Jogging di Bandara

Ditinggal pesawat itu pedih. Selama hidup, saya sudah 3 kali mengalaminya. Sejak ditinggal Garuda tahun lalu waktu mau ke Manado, saya berjanji tidak akan pernah lagi ke bandara saat injury time. Janji anggota DPR. Janji palsu.

***

Waktu itu saya mau ke Kupang bareng Diana. Kita janjian ketemu di bandara jam 03.30 karena pesawatnya jam 05.00 pagi. Saya naik Damri ke bandara. Sayangnya si Damri baru jalan jam 3 pas. Saya mulai deg-degan, bukan takut ketinggalan pesawat, tapi takut dimarahin Diana karena dia galak banget. Axl Rose saja kalo dibentak Diana bisa sujud minta ampun trus langsung baikan sama Slash.

Saya tiba di terminal 1B jam 04.15 dengan jantung yang makin berdebar. Kenapa? Karena kita salah terminal. 1B itu jurusan ke Sumatera, kalo yang ke bagian timur Indonesia semuanya di 1A. JRENG JREEEENG!!

Diana terlihat lega saat saya muncul dengan elegan, dan sedetik kemudian berubah jadi manusia saiya super setelah tahu kalo kita salah terminal. Akhirnya pagi itu saya dan Diana jogging sambil mendorong troli bermuatan 2 set divegear dan koper segede harapan dari 1B ke 1A.

Bersimbah peluh, kami tiba di counter check-in Singa Terbang. Katanya gate udah ditutup, gak bisa check-in lagi. Tapi berkat bujuk rayu dan jurus tatapan sakti kami berdua, kami diperbolehkan boarding dengan catatan BARANG DIBAWA KE KABIN. Joging menuju pesawat pun berlanjut.

Tau gak koper diana segede apa? Segede meja makan. Beratnya 25 kg pulak. Petugas di gate ruang tunggu terperanjat saat melihat koper segede meja itu saya masukkan ke scanner mereka. Asli, ukurannya paaass banget buat masuk scanner. Lebih gede 1 cm aja pasti nyangkut. Dan mas petugas itu masih melongo, mungkin dia pikir kami gila. Setelah saya jelaskan kalo kita sudah harus naik pesawat dan bagasi sudah ditutup, terpaksa kami diloloskan. Mukanya masih melongo hingga saat kami lari masuk ruang tunggu.

“Ke Kupang?”
“Iya pak, Kupang. Hosh.. Hosh..”
“Lewat sini pak, eh itu barangnya nggak muat di kabin, harus masuk bagasi.”
“Tapi bagasinya udah ditutup bukan, pak?”
“Bisa, nanti kami yang urus.”
“Ok makasih pak.”

Saya menyerahkan gear bag saya dan koper raksasanya Diana ke mas petugas.

“Per tas kena biaya seratus ribu ya pak,” kata mas petugas.
“Hah?” Saya melongo.
“Jadi totalnya dua ratus ribu pak.”
“Hah?” Saya masih melongo.

“Udah gak apa-apa, daripada gak berangkat,” bisik Diana.

“Ok pak, bungkus.”

Gear bag dan koper kami tinggalkan beserta uang dua ratus ribu ke mas petugas. Kami lari ke pesawat, dan menjadi dua penumpang terakhir sebelum pintu pesawat ditutup. Huft.

***

Setelah seminggu lebih di Alor dan Kupang, saya mendapat penugasan ke Jambi dari kantor. Karena musim liburan, semua penerbangan ke Jakarta penuh. Mau lewat Surabaya, Denpasar, Makassar, Tokyo, penuh semua. Proses pencarian tiket untuk ke Jakarta ini sangat dramatis. Pas buka di internet, masih ada 1 seat Merpati seharga 2,5 juta. Pas mau booking, abis. Lion sold out. Sriwijaya juga. Batavia apalagi, udah bangkrut. Satu-satunya harapan tinggal Garuda, dan ternyata penuh juga.

Di basecamp Jakarta, tombol refresh terus dipencet. Akhirnya, jam 1 malem ada 1 seat available. Garuda. Bisnis. Deg.

Sebuah bbm dari Jakarta masuk ke HP saya.

“Tiket udah ok, pake Garuda. Bisnis.”

Abis itu, bukti transfer menyusul masuk ke HP. Harga tiketnya: Rp 5.990.000,-

ANJRIT. 6 juta men! Itu tiket seharga kamera DSLR baru, kalo dipake ngetrip bisa LOB ke Komodo, kalo dipake mabok bisa buat berdua!

Begitulah. Saking pentingnya tugas ke Jambi ini, tiket 6 juta juga dibeliin. Tambah lagi tiket sejuta buat Jakarta-Jambi, tapi pake Singa Terbang, bukan Garuda.

