Dilarang Foto-Foto di Bandara!

Manokwari adalah ibukota Provinsi Papua Barat. Kota ini katanya merupakan pintu masuk ajaran Kristen di Papua sejak tahun 1855, dan hingga kini jejak-jejak sejarah itu terlihat jelas di berbagai sudut kota.

Saya mendatangi Manokwari pada bulan Oktober tahun 2011. Ketika itu saya terpilih sebagai salah satu petualang ACI Detikcom dengan destinasi Papua Barat, dan Manokwari adalah kota pertama yang kami datangi. Bandara Rendani, Manokwari, sebenarnya bisa dikatakan sebagai bandara besar. Landasan pacunya memiliki panjang 2 km dengan lebar 30 m. Tapi fasilitas pendukungnya? Ancur.

Begitu masuk di ruang kedatangan yang kecil, tidak ada conveyor belt untuk mengambil bagasi. Yang ada hanyalah sebuah meja panjang, dan seluruh bagasi penumpang ditumpuk disana. Selanjutnya setiap penumpang berlomba-lomba mencari barangnya masing-masing lalu dicocokkan oleh petugas dengan nomor bagasi yang tertera di tiket. Kami juga harus melindungi barang kami dari sergapan porter yang tanpa ba-bi-bu biasanya langsung mikul barang penumpang dan nagih kemudian.

Setelah menjelajahi Manokwari selama 3 hari, kami kembali ke bandara untuk terbang ke Sorong. Saat itu saya melihat betapa bandara Manokwari, ibukota provinsi Papua Barat, benar-benar masih terbatas. Mesin x-ray-nya rusak, dan tongkat ajaib milik security juga tidak ada. Kami masuk tanpa diperiksa sama sekali. Kayak nggak takut bom nyelip di bagasi pesawat.

Di counter check-in, segala sesuatu masih serba manual. Boarding pass masih ditulis tangan, dan timbangan yang digunakan masih analog. Itu pun ada satu yang rusak. Troli? Jangan harap. Kami harus menggotong barang-barang kami yang totalnya 120 kg dari pintu masuk hingga counter check-in.

Saat sedang menunggu panggilan boarding, saya berkeliling sambil memotret isi bandara. Memotret mesin x-ray dengan tulisan “MAAF, TIDAK BERFUNGSI”, timbangan bagasi warisan Belanda, antrian penumpang, dan, jreng-jreng, tiba-tiba saya didatangi seorang pria petugas bandara berseragam Dinas Perhubungan. Sangar.

Pria itu tinggi besar. Usianya mungkin sekitar 40-an. Seperti warga Papua pada umumnya, giginya merah akibat mengunyah pinang. Dengan mata melotot dia membentak saya.

“Ko ngapain?? Foto-foto apa?? Ijin sama siapa???”

Diberondong pertanyaan-pertanyaan itu saya terdiam, terkesiap, tidak tahu harus bilang apa. Belum sempat menjawab, dia membentak saya lagi.

“Ko dari mana?? Keperluan apa foto-foto disini? Minta ijin deng sapa???”

Saya melihat sekeliling. Orang-orang mulai melingkari saya. Wajah si bapak juga semakin dekat dengan wajah saya. Percikan ludah bercampur pinang saya rasakan menerpa wajah saya saat dia membentak-bentak.

“Ko hapus itu semua fotonya, atau sa banting ko pu kamera!!!” Lanjut si bapak sambil mencoba mengambil kamera saya.

Ok. Saya paling anti dengan kalimat “BANTING KAMERA.” Kamera ini ibarat travelmate sejati saya karena telah menemani saya berkelana kemana-mana. Kamera DSLR pertama saya. Kamera yang telah menafkahi saya melalui beberapa project foto. Dan, tiba-tiba ada orang mau membantingnya? Saya menepis tangannya lalu mengamankan kamera saya.

“Maaf pak, saya memang tidak ijin, tapi tidak perlu banting kamera saya. Oke saya hapus foto-fotonya sekarang juga.” Jawab saya sambil memperlihatkan LCD kamera ke si bapak dan menghapus satu demi satu foto-foto yang saya ambil beberapa saat lalu.

“Hapus semuanya! Sa mo lihat!!”

“Wah maaf pak, kalo foto di bandara bapak berhak minta saya hapus, tapi foto selain itu bapak tidak punya hak.”

Lalu dia diam, tidak berkata apa-apa lagi. Mungkin sadar kalau kata-kata saya benar. Setelah semua foto bandara terhapus, saya lalu pergi dari hadapan si bapak itu. Audrey, Diana, dan Mbak Suwasti sama sekali tidak tahu dengan kejadian barusan, mereka asyik mengobrol di pojok ruang tunggu sambil cubit-cubitan. Kadang senggol-senggolan.

Saya tidak mengambil foto lagi. Resiko dikeroyok orang segambreng bisa membuat saya gagal melanjutkan perjalanan. Sesaat kemudian seorang petugas bandara lain yang melihat kejadian itu mendatangi saya untuk meminta maaf atas perlakuan kasar yang saya terima. Karena saya ganteng jadi saya maafkan. Tidak apa-apa pak. Saya juga salah karena foto-foto sembarangan.

Hati-hati saat mengambil gambar di bandara. Kalo emang butuh dokumentasi, lebih baik menggantungkan kamera di leher sambil memencet shutter tanpa mengintip viewfinder. Kalo ketahuan kamera bisa dibanting.

Advertisements

7 thoughts on “Dilarang Foto-Foto di Bandara!

  1. Hehe…di Jayapura kota kalau kita tidak minta ijin foto orang yang lewat juga bakal terancam nyawa si kamera, saya pernah ngalamin juga. Sejak itu jadi takut foto orang di kota, aman foto orang di pelosok pantai aja :)

    Like

    • iya, harus extra hati-hati sih emang. di kalimantan juga sama, tapi agak di pedalaman sih. DSLR untuk traveling kadang2 terlalu menyolok hahaha…

      Like

    • Iya nih. Mungkin DSLR dianggap menakutkan untuk org2 tertentu. Saatnya beralih ke mirrorless kali ya, lebih kecil tp kualitas keren hahaha..

      Like

      • Kalau buat foto2 yang niatnya untuk bagus, bolehlah pake SLR camera. Tapi kalau untuk dokumentasi dan laporan, pake point and shot aja. Yang rawan rawan kayak di bandara pake kamera tersembunyi aja, mudah2an gak ketahuan. Hehehehhee..

        Kalau SLR camera, di tempat tempar terpencil, masyarakatnya malah seneng, malah pada minta. Sebaliknya kalau di tempat2 wisata, dipalakin.

        Like

  2. yang gw ga ngerti dari kisah ini..knapa audrey, diana, dan mbak suwasti cubit-cubitan kadang senggol-senggolan dipojokan ya..knapa ga kreta-kretaan..?itu yang sangat disayangkan.. ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s