Diksar 9 Mapala STTL

Langit masih sangat gelap.

Hanya ada suara jangkrik dan burung malam yang bersahut-sahutan di kejauhan.

Suasana sepi, senyap, tanpa bintang. Kabut turun perlahan-lahan, menutupi sela pepohonan yang basah oleh gerimis.

Kami duduk berhimpitan dalam satu shelter yang dibuat menggunakan beberapa ponco dan disambung menjadi satu, tanpa alas. Semuanya menggigil kedinginan, 19 orang peserta pendidikan dasar Mapala STTL yang masih bertahan.

Tidak ada lagi baju yang kering. Celana dan baju kami telah penuh lumpur karena tidak pernah diganti sejak hari pertama. Saya mengira-ngira, saat ini sekitar jam 9 malam. Saya sudah lupa tanggal berapa, karena semua handphone, jam tangan, dan perangkat digital kami telah disita sejak hari kedua bersama dengan seluruh makanan, rokok, dan alat masak. Mereka hanya memberikan kami beberapa potong parafin untuk memasak air hangat, daun-daunan, bekicot, atau apa saja yang kami temukan dan bisa dimakan.

Sudah sekitar seminggu kami survival, perut pun mungkin sudah lupa rasanya nasi. Ingatan saya kembali ke hari pertama saat kami tiba di gunung ini. Gunung yang selama ini belum pernah saya lihat langsung. Gunung yang menyimpan sejuta cerita mistis. Gunung api teraktif di dunia: Merapi.

Hari 1

Upacara pelepasan peserta Diksar secara resmi oleh pihak kampus telah dilakukan pagi tadi, dan kini adalah saat kami bersiap-siap sambil mengecek segala perlengkapan dan logistik untuk dibawa ke lapangan.

Saya memeriksa kembali carrier saya. Seluruh peralatan, perlengkapan dan logistik sepertinya sudah lengkap. Matras, sleeping bag, senter, beberapa pasang baju, kaos kaki, sandal trekking, alat mandi, alat masak, semuanya sudah masuk carrier. Beras, mie instan, corned beef, minuman instan, snack, dan segala hal yang berbau makanan sudah terpacking dengan rapi.

Pengalaman saya sebagai pecinta alam ketika SMA sangat membantu dalam mempersiapkan perjalanan ini. Saya tahu, medan yang akan ditempuh nanti pasti berbeda jauh dan tekanan fisik dan mental akan menemani kami selama pendidikan. Tapi, saya sudah siap. Setelah mengikuti materi ruang selama seminggu ditambah dengan simulasi lapangan selama 2 hari, sekarang saatnya untuk menghadapi ujian yang sebenarnya.

Tepat jam satu siang,kami berangkat menggunakan bis kampus berisi 20 orang peserta dan sekitar 10 orang panitia. Sepanjang perjalanan menuju kaki gunung Merapi kami bernyanyi-nyanyi, bercanda, tertawa lepas, dan bercerita segala hal.

Saya agak heran, bukankah Diksar seharusnya seram? Waktu SMA saja penderitaannya bukan main. Saya ingat ketika pelantikan saya sebagai pecinta alam saat SMA dulu, ditampar, ditendang, bahkan saya sempat tersesat selama satu malam dan baru bisa kembali ke camp pagi hari. Aneh…

Gunung Merapi, Hari 1

Kami tiba di Bebeng, desa terakhir di kaki gunung Merapi, sekitar jam 3 sore. Di sini telah menunggu sekitar 20 orang lebih panitia lainnya, berseragam hitam dan mengenakan syal hijau dengan tatapan tajam seperti Rangga.

Kami turun dari bis lalu menurunkan barang masing-masing. Setiap carrier beratnya rata-rata 12-15 kg karena telah diisi air sebanyak 5 liter. Saya hanya membawa 3 liter, karena saya beranggapan dalam perjalanan nanti kami pasti akan bertemu dengan mata air. Rupanya 5 liter adalah standar lapangan, dan saya terlanjur mengabaikan itu.

