 jam. Saya hanya mengira-ngira. Jam tangan saya disita sejak hari pertama pelantikan. Tapi, entah kenapa, hati saya berkata, berupaya meyakinkan diri saya, kalo jalan ini jalan yang salah.

Salah, Regy! Kembalilah ke jalan yang benar! Mana mungkin jurit malam sejauh ini tanpa ada pos kontrol sama sekali? Sadar Regy, sadar! Ingat pesan Bang Rhoma, jangan berjalan kalau tiada artinya!

Lebih baik saya salah daripada mengikuti pesan Bang Rhoma.

***

Lelah, basah, dingin, rasa kantuk yang hebat, dan konsentrasi yang sudah pecah membuat akal sehat dan logika saya terlelap. Saya mulai berhalusinasi, melihat 2, kadang 3 orang berjalan di depan saya. Dalam bayangan saya, itu mereka, senior dan para mentor. Saya terus berjalan.

“PUSH UP!! PUSH UP SEMUA!!! JANGAN MENGELUH!!”

Sayup-sayup saya mendengar suara itu di kejauhan. Di ujung sana. Saya tidak melihat apa-apa selain jalan setapak yang basah karena hujan, memantulkan cahaya bulan yang bersinar lemah dan sesekali tertutup awan. 3 orang yang tadi ada di depan saya tidak terlihat lagi. Saya berusaha terus melangkah, tanpa berhenti sedikit pun. Kawan-kawan saya sudah dekat. Sebentar lagi saya akan tiba. Sebentar lagi saya akan bergabung dengan mereka.

Dan akhirnya saya tiba di………….. TEPI JURANG.

DEG!

Saya tidak menyadari jalan yang saya tempuh tadi semakin kecil, semakin menanjak, dan akhirnya habis. Berakhir di tepi jurang yang terlihat dalam. Perlahan kesadaran saya kembali, sedikit demi sedikit. Saya berusaha mengenali tempat itu. Dan seketika jantung saya berdegup kencang, keringat dingin mengalir bersama tetes hujan yang terasa semakin dingin. Ini adalah jalur menuju puncak Soputan!

Segera saya sadar, ini benar-benar jalan yang salah. Jalur jurit malam tidak mungkin mengarah ke sini. Jalur menuju puncak adalah jalur yang berbahaya, dan hanya bisa ditempuh pada siang hari. Saya pernah tersesat di jalur ini beberapa waktu yang lalu, terduduk lemas di persimpangan berjam-jam hingga akhirnya ditemukan oleh Om Pe’, pendaki senior yang menyusul ke puncak karena saya belum kembali menjelang maghrib.

Jalan yang saya lalui tadi hilang gara-gara longsor beberapa bulan lalu. Longsorannya tersambung dengan jurang dalam tepat di bawahnya. Saya bergidik ngeri, membayangkan apa yang terjadi seandainya saya terus berjalan tanpa sadar.

Tanpa ragu segera saya berbalik arah, lalu berlari menuju camp Pinus 2, camp saya. Saya sudah tahu saya ada dimana. Saya sudah tahu harus ke arah mana.

5 menit kemudian saya berhenti.

Capek.

Saya kembali berjalan dengan pelan, berusaha menghemat tenaga yang tersisa setelah berjam-jam berjalan non-stop. Saya merasa ada yang mengejar saya, tidak rela saya meninggalkan jurang tadi. Tidak. Saya tidak akan membiarkan kesadaran saya hilang lagi. Saya berusaha mempertahankan konsentrasi saya, terus berjalan meskipun napas saya semakin terengah-engah. Dan akhirnya, di kejauhan saya melihat sebuah tenda.

Saya tiba di tenda entah-siapa itu, penghuninya sedang tidur pulas. Di samping tenda ada bekas api unggun. Masih ada beberapa batang kayu yang belum terbakar habis. Asap tipis masih mengepul dari balik tumpukan kayu-kayu itu. Baranya masih menyala!

Saya meniup sisa bara itu berkali-kali hingga apinya menyala dan pipi saya bengkak. Satu demi satu ranting dan kayu yang masih cukup kering saya letakkan di atasnya hingga nyalanya semakin besar. Saya mendekatkan telapak tangan saya, menyalurkan panas ke tubuh saya yang menggigil, gemetar menahan dingin.

Camp saya masih cukup jauh. Tenaga saya sudah habis. Saya duduk di depan api unggun, terus melawan dingin yang terlanjur meresap ke tulang dan sendi-sendi.

Sementara itu langit mulai terang. Matahari mengintip dari ufuk timur, mengusir hujan dan memberi warna emas yang benderang kepada awan-awan mendung. Binatang malam telah kembali ke sarangnya. Burung-burung mulai bersiul, menyanyikan lagu pagi yang begitu indah. Seberkas cahaya menembus pepohonan, menerpa punggung saya, hangat. Akhirnya, saya tertidur.

Anjrit serius amat endingnya.

Saya terbangun ketika matahari sudah bersinar terang. Orang-orang di dalam tenda yang kayunya saya bakar masih tidur lelap. Saya berjalan lagi dan berhasil menemukan jalan pulang ke camp saya. Saat saya tiba suasana sudah ramai, panik, dan sedang bersiap untuk operasi SAR. Mereka pikir saya hilang, hahahaha enak aja. Teman-teman saya berlari menyambut saya, memeluk dengan penuh haru, berlinang air mata. Gak deng boong. Mereka memarahi saya karena membuat semua orang khawatir. Hehehe.

SEKIAN.

Advertisements

11 thoughts on “Tersesat di Gunung Soputan

  1. gw jg pernah nyasar waktu acr jurit malam, eh dlam “kenyasaran” itu gw nemuin temen gw yg jg lg nyasar and meratapi sepatunya yg jebol. akhirnya kita bernyasar2 bareng, and begitu ketemu panitia kita di marahin panitia krn kita dikirain lg jalan bareng krn peraturannya hrs jalan sendiri2, puguh lg nyasar berjamaah hahahha…sama pengalaman 15 tahun yg lalu :D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s