Saleo, Kampung Halaman Drakohi

Tibalah kami di kampung Saleo, kampung halaman Alm. Drakohi, pada suatu sore yang cerah setelah diguyur hujan sejak pagi dan diombang-ambing gelombang sepanjang perjalanan. Ya, longboat yang dijanjikan Drakohi ternyata tidak sesuai bayangan kami. Ternyata dia labil. Dalam imajinasi saya, beginilah bentuk longboat kami itu:

cruise-ship

Ternyata bukan. Inilah longboat kami :

See? Entah kenapa namanya longboat, terlalu keren menurut saya. Kenapa bukan katinting bermotor? Atau perahu beratap? Atau seonggok kayu yang mengapung dengan cat warna-warni. Eh tapi seru loh naik longboat ini, jauh lebih seru daripada arung jeram dan memacu adrenalin karena jalannya kayak orang teler, miring kiri kanan non stop. Awalnya saya sempat berpikir si longboat akan terbalik dengan sukses sentosa (baru pertama kali kan dengar kalimat sukses sentosa? selamat, gue juga) di tengah laut, tapi ternyata gak loh. Mansar Soleman sangat mahir mengemudikannya, maklum sejak kecil beliau sudah terbiasa makan pinang. Mas siluman monyed juga terlihat gagah di depan anjungan. Berdiri dia dengan mantap, meneriakkan puisi-puisi cinta dengan tangan kiri terkepal di dada dan tangan kanan terus menunjuk ke Diana. Kami terharu melihatnya.

Hanya 1 jam sejak meninggalkan Mansuar, kami sudah berani duduk diatas longboat. Diana bahkan bisa mempertahankan sikap lilin selama 2 jam. Audrey? Sejak meninggalkan Mansuar dia berenang-renang manja disamping longboat hingga tiba di Saleo. Oh iya, Mbak Suwasti belum disebutkan. Dia duduk disamping Mansar, mengukir inisial KH di setiap buih ombak yang menerpa dinding kapal.
Keren.

Saleo adalah sebuah kampung kecil di pinggir pantai. Penduduknya hanya sekitar… Lupa. Jumlah Kepala Keluarga disini pun hanya… Lupa. Nanti lah saya tanya Diana. Dia pasti sudah tidur sekarang. Jangan coba-coba membangunkan dia buat nanya jumlah penduduk, bahaya.

Nah, rumah-rumah di kampung Saleo tertata cukup rapi. Penduduknya juga sangat ramah. Kami disambut anak-anak kecil yang jumlahnya belasan, dan ketika turun dari kapal mereka langsung histeris sambil berulang kali meneriakkan nama saya,

“Ada Glen Alinskiii, ada Glen Alinskiii, kyaaaaaaaa…”

Saya bermaksud untuk pergi setelah membagikan tanda tangan dan cap jempol untuk anak-anak itu, tiba-tiba seorang anak kecil botak dengan ingus menggantung mencegat saya,

“Om om, om Glen Alinski ya..?”
“Err… Sebenarnya bukan sih mhehehe..”
“Ah boong. Om pasti Glen Alinski”
“Bukan dek, teman-temanmu salah kira aja”
“Aaah ngaku aja deh oom, Glen Alinski kan? Ya kan? Glen Alinski asli kan? Bener kan? Ngaku dong om ngakuuuu..!!”
Mulai annoying nih anak. Hmmm..
“OM GLEN ALINSKI KAAAAAAAAAAAANNN..???”
Si tuyul teriak pake megafon.
“IYAAA GUE GLEN ALINSKI, TERUS KENAPA?”
“Kok gak mirip om?”
Fak.

Kami berjalan menuju rumah Mansar Elly, kepala kampung sekaligus ketua adat wilayah Saleo dan sekitarnya hingga ke Wayag. Oh kami disambut dengan meriah disana, ada tari piring, tari kecak, dan pengalungan bunga juga. Ah, betapa ramahnya penduduk Saleo. Kami dipersilakan masuk kemudian dijamu dengan baik. Dan karena hari sudah menjelang malam, maka kami pun tidur. Bye.

…………………………………………………………………………..

Hahahaha belom. Masih jam 5 sore tauk. Mansar Soleman menyarankan agar kami menginap semalam disini, karena untuk ke Wayag saat gelap terlalu riskan. Selain beliau kurang hafal jalurnya, banyak monster laut yang keluar di malam hari. Kami setuju, karena kesaktian dari Drakohi kemarin bukan untuk melawan monster. Ngapain coba, ilmu membengkokkan sendok? Nyeh…

Kami melewatkan malam dengan riang gembira. Mbak Suwasti mengajarkan tari lebay dan tari pocong kepada kami. Bagaimana tariannya? Liat deh video ini:

Selesai latihan menari, kami duduk di teras rumah. Mansar Elly bercerita tentang sejarah kampung Saleo yang dibangun olehnya sejak dia muda. Luar biasa pengorbanannya untuk kampung ini. Dia telah mengabdikan hampir seluruh kekayaannya demi membangun Saleo menjadi seperti sekarang. Dulu sebelum pulang kampung, beliau sempat menjadi tentara, dan memiliki ilmu sarang semut. Dia bisa memasuki segala tempat kecil yang bisa dimasuki oleh semut. Sangar kan? Dia juga memiliki ilmu, saya lupa namanya, kalo di Naruto namanya Teleportation Jutsu. Ya, beliau bisa berpindah tempat dalam sekejap melintasi dimensi ruang dan waktu. Teori fisika dipatahkan disini. Dia bisa melakukan quantum jumping melalui worm hole men! Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar semua ceritanya… Mansar mansar…

Di Saleo listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 12 malam. Terpencilnya kampung ini menyebabkan PLN tidak pernah berhasil menemukannya, sehingga program listrik masuk desa belum terlaksana sampai hari ini. Bunyi genset yang menyala sejak maghrib mulai meredup. Eh kok meredup sih. Memelan. Memelan? Ah begitulah pokoknya.  Mansar Elly mempersilakan kami untuk tidur. Fiuhh… Akhirnya bisa tidur setelah mendengar ceritanya yang mirip perjalanan Jack Sparrow.

Good night Saleo. Bzt.

Advertisements

2 thoughts on “Saleo, Kampung Halaman Drakohi

  1. Kakak boleh nanya gak? Boleh? Makasih…. ^_^
    kira-kira ke raja ampat abis berapa ya akomodasinya? (kayak ‘longboat’nya, trus bermalam di rumah mansar elly)
    makasih.

    Like

    • ahahaha boleh dongz..
      hmm kalo sekarang rata2 trip wayag itu 5-6 juta untuk 3 hari 2 malam (kalo gak salah ya, cuma denger2 info sepintas aja soalnya)

      kalo kita waktu itu tripnya memang keliling raja ampat selama semingguan jadi agak mahal. berlima abisnya 15jt krn udah termasuk makan dll juga hehe..

      semoga membantu yak :D

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s