Sebelum berangkat lapangan kami telah dibagi menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang dan dipimpin oleh Danru atau komandan regu. Seluruh kelompok ini dipimpin Danlas atau komandan kelas. Kebetulan untuk hari pertama saya dipilih sebagai Danlas, yang nantinya menerima perintah langsung dari Dan-Ops (Komandan Operasional). Seluruh panitia lapangan harus kami panggil dengan sebutan Ops, singkatan Operasional. Ini istilah-istilah militer abis, huh, memangnya kita Menwa?

Dan-Ops adalah penguasa. Dia membawahi semua Operasional Lapangan dan peserta Diksar. Segala sesuatu yang dilakukan dalam pendidikan harus berdasarkan skenario dan komando darinya. Bagi yang melanggar aturan, mau operasional atau peserta, harus siap dikirim pulang dan diberi sanksi tegas.

Dan-Ops Diksar kali ini dipegang oleh Syarifudin Sukur, asli dari Palu, dengan perawakan tegap, hitam, gondrong, dan tidak pernah sedikit pun tersenyum. Saya sendiri baru melihatnya ketika di lapangan, karena selama materi ruang dan simulasi Dan-Ops adalah misteri. Sorot matanya lebih tajam dari Rangga, dan setiap kali dia bicara kami tidak berani menatapnya.

Saya baru selesai menurunkan carrier saya, memanggulnya, lalu tiba-tiba terdengar teriakan,

“DANLAAAASS!!” teriak Dan-Ops.
“Hadiiiir,” jawab saya.
“APA?
Duh dia budeg. “Hadir, Pak.”
HADIR? SINI KAMU!! BERAPA KALI DIAJARKAN UNTUK MENJAWAB SIAP MAPALA STTL KETIKA DIPANGGIL?? TELINGAMU DI MANA? LUPA?? 5 SERI!!!”

1 seri itu sama dengan 10 kali push-up, jadi 5 seri sama dengan 50 kali. Disaksikan puluhanoperasional, saya push-up 50 kali nonstop lalu berdiri dengan tangan gemetar dan napas terengah-engah.

“APA KALIAN LIHAT-LIHAT? SENANG TEMANNYA KENA HUKUM? SEMUA PESERTA 10 SERI!!” teriak Dan-Ops lagi.

Anjrit, gile bener nih, cuma lihat-lihat kena seri.

“KAMU, DANLAS, KENAPA CUMA DIAM DISITU? SENANG LIHAT TEMAN-TEMANMU PUSH-UP?? 5 SERI LANGSUNG!” teriak Dan-Ops diikuti teriakan para operasional yang lain.

Saya melihat sekeliling saya, masing-masing peserta sudah dikerumuni orang banyak. Semua melakukan pressing mental dengan suara dan pressing fisik melalui push-up. Saya ikutan push-up, kali ini pelan-pelan, biar tidak kena push-up susulan karena yang lain belum selesai.

Acara push-up gelombang pertama berlangsung selama satu jam, dan saya langsung lupa berapa kali saya sudah push-up, yang saya tahu tangan saya gemetar.

Hujan gerimis mulai turun bersama kabut. Kami mendapat instruksi dari Dan-Ops untuk berbaris per kelompok lalu mengeluarkan peta dan kompas untuk orientasi titik awal. Dalam kondisi cuaca seperti ini sangat susah melakukan resection karena titik bidik yang tertutup kabut, namun apa boleh buat, perintah adalah perintah.

Akhirnya misi pencarian titik awal berakhir dengan berseri-seri push-up karena kami semua gagal. Tero, salah seorang peserta, sempat meminta pulang pada Dan-Ops. Sedetik kemudian dia segera menarik kata-katanya kembali karena langsung diganjar 10 seri push-up. Setelah insiden memalukan itu, kami ditarik menuju flying camp pertama yang dekat Kali Kuning. Waktu sudah jam 5 sore, dan matahari mulai turun. Malam pertama di gunung Merapi segera datang.

Flying camp 1

Kami tiba di flying camp 30 menit kemudian. Flying camp 1 adalah hutan pinus yang cukup luas dan datar. Kami berbaris per kelompok, lalu satu per satu ditanya berapa liter air yang dibawa. 19 orang peserta membawa minimal 5 liter, dan saya, yang mendapat giliran terakhir untuk ditanya, menjawab dengan gugup,

“3 liter Ops…”

“3 LITER??? KAMU MAU MATI DI SINI? KAMU PIKIR 3 LITER CUKUP UNTUK 10 HARI? KALO AIRMU HABIS GIMANA? MINTA TEMANMU? HAH? MAU NYUSAHIN TEMAN KARENA MALAS BAWA AIR??” Teriakan Dan-Ops menggelegar seketika.

