Backpacker vs Backpacker Berpemandu

Beberapa hari lalu saya mendapat Broadcast Message via BBM yang menawarkan “Paket Trip Backpacking Murah ke Raja Ampat” lengkap dengan itinerary dan profil singkat pemandunya. Dengan 5 juta per-orang diluar tiket Jakarta-Sorong, kita diajak mengunjungi Wayag, teluk Mayalibit, dan snorkeling di spot-spot keren.

Saya jadi teringat kawan saya yang menyindir gaya backpacking seperti ini. Menurutnya itu bukan backpacking, tapi sama saja dengan paket wisata yang biasa ditawarkan Tour & Travel dan pesertanya adalah Turis. Backpacking sejatinya tidak menggunakan pemandu, tapi mengatur sendiri perjalanannya, lalu bermodalkan sebuah backpack besar dengan biaya sehemat-hematnya mendatangi suatu tempat. Menggunakan pemandu profesional membuat seseorang tidak pantas menyebut dirinya sebagai backpacker. Ikut trip paket membuat seseorang tidak belajar esensi dari backpacking itu sendiri.

Intinya, si backpacker ini keberatan istilah “backpacking” digunakan dengan tidak semestinya. Dia menganggap tindakan para penjual trip ini mencemari sakralnya status mereka.

Seorang kawan saya yang lain, profesional yang menggantungkan hidupnya dari jualan trip pernah berdebat dengan seorang backpacker yang menjelek-jelekkan “paket trip backpacking” itu. Dia kesal, karena kampanye para backpacker itu membuat usahanya susah.

“Kalo mau idealis silakan, tapi jangan menghalangi nafkah orang lain dengan menjelek-jelekkan usahanya.” Kata kawan saya.

“Ya jangan jualan pake istilah backpacking dong, mana ada backpacker pake pemandu wisata.” Kata si backpacker.

Adalah hak masing-masing untuk punya keyakinan terhadap sikapnya. Tapi menghalangi nafkah seseorang yang halal, bagi saya keterlaluan. Apa yang salah dengan paket trip backpacking? Apa mereka membawa dampak negatif pada lingkungan dan masyarakat yang mereka datangi? Atau ini cuma karena istilahnya? Karena pake pemandu? Segitu terlukanya kah hati anda hingga melakukan kampanye negatif tentang ini?

Saya heran dengan backpacker jenis ini. Begitu berapi-api ketika bicara tentang kepentingan masyarakat lokal di tempat wisata yang didatanginya, tapi kemudian menjatuhkan usaha orang lain dengan lebih berapi-api lagi. Cuma karena masalah sepele, istilah. Saya rasa sikap pedulinya pada orang lain itu sekedar pencitraan.

Jadi, sebelum melempar sindiran atau propaganda negatif tentang trip backpacking, pikirkan juga kalo yg jualan punya keluarga untuk dinafkahi.

Fanatik kok sama istilah.

Regy,

Turis.

Advertisements

6 thoughts on “Backpacker vs Backpacker Berpemandu

  1. Fanatik kok sama istilah?! :D
    Nice posting, Bang.
    Sudah bukan saatnya lagi mengotak-ngotakkan pejalan dalam kategori ini itu. Silakan yang jualan trip mau pake istilah backpacking atau apa lah.
    Sama-sama doyan jalan kok kayak kompetisi aja :)

    Like

  2. saya suka sekali dengan artikel yang anda tulis , mantap lanjutkan… saya juga pernah berdebat dengan orang macam itu, “Silahkan kalian jalan sendiri pilih yg bener 2 hemat dari paket trip saya Lombok 3h 2M DC : 2,3 jt + Tiket Pesawat ” atau mau gaya backpacking , ??

    Saya sih sesuai dengan prinsip “The Day is My Holiday” jangan sampai suasana Rusak dan mood jelek gara-gara liburan gak nyaman”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s