Tragedi Pulau Perak

17 Agustus 2013

Dalam rangka memeriahkan ulang tahun kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke 68, saya, Odre, Adra, dan Oke, memutuskan untuk berkontribusi melalui kegiatan positif dan nyata: camping.

DSC_1366Pagi itu pelabuhan Muara Angke super rame. Saat tiba di sana, semua kapal ojek sudah penuh dengan manusia. Kami naik kapal berjudul “SATRIA,” kapal kayu bermuatan 400 orang lebih (padahal kapasitas kapal ini mungkin hanya setengahnya).

Karena tidak kebagian tempat, akhirnya kami berempat duduk di atap kapal. Perlahan, kapal pun mulai bergerak ke utara meninggalkan dermaga Muara Angke dengan perkasa. 10 menit kemudian baling-balingnya nabrak kayu ngambang :|

Mesin kapal langsung dimatikan. Seorang mas-mas dengan air muka tegang mendadak nongol di buritan dengan masker di kepalanya. Anjrit, si mas mau freediving demi nyari tau apa yang terjadi di bawah sana. Seluruh penumpang kagum dengannya. Freediving di Angke adalah sebuah keputusan berani.

DSC_1385

Si mas nyemplung. Semenit kemudian dia nongol lagi, “BALING-BALING BENGKOK!” katanya sambil garuk-garuk. Seluruh penumpang terdiam. Mas-mas freediver tadi naik lagi ke kapal kemudian berdiskusi dengan pak kapten.

“Gimana boy?” tanya pak kapten.
“Baling-baling bengkok capt. Kalo dipaksa jalan ntar kapalnya megal-megol kayak ayam.”
“Kayak bebek maksudmu?”
“Iya bebek. Jadi gimana nih capt?”
“Easy men.”

Pak kapten mengeluarkan handphone kemudian menelpon seseorang, entah siapa. Bisa jadi itu Mamang. 15 menit kemudian sebuah kapal lain bernama “BAHTERA” yang bermuatan sama, 400 orang lebih, mendekat ke kapal kami. Saya melongok-longok dari tempat duduk saya, kemudian melihat kedua kapal ini sudah terhubung dengan tali tambang gede sepanjang 20 meter. What?

DSC_1399

Kapalnya ditarik men!

BAHTERA menarik SATRIA dengan gagah berani. Ini adalah pengalaman pertama saya dan mungkin 99% penumpang lainnya naik kapal yang ditarik dengan tali. Awalnya saya pikir kapal kami cuma ditarik merapat lagi ke dermaga, ternyata enggak. BAHTERA akan menarik SATRIA hingga Pulau Pramuka!

DSC_1443

DSC_1409

Selanjutnya perjalanan kami adalah perjalanan yang sunyi. Tidak ada suara mesin, tidak ada bunyi knalpot yang menyiksa pendengaran. Mendadak perjalanan ini terasa begitu syahdu.

***

Saat kulit saya mulai berbau barbeque akibat terpanggang matahari, kedua kapal ini akhirnya tiba di Pulau Pramuka. BAHTERA coba bermanuver agar SATRIA bisa merapat lebih dulu. Gagal. Mas-mas freediver kembali terjun ke laut sambil membawa tali tambat menuju dermaga. Tiba-tiba dia berhenti. Seorang tante-tante berteriak heboh dari dermaga.

“BERHENTI!” katanya.

Seluruh penumpang kapal tertegun.

Lalu muncul seorang bapak berseragam Dishub dengan wajah pura-pura marah.

“KAPTENNYA MANA?” teriak si bapak. Wajahnya terlihat mata duitan. Dia sudah membayangkan jumlah setoran yang harus diserahkan pak kapten kepadanya. Sang kapten menolak untuk keluar.

“AWAS LHO NANTI DITEMBAK KAMU!” teriak si tante misterius dengan lantang.

Seluruh penumpang tertawa terbahak-bahak.

“SINI MERAPAT!” bapak Dishub yang menurut si tante punya pistol berteriak lagi. Sayang, pak kapten memilih untuk menghindari konfrontasi demi mengamankan penumpangnya dari peluru nyasar dan demi mengamankan isi dompetnya. Kapal batal merapat, lalu ngacir ke Pulau Harapan, meninggalkan bapak Dishub dan tante misterius dalam kekecewaan.

***

Kami akhirnya tiba di Pulau Harapan dengan selamat. Penumpang kapal BAHTERA teriak-teriak dari sebelah,

“Ooi bilang makasih doong udah ditarikin!”