Seorang operasional menendang carrier saya hingga isinya berhamburan lalu menggelinding jauh… “Jangan jadi orang yang suka bikin susah teman jalan,” bisiknya tegas tanpa menunjukkan belas kasihan sama sekali. “Kami nggak butuh orang brengsek macam itu!”

Saya hanya bisa menelan ludah, menelan kata-katanya bulat-bulat.

Selanjutnya saya push-up berseri-seri banyaknya diikuti teman-teman lain karena lalai mengingatkan saya untuk membawa air 5 liter.

Setelah insiden itu, kami diberi waktu 10 menit untuk mendirikan solo shelter menggunakan ponco dengan jarak minimal 10 meter per shelter. Saya kebagian lokasi di dekat jurang, di bawah pohon besar yang sepertinya ada penunggunya, jauh dari shelter peserta lain. Sebuah hukuman karena kelalaian saya.

Matahari sudah tenggelam. Saya menyalakan senter lalu mendirikan shelter saya, mengalasnya dengan matras, dan mengatur rapi carrier dan barang-barang saya di dalamnya, lalu bergabung dengan anggota kelompok saya di shelter Iin untuk masak dan makan malam.

“Masak apa kita?” tanya Ikrar.
“Yang pasti nasi, sama mie, telor, sayur, ikan, terserah lah,” jawab saya.
“Iya masak yang banyak aja, laper.” Joe menambahi.
“Eh jangan boros-boros, dihemat makanannya. Diksarnya masih lama lho, ini baru hari pertama. Kita masak nasi sama mie rebus aja,” kata Iin.

Semua setuju. Makan lah kami malam itu nasi dan mie instan rebus. Belum juga selesai makan, tiba-tiba,

“DANLAAAAAAAS!!!”

“SIAP MAPALA STTL!” jawab saya lalu segera berlari ke arah suara tanpa sempat membawa senter karena takut terlambat. Alhasil sepanjang jalan saya jatuh tersandung akar pohon beberapa kali dan tiba di depan Dan-Ops beberapa saat kemudian.

“Mana sentermu?”
“Ketinggalan Ops.”
“3 seri.”
*push-ups*
“Selesai Ops.”
“Panggil teman-temanmu.”

“DANRU 1, DANRU 2, DANRU 3, DANRU 4, MENGHADAAAAPP!”
“SIAAAP MAPALA STTL!!!” jawab para Danru.

Dan dalam sekejap mereka telah berkumpul di depan kami. Ternyata ketika saya dipanggil mereka langsung bersiap-siap. Kampret, sial juga jadi Danlas.

“Panggil anggota regu kalian,” perintah Dan-Ops.

Seketika bersahut-sahutanlah para Danru dengan anggotanya. Maka malam yang sepi, dingin, dan gelap itu berubah menjadi sangat ramai.

Ketika semua telah berkumpul, kami dihajar lagi akibat berbagai kesalahan yang kami lakukan pada hari pertama. Hampir 2 jam kami jatuh bangun di hadapan panitia, dan diakhiri dengan janji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama besok hari dan seterusnya selama pendidikan.

Setelah “pembantaian,” kami diambil alih oleh bagian pembinaan. Tugas bagian pembinaan adalah mengangkat lagi moral dan semangat peserta dengan berbagai metode permainan, sharing, hingga diskusi. Parahnya, materi pembinaan ini berlangsung hingga jam 2 malam dan sesekali diselingi pressing oleh operasional lainnya apabila kami melakukan kesalahan.

Setelah pembinaan yang melelahkan itu selesai, saya kembali ke shelter saya, menyalakan lilin di pintu shelter, membuka sepatu, mengganti kaos kaki, mengganti kaos, memakai jaket, kupluk, masuk ke sleeping bag, lalu tidur tanpa menghiraukan suara-suara aneh di luar sana. Sebentar lagi malam berganti pagi, semoga Diksar ini cepat berlalu…

Hari 2

“14…. 15…. 16…. 17….”

