Penyamaran Yang Gagal

16 Februari 2012, di kantor.

Siang itu matahari bersinar dengan ganas, tapi saya sangat bersemangat. Beberapa jam lagi saya akan berangkat ke Jakarta untuk traveling dengan tim ACI ke gua Jomblang, Jogja. Tiket sudah di-print. Sesekali saya melirik jam, rencananya begitu bel pulang berbunyi saya akan langsung pulang rumah, mengambil tas dan lanjut ke bandara. Pesawat saya jam 7 malam, dan saya tidak boleh telat karena maskapai raja singa sudah jarang delay.

Berhubung saya berangkatnya hari Kamis, berarti saya akan bolos untuk hari Jumat dan Senin nanti, karena saya pulang Manado hari Selasa subuh. Saya tahu ini salah, ini dosa, sebagai abdi negara saya telah melakukan korupsi waktu. Tapi bodo amat. Toh gaji saya ujung-ujungnya dipotong habis-habisan, kadang sampai habis.

Saat sedang menanti jam pulang, tiba-tiba Lidya, rekan kerja saya bertanya,

“Jam berapa berangkatnya?”
“Jam 7 malem.”
“Eh, kalo gak salah si bos juga berangkat jam segitu, jangan-jangan nanti satu pesawat??”

Heh??? Saya panik. Saya kan mau bolos, gimana ceritaya kalo satu pesawat sama si bos. Segera saya konfirmasi ke Lana, asistennya bos,

“Lan, ibu mau berangkat ke Jakarta juga ya?”
“Iya, nanti malam jam 7, naik raja singa.”

Glek. Mati gue.

Kita akan satu pesawat. Artinya kita akan berada di ruang tunggu sama-sama. Artinya bisa saja dia melihat saya disitu. Atau bisa saja kita ketemu pas lagi check-in. Atau pas lagi di ruang tunggu. Atau pas lagi pipis. Crap.

Saya bingung. Tidak mungkin saya bisa menghindar untuk tidak bertemu dengannya. Saya harus mencari cara. Saya tidak boleh sampai bertemu dengannya. Tapi itu tidak mungkin.

Setelah berpikir dengan keras, akhirnya saya menemukan solusinya : MENYAMAR.

Saya lalu membayangkan gaya penyamaran yang paling keren…

1. Pake wajah palsu macam The A-Team. Tidak mungkin. Itu cuma di film-film..
2. Pake topeng. Ya. Lalu ditangkap dan disangka teroris.
3. Pake masker flu burung + kacamata dan topi! Ya, ini yang paling masuk akal. Menggunakan masker di bandara adalah hal lumrah, mengingat penyebaran virus flu sering terjadi di bandara. Bahkan kalo perlu saya akan pura-pura batuk biar dikira TBC sekalian. Biar orang-orang menjaga jarak. This is it.

Bel berbunyi. Saya langsung bergegas keluar kantor dan mampir membeli masker + kacamata bening di mol. Yap, perlengkapan menyamar sudah siap.

Di rumah, setelah berganti pakaian dan menyandang ransel, saya mencoba memakai masker, kacamata dan topi. Perfect! Tidak akan ada yang mengenali saya dalam samaran ini. Semua akan berjalan sempurna.

Tiba di bandara saya langsung check-in dan masuk ke ruang tunggu. Masker, topi dan kacamata telah saya kenakan sejak turun dari taksi. Sejauh ini semuanya lancar. Petugas bandara pun tidak meminta saya melepas masker saat check-in hingga saat masuk ke ruang tunggu. Saya melirik jam tangan, waktu boarding masih 30 menit lagi. Saya duduk sambil pura-pura membaca buku dan sesekali melirik sekeliling dengan hati-hati.

15 menit sebelum boarding, sesosok wanita yang wajahnya sudah sangat saya kenal memasuki ruang tunggu. Itu dia! Akhirnya doski datang juga. Bos saya duduk di deret bangku ketiga di depan saya, tanpa curiga. Sekali mata kita bertemu, jantung saya berdegup kencang dan saya berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak mengenali saya! Penyamaran saya berhasiiiiillll!!!

Dan akhirnya panggilan untuk naik ke pesawat diumumkan oleh petugas bandara. Saya bergegas keluar dari ruang tunggu, naik ke pesawat dan duduk di kursi nomor 5C. Saat hendak menaruh tas di bagasi kabin, saya sempat melihat bos saya di kejauhan, sepertinya di deret 20-an. Jauh. Saya kemudian duduk dengan tenang, melepas topi, kacamata, dan masker saya sambil bernapas lega. Tinggal satu tantangan lagi yaitu saat tiba di Jakarta, dimana saya harus memastikan dia keluar dari pintu kedatangan dulu baru saya bisa mengambil bagasi saya. Kemudian sesuatu terjadi.

