[Bootcamp] Cerita Pak Kades

Salah satu agenda dari bootcamp adalah bermalam di desa-desa lingkar tambang. Tujuannya biar kita bisa tau cerita-cerita masyarakat tentang positif-negatifnya tambang sekaligus melihat ada apa saja di desa-desa itu. Biar akrab juga sama masyarakat katanya. Hehehe.

Malam pertama grup saya menginap di desa Aik Kangkung. Tidak ada cerita seru. Malam kedua kami menginap di desa Sekongkang. Ini baru seru.

Malam itu kami mengobrol dengan pak Kades di teras rumahnya. Beliau bercerita tentang betapa desanya belum merasakan keuntungan dari adanya tambang Newmont. Padahal desa Sekongkang berbatasan langsung dengan tambang, istilahnya, berada pada wilayah Ring 1. Lingkar terdalam.

Pak Kades ini adalah karyawan Newmont. Sudah belasan tahun dia bekerja disana sebagai operator di bagian mining. Ketika terpilih menjadi kepala desa, beliau untuk sementara non-aktif sebagai karyawan. Nanti, setelah masa jabatannya selesai, beliau akan kembali lagi ke tambang.

Menurut pak Kades, jumlah penduduk Sekongkang yang terserap sebagai karyawan Newmont sangat sedikit, hanya 20-an orang. Akibatnya kesejahteraan penduduknya timpang. Tidak semua rumah memiliki “perwakilan” di Newmont. Ada juga sih yang kerja di dalam tambang sana, tapi tercatat sebagai sub-kontraktornya Newmont. Mereka maunya kerja di Newmont, bukan di sub-kontraktornya.

Menurut pak Kades, Newmont belum membangun apa-apa di desanya. Kecuali gedung serba guna. Itu kan pakenya jarang, jadi tidak perlu masuk hitungan lah. Oh iya, ada gedung sekolah juga yang dibangun. Tapi itu kan dulu. Oh ada lagi, penambahan bangunan puskesmas. Ah tapi kan cuma penambahan 1 bangunan rawat inap. Eh ada lagi deng, instalasi air bersih. Tapi itu kan bukan khusus desa Sekongkang doang, karena instalasi air bersih yang dibangun di puncak bukit sana itu mengaliri 3 desa, Sekongkang cuma salah satunya. Jadi gak spesial dong.

Menurut pak Kades, Newmont memang memberikan beasiswa untuk siswa-siswa berprestasi. Ada juga yang diberi beasiswa untuk kuliah di luar. Tapi, apa yang terjadi ketika mereka lulus? Tidak ada jaminan bahwa mereka akan diterima Newmont sebagai karyawan. Mereka hanya dibiayai sekolah/kuliahnya plus biaya hidup hingga lulus, setelah itu disuruh nyari kerja sendiri. Kan kasian.

Menurut pak Kades, Newmont tidak pernah mengadakan pelatihan bagi masyarakat desa Sekongkang. Ada sih, tapi pelatihan untuk menjadi wiraswasta. Newmont pernah mengadakan training perbengkelan. Ada juga yang pernah dikirim ikut pelatihan skill lainnya di luar daerah. Tapi kan itu bukan pelatihan untuk memenuhi kualifikasi menjadi karyawan Newmont. Warga selalu terhalang dengan kualifikasi agar bisa diterima di Newmont, dimana mereka tidak memiliki skill yang sesuai. Harusnya, Newmont melatih mereka agar memenuhi kualifikasi itu, bukan melatih mereka untuk berwiraswasta secara mandiri.

Menurut pak Kades, ada calo yang mengatur siapa yang bisa masuk Newmont. Katanya orang dalam. Calo ini biasanya minta fee 60 juta. Jadi kalo ada orang luar yang ingin menjadi karyawan Newmont, bisa menggunakan jasa si calo. Prosedurnya gampang, cukup setor fee sesuai permintaan calo, urus KTP lokal, lalu tinggal di desa lingkar tambang selama kira-kira 6 bulan agar terlihat seperti warga lokal. Status warga lokal dapat mempermudah akses masuk Newmont.

“Jadi kayak masuk PNS dong pak?” tanya saya.
“Iya, asal ada duit, masuk.” Jawab pak kades.
“Calo-nya ini orang dalam?”
“Iya orang dalam.”
“Di bagian HRD Newmont?”
“Bukan, bukan karyawan Newmont.”
“Loh katanya orang dalam pak?”
“Iya tapi bukan orang Newmont.”
“Jadi calo-nya orang mana?”
“Yaa pejabat-pejabat di desa sekitar ini lah.”
“Jadi orang luar?”
“Iya orang luar.”
“Katanya tadi orang dalam?”
“Bukan, aparat desa.”
“Jadi uang 60 juta itu disetor ke orang Newmont?”
“Ndak, itu diambil sendiri sama si calo.”
“Loh bukan buat nyogok HRD-nya Newmont?”
“Bukan.”
“Terus si calo ini ngapain pak?”
“Dia yang lobi ke Newmont untuk masukin orangnya.”
“Pasti lolos?”
“Ndak, kan perusahaan punya kualifikasi calon karyawan. Kalo lagi nggak ada penerimaan ya nggak diterima.”
“Berarti kalo bayar calo belum tentu diterima dong pak?”
“Iya belum tentu.”
“Jadi biar bisa jadi karyawan Newmont harus sesuai kualifikasi perusahaan?”
“Iya….. Tapi bisa juga pake duit.”

AAARRRRKKKK!!!

Obrolan kami malam itu terhenti saat pak Kades pamit untuk memimpin demo bersama beberapa orang warganya. Mereka hendak menuntut pembagian kayu hasil pembukaan lahan oleh Newmont untuk penambangan fase 7..

DSC_0458

Advertisements

4 thoughts on “[Bootcamp] Cerita Pak Kades

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s