Sayup-sayup saya mendengar suara hitungan.

Saya kembali meringkuk dalam sleeping bag saya. Lalu, kesadaran saya seketika datang. 17??? Anjrit sudah hitungan ke 17! Matik!

Segera saya keluar dari sleeping bag, memakai sepatu, meraih senter di dekat carrier saya lalu berlari ke arah suara yang dengan lantangnya meneriakkan angka 31, 32, 33…

“SIAAP MAPALA STTL!” teriak saya dengan harapan Dan-Ops berhenti menghitung berhubung saya sudah menjawab.

“34, 35, 36, …”

Bangsat.

Saya tiba di hadapan Dan-Ops pada hitungan ke-46. Lima seri menjadi pembuka pagi hari saya yang indah itu, ditambah dua seri karena saya masih memakai jaket, dan tiga seri karena saya tidak mengenakan kaos seragam Diksar.

Jam 4 subuh dan saya sudah harus memulai hari. Rasanya sleeping bag yang hangat di shelter saya masih menanti saya kembali. Setelah menyelesaikan 10 seri, seluruh peserta dipanggil untuk melakukan senam pagi, tepatnya senam subuh. Hari telah dimulai.

Survival!

Menu makan pagi kami tidak terlalu spesial, hanya nasi dan mie goreng ditambah dua gelas susu yang dibagi 5. Iin kembali mengingatkan untuk berhemat, karena Diksar masih panjang. Kami semua setuju. Beberapa saat kemudian terjadi hal yang tidak disangka-sangka.

“Semua siswa packing sekarang juga, jangan ada yang tersisa. Jangan tinggalkan apa pun di sekitar shelter kalian. 10 menit dari sekarang berbaris di depan saya, lengkap dengan carrier masing-masing,” perintah Dan-Ops.

Tidak sampai 10 menit kami semua sudah berbaris.

“Turunkan carriernya, lalu keluarkan semua isinya dengan rapi. Sekarang juga.”

Brengsek. Tadi suruh packing, sekarang suruh bongkar. Maunya apa sik?

“Logistik kalian akan dikurangi. Persediaan makanan kalian akan dibatasi, silakan diatur bagaimana caranya agar cukup hingga pendidikan selesai. Ops, silakan diperiksa dan sisakan sesuai daftar logistik terbaru.”

Setiap peserta diperiksa oleh 2 orang operasional, dan bagi peserta laki-laki wajib menanggalkan seluruh pakaiannya kecuali kolor dan menggunakan sarung untuk sementara selama pemeriksaan berlangsung. Semua makanan, minuman, sleeping bag, alat masak, parang, rokok, bahan bakar, korek api, lilin, hingga permen diambil. Yang tersisa hanya air, baju, sandal, ponco, dan matras. Setelah itu kami dikumpulkan untuk dibagikan jatah logistik kelompok.

Setiap kelompok mendapat 2 bungkus mie instan, 500 ml beras, 1 ikan kaleng, setengah bungkus garam, 1 buah golok, 4 keping parafin, 1 tabung korek api, tali rafia, dan 2 batang lilin. Entah bagaimana caranya, jatah itu harus cukup. Dan ketika kami sedang mendapat pengarahan, seorang operasional tiba-tiba berteriak dari kejauhan,

“Siswa!! Ini bekas shelter siapa??”
“Siap, saya Ops!” jawab Chacha.
“Kamu kok nggak cleaning? Ini masih ada potongan tali plastik di pohon. 5 seri! SEMUANYA!!”

Lagi-lagi kesalahan satu orang ditanggung semua peserta. Dan setiap kali kami melakukan push-up, ada saja alasan mereka untuk mengulangi hitungan kami dari awal lagi. Ini yang membuat kami stress. Bayangkan, sudah sampai hitungan ke 20 tiba-tiba kembali ke 0 gara-gara kami kurang kompak naik-turunnya. Hari itu, sebagian besar peserta sudah mulai tidak kuat melakukan push-up, termasuk saya.

