Sorga Atau Neraka Raja Ampat oleh @kebobunting

Ini adalah tulisan Diana, rekan setim saya waktu keliling Raja Ampat saat ACI 2011. Tulisan yang jujur dan keren. Kenapa saya taro di blog? Karena saya rasa tulisan ini penting. Dan sayangnya blog Diana udah berdebu (justkebobunting.blogspot.com), jadi daripada gak ada yang baca, ya udah saya taro sini.

***

Siapa yang tidak pernah mendengar Raja Ampat yang terkenal dengan sorga bawah lautnya? Seluruh media, baik cetak maupun televisi, baik nasional maupun internasional, semuanya meliput mengenai Raja Ampat.

Saya melakukan survey kecil-kecilan kepada teman-teman saya. 7 dari 10 orang yang saya tanyakan, menjawab Raja Ampat sebagai dream destination mereka.

Dua tahun terakhir ini, Raja Ampat memang menjadi buah bibir para traveler dan diver di seluruh dunia. Semua orang berlomba untuk dapat berlibur ke Raja Ampat, tidak terkecuali Pangeran Monaco. Tanggal 5 sampai 12 Desember 2010 yang lalu, Pangeran Albert II dari Monaco berserta rombongan mengunjungi  Raja Ampat dan dibuat terpesona akan keindahannya.

Selama 2 minggu lebih menjelajahi Papua Barat, saya melihat betapa kayanya negeri kita. Sebuah sumber daya alam yang membuat iri negara manapun di dunia. Keindahan Raja Ampat membuat para investor asing tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka berlomba-lomba untuk mendirikan resort mewah dengan harga jutaan rupiah permalamnya.

Buat saya tidak ada yang salah dengan semua itu. Saya percaya, betapa mempesonanya negeri kita ini, hingga siapapun yang datang ke Indonesia merasa menemukan ‘rumah’ mereka. Tidak sedikit orang asing yang bahkan lebih Indonesia daripada orang Indonesia sendiri. Kecintaan mereka untuk melestarikan budaya negeri kita dan kekayaan alam Indonesia, patut ditiru dan diacungi jempol.

Tetapi…

Tetap saja ada sesuatu yang mengganjal pikiran saya.

Saya bertanya-tanya, “Mengapa kemajuan pariwisata di Papua tidak berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat Papua itu sendiri?”

Selama 2 minggu lebih menjelajahi Papua Barat, saya melihat seuatu yang sangat kontras dengan semua keindahan dan kekayaan tanah Papua yang saya tulis. Sebagian besar penduduk Papua hidup dalam kemiskinan. Baik miskin secara materi ataupun miskin secara ilmu.

Dengan adanya resort-resort mewah, tambang dan lembaga-lembaga konservasi di Papua, ternyata sedikit sekali kontribusi yang diberikan untuk kesejahteraan penduduk setempat. Kebanyakan kampung-kampung di Papua masih sangat minim sarana pendidikan dan kesehatannya.

Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri.

Anak-anak dengan ingus menggantung di hidung mereka, memakan karbohidrat dengan lauk karbohidrat juga.

Rumah-rumah yang tidak layak dihuni (menurut saya).

Rumah-rumah yang tidak memiliki kakus dan penghuninya harus berjalan ke toilet umum terdekat untuk buang air dan mandi.

Anak kelas 5 SD yang tidak bisa baca tulis.

Seorang anak yang harus berjalan jauh berkilo-kilo meter melewati hutan untuk dapat bersekolah.

Seorang anak yang tidak memiliki ibu karena meninggal saat berjuang untuk melahirkan.

Ah, masih banyak cerita mengenai kemiskinan di Papua, saya bisa menceritakannya sefasih saya menceritakan mengenai keindahannya. Saya seperti menemukan neraka berada di tengah-tengah sorga.

Sepulang dari Papua Barat, saya merasa punya PR yang saya tidak tahu bagaimana menyelelesaikannya. Menurut saya masalah ini adalah PR untuk kita semua. PR untuk pemerintah, PR untuk para investor asing maupun lokal, PR untuk pengusaha-pengusaha tambang, PR untuk para traveler, PR untuk semua yang mengaku ‘Aku Cinta Indonesia.”

Saya di sini bukan untuk menggurui, hanya ingin berbagi.

Mungkin tulisan saya terdengar berlebihan, sok tau, sok idealis atau menjurus ke naif.

Entahlah…. Saya hanya merasa saya perlu untuk menulisnya karena sejujurnya dengan segala keterbatasan saya, tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka kecuali dengan menulis.

Mungkin dengan tulisan ini ada orang-orang yang tergerak hatinya untuk menjadi tenaga pendidik atau medis di Papua?

Atau mungkin ada yang memiliki dana lebih untuk membantu mendirikan sekolah atau klinik di sana?

Atau mungkin dari pemerintah ada yang tergerak untuk meninjau ulang dan melakukan sesuatu mengenai fasilitas pendidikan, kesehatan dan juga lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sana?

Atau para traveler ada yang mau mencoba eco pariwisata berbasis masyarakat lokal di Papua? Seru lho!

Atau mungkin cukup dengan berbagi mengenai tulisan ini di Facebook atau Twitter. :)

***

Sarah Diana Oktavia

Raja Ampat

Advertisements

12 thoughts on “Sorga Atau Neraka Raja Ampat oleh @kebobunting

  1. PR ini pernah diliput oleh sebuah televisi swasta bertajuk INDONESIAKU, yg memang banyak diliatin penduduk Raja Ampat yang jauh dari kata sejahtera, jalan raya nggak punya, air tawar musti diambil bberapa km dari desa dll :(
    Jadi pandangan mba @kebobunting betullll banget, jujur, nggak naif deh.
    Saya bantu share juga bung Regy #ceklik :-)

    Like

  2. hihihi.. judulnya catchy…
    realita yang familiar di banyak lokasi di Indonesia…
    yah saya juga termasuk yang cuma bisa berkicau di dunia maya, paling mentok bikin pidio… *hela napas

    **eh ada halimsantoso[dot]wordpress[dot]com… :))

    Like

    • Iya sih, kyknya dimana2 gini. Cuma utk raja ampat mmg jd lebih miris krn predikat surganya itu hahaha..

      Seandainya ada pidio ttg para pemilik sebenarnya surga itu… #kode

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s