***

Jam 2 siang saya terbang dari Kupang ke Denpasar. Dari Denpasar terbang lagi ke Jakarta. Naik bisnis emang asoy. Masuk pesawat duluan, trus disapa mbak-mbak pramugari dengan senyum manis tapi palsunya, “Selamat datang pak Regy di pesawat kami,” tau aja nama saya. Udah gitu saya disangka bos-bos atau anak menteri. Pas udah duduk manis, seorang bapak bertampang rektor datang trus duduk di samping saya. Eh doski langsung memperkenalkan diri.

“Sore pak.”
“Sore,” jawab saya.
“Saya Agus pak dari Surabaya,” tangannya terulur menjabat tangan saya.
“Oh, iya, hehehe. Saya Regy pak dari planet Namec.”

Setelah itu tidak ada obrolan yang tercipta. Mungkin pak rektor terlanjur ngeliat sendal New Era dekil saya. Kayaknya dia batal mengira saya anak menteri, huh, paling juga upgrade dari kelas ekonomi.

photo (2)

***

Pesawat saya selanjutnya dari Jakarta ke Jambi terbang jam 19.00 di terminal 1B. Saya mendarat di terminal 2F jam 18.00. DEG.

Di pintu keluar saya ganti tas. Rudi sudah standby dari jam 5 sore disana, gear bag dan tas kamera saya titipkan ke dia. 1 tas isi laptop dan beberapa lembar baju sudah cukup buat ke Jambi. Saya ngelirik jam tangan, 18.15 WIB. Ayok lah kita lari sore-sore.

Pas mau lari ke 1B, sayabaru sadar, terminal 1 dan 2 itu beda lokasi. Seberang-seberangan. Jauh banget men, kalo lari mungkin nyampenya sejam kemudian. Akhirnya saya nyegat taksi, Gamya, yang sebenarnya gak boleh naikin penumpang di bandara. Pak supir bingung gara-gara taksinya saya hadang trus langsung naik, kemudian langsung tancap gas begitu saya bilang, “50 ribu ke terminal 1B pak!”

Begitu tiba di counter check-in, sebuah pengumuman terdengar dari pengeras suara Bandara.

“Perhatian. Panggilan terakhir untuk para penumpang Singa Terbang jurusan Jambi, dipersilakan segera naik pesawat.”

DEG. Pasti sayabakal ditolak nih.

“Pak saya mau check-in ke Jambi.. Hosh.. Hosh..”
“Wah nggak bisa pak, sudah tutup.”
“Hah? Pak minta tolong banget pak, saya harus ngejar pesawat ini.”
“Mohon maaf pak, sudah tutup. Silakan lapor ke kantor kami aja untuk penerbangan berikut.”
“Tapi ini penerbangan terakhir pak, saya udah harus ada di Jambi malam ini. Tolong pak..” Saya pasang muka memelas kayak Acha Septriasa kebelet mencret.
“Nggak bisa pak, ini sudah last call.”

Saya belum menyerah. Saya coba membujuk semua petugas disitu.

“Saya gak bawa bagasi kok pak. Nanti selesai check-in saya langsung lari ke pesawat.”

Si petugas diskusi dengan teman-temannya, salah satu mungkin atasannya, dan kembali dengan jawaban yang sama. Nggak bisa.

Kampret. Kalo dari tadi udah dikasih masuk mungkin saya sudah duduk di pesawat. Lagian, kalo saya gagal naik pesawat malem ini, sia-sia semua perjuangan nyari tiket dari kemarin. Sia-sia juga tiket seharga 6 juta itu. Saya bisa dibedah tanpa anestesi nih sama si bos.

“Pak saya udah check-in kok, cek aja kode booking saya,” kata saya mencoba peruntungan kali aja udah di-chek-in-kan sama kantor.

Mas petugas langsung ngetik-ngetik trus mengamati layar komputernya dengan serius.

“Oh iya, sudah web check-in. Sebentar pak.”

HAH? HOREEEEEEEE!!! PAK PILOT TUNGGU AKUUUU!!!

Akhirnya, boarding pass saya ditulis manual, pake bolpen.

photo

Saya langsung beli airport tax, ngucapin beribu terima kasih sama para petugas Singa Terbang, terus lari ke pesawat diiringi satu petugas. Waktu udah mau nyampe, mas petugas berbisik,

“Pak, kalo bisa ada uang kopi lah buat teman-teman..”
“Ha? Oh ok ok.. Hosh.. Hosh..”

Saya lari sambil ngeluarin dompet, ngambil 2 lembar lima puluh ribuan, terus menyelipkannya di tangan si petugas.

“Makasih pak.”
“Sama-sama pak.”

Di tangga naik ke pesawat kami berpisah. Si mas melambaikan tangannya. Saya terharu. Terharu melihat I Gusti Ngurah Rai berpindah tangan…

Advertisements

8 thoughts on “Jogging di Bandara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s