Setelah seluruh panitia dan peserta siap melakukan perjalanan, jam 8 pagi kami bergerak menuju tebing Kali Kuning, lokasi untuk praktek tali-temali dan panjat tebing. Kami tiba di lokasi jam 9 pagi. Di sini kami mempraktekkan teknik tali tunggal atau single rope technique (SRT), prusiking, panjat tebing, dan rappeling. Kegiatan tali temali berlangsung hingga jam 5 sore, dan sepanjang hari kami dehidrasi gara-gara lupa membawa air minum. Kami tidak sempat masak untuk makan siang dan hanya makan mie kering sebagai pengganjal perut.

Indra kena hukum 10 seri gara-gara lupa menutup descendeur-nya di lintasan SRT yang hampir saja menyebabkan dia jatuh dari tebing setinggi 20 meter. Tero, yang hari sebelumnya sempat minta pulang, sakit perut akibat minum air perasan lumut. Saya disuruh merayap sejauh 30 meter sambil berteriak “AKU CINTA MAPALA STTL” tanpa tahu apa kesalahan saya. Kegiatan tali-temali ditutup dengan push-up massal peserta akibat begitu banyak kesalahan yang dilakukan pada hari itu.

Flying Camp 2

Jam 5.30 kami mulai bergerak menuju flying camp 2 dan tiba di sana 30 menit kemudian. Flying camp 2 berupa tanah datar dan dipenuhi ilalang tinggi. Kembali kami dikumpulkan, lalu disuruh bugil lagi.

“Ada perubahan rencana,” kata Dan-Ops memecah kebisuan kami yang mulai menggigil menahan dingin.

“Mulai saat ini hingga selesai Diksar, kalian akan mempraktekkan survival murni, teknik bertahan hidup di alam bebas. Kalian harus belajar mencari makanan dari hutan ini, membuat api, memasak apa yang kalian kumpulkan, dan belajar bertahan hidup karena kalian adalah calon anggota Mapala.”

Mampus.

“Ops, silakan periksa lagi carrier mereka, ambil semuanya, sisakan sesuai daftar terakhir.”

Kali ini, seluruh bekal makanan yang telah dibagikan diambil lagi oleh Operasional. Yang tersisa hanya 1 batang lilin, 2 tablet parafin, setengah bungkus garam, 1 kotak korek api, 1 buah golok, dan segulung kecil tali plastik.

Saya setengah tidak percaya. Diksar masih panjang, dan kami harus survival murni? Iin, yang selama ini menerapkan prinsip hemat logistik, hanya tertunduk lesu.

Malam itu kami mendapat materi membuat api dan memasak daun. Perut saya menerima daun tapal kuda pertamanya yang sudah direbus bersama tiga ekor bekicot. Lumayan lah, daripada lapar.

Kami ditidurkan tepat jam 2. Saya tidur tanpa menggunakan sleeping bag, tanpa mengganti kaos, dan tanpa melepas sepatu.

Hari 3

Jam 4 subuh. Kami sudah berkumpul, menggigil kedinginan, dan berusaha untuk melawan rasa kantuk yang menyerang dengan gencar.

“Dingin siswa?”
“Iya Ops..”
“3 seri.”
“Siap Mapala STTL !”

Setelah selesai push-up,

“Masih dingin siswa ?”
“Tidak Ops…”
“Wah hebat juga, berarti masih kuat dong. Ayo 3 seri lagi !”

Dan seterusnya, selalu begitu, membuat kami selalu ragu untuk menjawab, dan akhirnya kami jawab sekenanya karena jawaban apa pun yang kami berikan pasti kami kena seri juga.

Hari ini dilakukan pertukaran anggota kelompok. Saya kini sekelompok dengan Ahmed, Rini, Indra, dan Chacha. Jabatan Danlas sudah berpindah tangan ke Wellem, peserta Diksar asal Papua yang jago poco-poco. Hari ini kami mulai mempraktekkan materi Navigasi Darat, setiap kelompok diberikan selembar peta Merapi dan 2 buah kompas yaitu kompas bidik dan kompas orientasi.

Sambil melakukan pencarian titik yang koordinatnya diberikan oleh Dan-Ops, kami juga “belanja,” istilah untuk mengumpulkan bahan makanan dari hutan berupa daun-daunan hingga binatang.