Tidak ada satu pun yang merespon mereka. Semua turun ke dermaga tanpa mempedulikan BAHTERA. Kejam.

BAHTERA. Ini kapal apa rumah tangga sik.

BAHTERA yang dicuekin.

Dari Pulau Harapan kami berempat lanjut ke Pulau Perak, tempat camping kami. Pulau Perak hanya berjarak 20 menit, dan menurut saya ini adalah tempat camping yang keren banget. Pantainya luas, pasirnya putih, dan ada 2 warung yang menjual indomie! Oya, ada sumur air bersihnya juga disini yang kalo malem angker banget.

Camping ground Pulau Perak

Camping ground Pulau Perak

DSC_1641

Setelah mendirikan tenda di pinggir pantai, kami berenang hingga sunset, dan malamnya makan indomie rebus di depan api unggun. Semua berjalan dengan lancar sesuai rencana, hingga saat tidur pun tiba.

Karena tenda yang saya bawa hanya muat untuk 1 orang, saya, Odre dan Adra tidur diluar beralaskan sleeping bag. Oke tidur di tenda karena gak punya sleeping bag, padahal dia Head Hunter. Apa hubungannya coba.

Tengah malam saat kami baru saja terlelap, mendadak hujan turun cukup deras! Kami panik, lalu langsung masuk ke dalam tenda yang ternyata BOCOR. Akhirnya tenda kami tinggalkan lalu lari berteduh di warung indomie. Mas penjaga warung menawarkan terpalnya untuk dipake sebagai shelter. Tapi si terpal harus diambil di sisi timur pulau, “kira-kira 15 menit jalan kaki,” katanya. Saya dan Odre mengiyakan, lalu kami bertiga menembus hutan untuk mengambil terpal itu.

“Ini abis dipake rombongan yang minggu lalu, trus nggak dibalikin. Dibiarin aja disini.” Kata si mas.

Terpal itu masih berdiri dengan kokoh, berbentuk shelter segitiga dengan tali yang terikat kencang di sana-sini. Saya lupa bawa pisau. Akhirnya proses pembongkaran shelter itu memakan waktu 20 menit karena semua ikatan harus dibuka pake tangan. Untungnya hujan sudah berhenti.

Setelah terpal berhasil dibongkar, kami membawanya kembali ke tempat camping. Saya menemukan pohon yang bisa dijadikan tiang ntuk shelter kira-kira 30 meter dari tenda kami. Shelter pun berdiri dengan ganteng. Saat mau memindahkan barang-barang dan tenda ke shelter baru, saya nyelutuk,

“Eh kayaknya gak bakal ujan lagi nih, gimana kalo terpal ini dijadiin alas aja?”
“Setuju.”

Terpal dibongkar lagi, dilipat, lalu dijadikan alas sleeping bag di depan tenda.

Kami melanjutkan tidur.

10 menit kemudian hujan turun.

Dalam keadaan panik, kami segera kembali ke lokasi tempat shelter tadi berdiri lalu memasang terpal, berkejaran dengan hujan yang semakin deras. Karena buru-buru, kali ini shelter berdiri kurang rapi. Bodo amat, udah ngantuk ini. Seluruh barang dan tenda kami pindahkan, lalu matras dan sleeping bag dibentangkan di dalamnya. Dan ternyata ada 2 sarang semut yang langsung heboh begitu shelternya kami alasi.

Hujan kembali reda.

“Ah udah lah, tidur diluar aja daripada dikerubutin semut. Udah gak ujan juga.”
“Iya iya.”

Sleeping bag dan matras kami gelar lagi diluar shelter, lalu tidur dengan lelap.

10 menit kemudian hujan turun.

Kali ini semua emosi. Matras dan sleeping bag langsung dimasukkan lagi ke dalam shelter.

“Eh banyak semut loh..”
“BODO!”
“Pasir-pasir di terpal belum dibersihin lagi…”
“BODO!”
“Terpalnya bocor gimana..”
“BODO! NGANTUK!”

Beralaskan sleeping bag yang sudah basah kena hujan dan penuh dengan pasir, akhirnya kami melanjutkan tidur. Beberapa ekor semut merayapi kaki, dan tetes hujan membasahi pipi dari terpal yang bolong. Bodo.

Shelter sweet shelter

Shelter sweet shelter

Setelah para campers pulang...

Setelah para campers pulang…

DSC_1636

SEKIAN.

Advertisements

One thought on “Tragedi Pulau Perak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s