Seorang bapak-bapak datang mendekat ke saya, kemudian meminta ijin untuk melihat boarding pass saya. Rupanya kami memiliki nomor seat yang sama. Seorang pramugari datang, melihat boarding pass kami berdua, kemudian meminta bapak itu untuk ikut dengannya ke depan. Saya mulai gelisah, tapi berusaha untuk tetap tenang. Insiden seperti ini memang biasa terjadi di pesawat raja singa ini. 5 menit, tidak terjadi apa-apa. 10 menit, pintu pesawat belum juga ditutup padahal semua penumpang sudah duduk manis di kursinya masing-masing. Kemudian….

“Perhatian, penumpang atas nama REGY KURNIAWAN dipersilakan untuk menuju ke kabin depan. Sekali lagi penumpang atas nama REGY KURNIAWAN dipersilakan untuk menuju ke kabin depan.”

Fuck.

!@#$%^&*^%$#@#$%D#@#+_*&!!!!! Щ(ºДºщ)

Emosi saya langsung campur aduk, antara marah, panik, gugup, dan resah seperti Obie Mesakh. Dalam beberapa detik saya tidak tahu harus berbuat apa selain tertegun menatap tante-tante di samping saya yang dandanannya menor seperti Ibu Hebring di sinetron Losmen-nya TVRI. Penyamaran saya terbongkar gara-gara kesalahan petugas check-in kampret. Penyamaran saya terbongkar bukan karena saya dikenali, tetapi karena “double seat.” Fuuuuccckk.

Saya berdiri, tanpa menyamar lagi, kemudian menuju kabin depan dengan geram. Seandainya saya punya palunya Thor, hal pertama yang akan saya lakukan adalah menghantam pengeras suara keparat itu.

Di kabin depan berdiri 2 orang biang kerok, petugas bandara dan pramugari. Mereka mengembalikan boarding pass saya sambil meminta maaf karena kesalahan check-in, kemudian mempersilakan saya kembali ke tempat duduk saya. Hanya itu. HANYA ITU! Hanya untuk mengembalikan boarding pass saya.

“EMANGNYA GAK BISA YA BOARDING PASS-NYA DIANTAR KE TEMPAT DUDUK SAYA?? HARUS YA SAYA DIPANGGIL LEWAT PENGERAS SUARA???”

Petugas bandara dan pramugari itu hanya bengong melihat reaksi yang mungkin diluar dugaan mereka. Saya kembali ke tempat duduk, berusaha menenangkan diri, kemudian bertanya-tanya dalam hati.

Kenapa harus saya yang double seat?
Diantara ratusan penumpang ini hanya saya yang menyamar, kenapa harus saya yang doble seat?
Kenapa nama saya harus dipanggil melalui pengeras suara?
Kenapa Guns N Roses harus bubar? Kenapa Tuhan?

Penerbangan malam itu adalah penerbangan paling menyebalkan dalam hidup saya. Di Jakarta saya memang masih menghindar untuk bertemu dengan bos saya. Saya menunggu dia mengambil bagasinya, keluar, kemudian saya mengambil bagasi saya dan kami tidak pernah bertemu. Di kemudian hari, saat saya masuk kantor lagi, beliau pun tidak menyinggung tentang masalah itu. Mungkin dia prihatin.

Malam itu, sambil menatap langit gelap dari jendela pesawat, saya akhirnya tertawa dalam hati. Menertawakan kejadian tolol yang saya alami. Kebohongan memang tidak bisa ditutupi. Serapi apa pun tetap akan terbuka, cepat atau lambat. Dan ya, kebohongan kali ini terbuka dengan sangat cepat, ajaib, dan lucu.

Tuhan sedang bercanda dengan saya.

Akhirnya, kami berdua tertawa bersama.

Ya, saya tertawa bersama Tuhan.

Advertisements

5 thoughts on “Penyamaran Yang Gagal

  1. “Perhatian, penumpang atas nama REGY KURNIAWAN dipersilakan untuk menuju ke kabin depan. Sekali lagi penumpang atas nama REGY KURNIAWAN dipersilakan untuk menuju ke kabin depan.”

    wkwkwkwkwk,, ngakak waktu pertama kali baca ini.
    kedua kalinya dibaca lagi, pica tatawa lagi ehh.. hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s