Saya mengumpulkan beberapa bekicot dan daun tapal kuda yang kami rebus untuk makan siang. Seekor tikus hutan juga jadi menu tambahan setelah dibakar dan ditaburi garam. Setelah itu kami melanjutkan pencarian titik hingga jam 3, lalu kami langsung diarahkan menuju flying camp berikutnya karena cuaca yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk melakukan resection.

Flying camp 3 terletak di ketinggian, cukup jauh dari flying camp 2. Kami tiba di sana sekitar jam 6 sore setelah menempuh jalur pendakian terjal yang benar-benar menguras tenaga. Kondisi camp 3 tidak terlalu nyaman, sempit dan tidak ada tempat datar. Panitia menyebut tempat ini “camp miring.”

Hujan gerimis dan kabut tebal menyambut kedatangan kami. Tidak ada pohon di sini, yang ada hanya hamparan ilalang dan semak. Kami mendirikan solo shelter dengan jarak tidak terlalu berjauhan karena keterbatasan tempat. Saya mencari batang kayu yang cukup tinggi untuk dijadikan tiang shelter saya, dan berdirilah shelter terbaik di camp 3 dengan gagahnya.

Seperti biasa, kami dikumpulkan untuk menerima instruksi waktu masak dan makan malam. Menu malam itu adalah daun tapal kuda rebus dan air hangat. Anehnya, tidak ada satu peserta pun yang mengeluh sakit perut, sakit biji, atau lainnya. Tubuh kami beradaptasi cukup cepat dengan perubahan pola makan ekstrim ini.

Selesai makan kami kembali dikumpulkan untuk pressing. Tensi semakin tinggi dan hukuman yang kami terima pun semakin bertambah. Suasana gunung Merapi yang malam itu begitu mencekam membuat kami semakin tertekan secara mental. Kami kembali ke shelter jam 1 malam setelah mengikuti apel malam, evaluasi dan briefing, serta materi pembinaan. Saat saya mulai tertidur, ada suara-suara yang membangunkan saya.

“Ini shelter siapa ya?” kata Ops A.
“Iya, bagus nih.” kata Ops B.
“Coba dilihat.” kata Ops C.

Ops A mengintip, “Oh shelternya Regy.”

“Lumayan..” kata yang lainnya.

Lalu langkah-langkah kaki itu menjauh, dan tiba-tiba,

“GRUSAAAAKKKK!!!!”

“KELUAR!!” teriak salah seorang Ops.

“Siap Mapala STTL !!” jawab si siswa.

Saya mengintip, wah, ada shelter yang ditendang panitia.

“KAMU NGERTI BIKIN SHELTER NGGAK?? SHELTER MACAM APA INI ??!!”

Rupanya shelternya yang jadi masalah, ponconya dipasang tanpa konstruksi alias cuma dijadikan selimut. Saya mengeluarkan kepala saya dari dalam shelter untuk melihat dengan lebih jelas.

“Sekarang juga bikin lagi sheltermu, dasar malas!!”
“Siap Mapala STTL !” jawab si siswa lagi.
“SISWA REGY !!!”
“Siaap Mapala STTL!!” Waduh ketahuan.
“NGAPAIN KAMU LIHAT-LIHAT?? SENANG TEMANNYA DIHUKUM??? LIMA SERI KAMU, CEPAT!!!”
“Siap Mapala STTL !!!”

Setelah itu saya tertidur kelelahan…

Hari 4

Seperti biasa, kami bangun jam 4 subuh dilanjutkan dengan senam pagi lalu masak dan sarapan. Biasanya ketika senam pagi para panitia sudah bangun dan sarapan yang enak-enak di depan kami, tapi pagi ini sangat sepi. Saya yang mendapat tugas belanja mendapat ide menarik. Saya akan bergerilya ke tenda-tenda panitia, mencuri sampah mereka. Mencari apa saja yang masih bisa dimanfaatkan.

Dengan mengendap-endap saya mendekati tenda mereka satu demi satu. Kantong plastik berisi sampah saya temukan lalu diam-diam saya bawa ke shelter kelompok.

Bagai menemukan harta karun, mereka menyambut saya bak pahlawan. Ada banyak potongan sayur, rempah-rempah, dan bumbu mie instan yang belum terpakai.

