[Bootcamp] Karapan Ayam di Desa Mantar

Sebenarnya desa Mantar, Sumbawa Barat, lebih dikenal sebagai lokasi syuting film Serdadu Kumbang. Di desa inilah film Serdadu Kumbang syuting. Jadi, desa Mantar terkenal karena film Serdadu Kumbang. Berkat Serdadu Kumbang desa Mantar terkenal. Serdadu Kumbang syutingnya disitu. Udah eneg belum?

Desa Mantar terletak di ketinggian 630 mdpl. Kurang dingin sih untuk bisa dibilang sebagai daerah puncak, tapi kabut tebal masih suka mampir disini. Rumah-rumahnya dibangun seragam dengan luas petak tanah yang sama sehingga terlihat rapi. Tidak ada rumah yang lebih mewah daripada rumah yang lain, dan tidak ada yang halamannya lebih luas daripada yang lain. Komunis.

DSC_0640

Konon, nenek moyang warga Mantar adalah bangsa Portugis. Pada tahun 1814 kapal mereka terdampar di pesisir pantai di bawah bukit Mantar. Mereka yang selamat naik ke puncak bukit, dan sejak saat itu menetap disana.

Nah, selain “pohon harapan” yang ikut terkenal karena film Serdadu Kumbang, ada sesuatu yang lain yang juga menarik di desa Mantar. Sesuatu itu adalah: KARAPAN AYAM.

Bayangin, ayam di-karapan-in. Karapan sapi? Dimana-mana ada. Karapan kerbau? Nyeh, biasa banget. Karapan ayam adalah karapan anti-mainstream yang cuma ada di daerah Sumbawa Barat dan daerah Utan.

Sebenarnya waktu kami (Team Bootcamp Newmont) datang lagi nggak ada acara karapan ayam. Cuma ada 2 orang anak lagi main bulutangkis dan sekelompok anak kecil main bola. Nah, waktu saya lagi lagi jalan-jalan di lapangan, ada beberapa ekor ayam yang di punggungnya pake hiasan warna-warni, sok centil banget. Padahal mereka ayam jantan. Saya nanya ke abang-abang yang lagi jongkok deket tai sapi.

“Mas itu ayamnya kok dihias? Kayak Syahrini aja.”
“Ooh itu ayam buat karapan.”
“Hah? Ayam? Karapan?”
“Iya. Mau liat?”

Beruntunglah kami, mereka sangat antusias mempertontonkan tradisi balap ayam yang sudah berlangsung turun-temurun sejak jaman leluhurnya.

DSC_0674

Hiasan itu namanya “JAMBO,” tanda kalo dia adalah ayam pembalap. Fungsinya untuk memasang “NOGA”, alat yang terbuat dari rotan berukuran 50-60 cm untuk menyatukan dua ekor ayam. Selain noga dan jambo, ada satu alat lagi yang dipake buat karapan ayam: “LUTAR.” Lutar ini terbuat dari rotan juga dengan ujung yang dibelah dan dikasih rumbai-rumbai dari plastik, fungsinya buat ngarahin arah lari si ayam dan kepret-kepret pantatnya. Bangsat x))

IMG_9564

DSC_0689

Cara mainnya sederhana. Kedua ekor ayam yang sudah pasti tidak sepikiran itu digiring menuju garis finish yang ditandai sebuah patok kayu setinggi 20-30 cm, namanya “SAKA.” Noga, rotan penghubung kedua ayam itu, harus mengenai saka tersebut. Kalo tidak kena, berarti kalah. Kejar-kejaran sama ayam ini yang lucu, kadang bisa sampe jungkir balik gara-gara kepeleset. Jujur saya kasian sama ayamnya, dipaksa untuk seiring sejalan padahal mereka dua-duanya jantan.

Alfons, Mahasiswa-S2-UI-Jurusan-Teknik-Metalurgi-yang-baru-diwisuda-S1-tahun-kemarin-di-jurusan-yang-sama-dan-akan-segera-bergelar-Master-tahun-ini-kemudian-berharap-untuk-menjadi-karyawan-Newmont-divisi-Mining-yang-kalo-ngomong-bahasanya-berat-banget, berhasil menggiring si ayam sampe garis finish dan menyentuh saka dengan noga! Diluar ekspektasi banget, karena kami semua berharap Alfons akan terpeleset menjelang finish lalu jatuh terguling-guling sampe pantai berkilo-kilometer di bawah sana.

IMG_9573

Berhubung penasaran, saya ikutan nyoba. Dua kali nyoba, dua kali gagal. Ayam kampret. Mentang-mentang saya cuman S1 yang lulusnya 8 tahun. Huh.

IMG_9596

Oya, ayam-ayam pembalap ini perawatannya juga spesial. Mereka dilatih secara khusus, baik fisik maupun mental. Ok, latian fisik bisa saya bayangkan seperti apa, tapi latian mental buat ayam gimana coba. Dibentak-bentak gitu? Disuruh push-up? Dibully senior? HAH? HAH???

Selain latian fisik mental, mereka juga latian keseimbangan (ini latian khusus untuk ganda putra yang sudah sehati) dan latian sprint. Nah, sehari sebelum bertanding, biasanya ada ritual tertentu yang dilakukan para pemilik ayam ini. Mereka dimandikan sambil dimanterai, semacam mandi junub gitu. Masing-masing pemilik ayam juga punya ramuan rahasia untuk meningkatkan kesaktian si ayam, bentuknya bisa pil atau minyak ajaib. Yang paling absurd, ayam ini juga diajak ngobrol dari hati ke hati oleh pemiliknya. Kebayang gak dialognya?

“Yam..”
“Iya mas..”
“Besok kamu harus menang.”
“Tapi mas.. Aku gak yakin.”
“Gak yakin gimana?”
“Lawan-lawanku kuat semua..”
“Yam.”
“Iya mas.”
“Kamu juga kuat. Kamu spesial. Kamu jawara.”
“Tapi… Mas..”
“Yam, ingat, with great power comes great responsibility.”
“Apa artinya mas?”
“Percaya diri adalah kunci kemenangan.”
“Emmh.. Tapi doakan aku besok mas..”
“Tentu, itu pasti.”
“Terima kasih mas.”

Desa Mantar yang permai

Desa Mantar yang permai

Advertisements

12 thoughts on “[Bootcamp] Karapan Ayam di Desa Mantar

  1. hahahahahha, sampahhhh…!!! salam buat Alfons-yang-kayaknya-lo-dendam-banget-sama-dia-ahhhh-kenapa-dia-gak-jatoh-ke-pantai-berkilokilo-meter-disana-sik??? njing!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s