Pagi itu kami makan bekicot yang dimasak dengan sisa sayur dan bumbu mie instan. Kami siap untuk berkegiatan lagi.

Sebelum memulai praktek navigasi darat, dilakukan rolling kelompok lagi. Kali ini saya sekelompok dengan Chacha, Asep, Wellem, dan Iin. Kami mulai bergerak jam 7 pagi menuju titik pertama didampingi panitia pendamping kelompok kami dan dilanjutkan ke titik-titik selanjutnya.

Pergerakan kami terhenti ketika tiba-tiba Asep, yang bertugas memegang kompas bidik, menyadari kalo kompasnya hilang! Kami panik, dan berusaha sebisa mungkin agar rahasia ini tidak bocor ke Panitia. Kami berusaha untuk tetap tenang, namun akhirnya salah seorang Operasional yang curiga mendekati kami,

“Kenapa siswa ? Udah ketemu titiknya ?”
“Belum Ops..”
“Kenapa belum ? Jangan terlalu lama. Ayo orientasi, keluarin kompasnya.”
“Iya Ops..”
“Kompasnya mana ?”
“Emm… ilang Ops..”

“HEH? KOMPASNYA HILANG ??!!! DAN-OPS, INI ADA KELOMPOK YANG NGILANGIN KOMPAS!!!”

Sial dilaporin. Gawat ini. Gawat…

Dalam sekejap telah terkumpul puluhan operasional yang semuanya membentak kami gara-gara menghilangkan kompas bidik. Kami seri, seri lagi, dan seri lagi hingga tangan serasa tidak mampu lagi untuk sekedar mengepal. Asep, yang menghilangkan kompas, diberi waktu mencari kompas itu dalam 30 menit.

Dia segera melakukan track back jalur yang telah kami lewati, dan untung saja, kompasnya masih ada, tergeletak di atas tanah tampat terakhir kali dia duduk sambil plotting peta. Tapi kesalahan tetaplah kesalahan, walaupun kompasnya tidak jadi hilang, kesalahan sudah terlanjur terjadi. Saya pasrah, apa yang terjadi, terjadilah.

Jam 4 sore pencarian titik dihentikan gara-gara langit mendung dan kabut mulai turun. Seluruh peserta diarahkan menuju flying camp 4. Kami bergerak menuruni lembah yang cukup dalam, naik lagi, lalu turun lagi menyeberangi kali pasir yang lebar dan terjal. Setelah itu kami scrambling untuk pindah ke punggungan seberang. Flying camp 4 terletak di sana.

Flying camp 4

Setelah mendaki tanjakan yang hampir tegak lurus akhirnya kami tiba di flying camp 4 jam 6 sore. Tempat ini sangat luas, datar dan ditumbuhi pohon Pinus yang jarang-jarang. Kami mendirikan shelter beregu dengan jarak 20 meter setiap shelter. Langit mulai gelap dan kabut mulai turun, entah kenapa perasaan saya kurang nyaman di tempat ini. Saya merasa seperti diawasi. Sepertinya tempat ini cukup kuat pengaruh mistiknya.

Ada insiden menarik yang terjadi siang tadi. Kimpul keracunan talas hingga bibirnya bengkak seperti asbak di kamar saya. Talas hutan memang memerlukan perlakuan khusus ketika dimasak agar racunnya hilang, dan Kimpul telah mengabaikan aturan itu. Bengkak di bibirnya bertahan hingga beberapa hari kemudian.

Agenda tetap di malam hari kembali bergulir, dan kami mengikuti semuanya dengan fisik yang semakin lemah. Semua bentakan tidak lagi kami tanggapi bahkan dari dalam hati sekali pun. Seluruh perintah push-up kami jalankan tanpa mengeluh lagi sekalipun tangan kami bergetar hebat setiap kali mengangkat badan, dan semua materi pembinaan kami jalani dengan mata setengah terbuka akibat serangan kantuk yang sangat hebat. Fisik kami sudah sangat lelah, sedangkan sumber energi kami hanya berasal dari daun-daunan, serangga, bekicot, dan batang begonia.

Satu-satunya yang membuat kami bertahan hanyalah semangat untuk menyelesaikan pendidikan. Semangat untuk tidak kehilangan harga diri dengan menyerah dan pulang. Nanggung kali kalo pulang.

Malam itu berhasil terlewati dengan penuh perjuangan. Baju kami basah oleh keringat dan hujan gerimis. Begitu tiba di shelter, saya segera merebahkan diri dan tidur. Entah itu tanggal berapa, tidak penting juga.

Hari ke-sekian

Siang itu kami dikejutkan oleh Ipeh. Ipeh, salah satu peserta Diksar perempuan, menyatakan mengundurkan diri! Melalui radio HT yang diperdengarkan kepada kami semua, Ipeh berbicara dengan nada suara yang lemah, “Mohon maaf teman-teman, saya mundur. Saya tidak kuat lagi…”

Kami kaget. Tidak menyangka akhirnya Ipeh menyerah, karena dia terlihat masih kuat dan masih mampu menyelesaikan pendidikan ini. Barangkali dia lapar saja.

“Ada lagi yang mau mundur?” Tanya Dan-Ops.
“Tidak Ops.”
“ADA LAGI YANG MAU MUNDUR?”

“SIAP-TIDAK-MAPALA STTL!!!”

Kami melanjutkan hari itu seperti biasa, menghabiskan siang dengan navigasi, melewati malam dengan berbagai pressing fisik maupun mental, tidur sesudah lewat tengah malam, dan bangun sebelum matahari pagi bersinar.

Sisa-sisa hari kami di Merapi tidak kami hitung lagi, dan kami telah menjadi terbiasa dengan segala macam tekanan yang semakin meningkat setiap harinya. Saya telah terbiasa makan cacing, bekicot rebus, belalang mentah, daun-daunan, ulat pohon, dll.

Hari demi hari terus berlanjut, hingga akhirnya garis finish mulai terlihat di depan mata…

Pelantikan!

Langit masih sangat gelap. Hanya ada suara jangkrik dan burung malam yang bersahut-sahutan di kejauhan. Suasana sepi, senyap, tanpa bintang. Kabut turun perlahan-lahan, menutupi sela pepohonan yang basah oleh gerimis.

Kami duduk berhimpitan dalam satu shelter yang dibuat menggunakan beberapa ponco dan disambung menjadi satu, tanpa alas. Semuanya menggigil kedinginan, 19 orang peserta pendidikan dasar Mapala STTL yang masih bertahan. Tidak ada lagi baju yang kering. Celana dan baju kami telah penuh lumpur karena tidak pernah diganti sejak hari pertama. Saya mengira-ngira, saat ini sekitar jam 9 malam.

“SISWA!!!”

Suara yang tidak pernah kami dengar memecah kesunyian malam. Serempak kami menjawabnya lalu langsung keluar dari shelter. Terlambat. Belum sempat keluar dengan barang masing-masing, shelter kami ditendang dan seketika kami terkejut melihat banyaknya senior malam itu.

Kami diperintahkan untuk berbaris dalam hitungan 3 dengan carrier masing-masing. Saya segera memakai carrier saya, kemudian memperhatikan wajah-wajah baru ini. 40, tidak, sekitar 50 orang total jumlahnya. Sepertinya senior dari jaman Nabi Adam juga pada datang.

Pressing fisik mental. Sudah kami duga. Tapi bedanya kali ini kami push-up tanpa hitungan, pokoknya push-up aja sepuasnya, lengkap dengan carrier di punggung. Tangan saya sudah kehilangan tenaga. Setiap kali sikut ditekuk untuk turun, setiap kali itu juga badan saya jatuh seketika. Teman-teman lain juga begitu. Kami sudah hampir mencapai batas kekuatan kami.

Dua jam kemudian, dua jam push-up nonstop, satu per satu kami ditarik menuju bibir jurang Goa Jepang. Di situ sudah ada lintasan tali untuk turun menuju dasar jurang, ke sungai kecil yang berada di bawah, gelap dan seperti tidak berujung.

Saya menuruni tebing setinggi 30 meter itu perlahan-lahan sambil berpegang pada tali. Hujan sejak tadi semakin deras, tanah jadi semakin licin. Saya berusaha mempertahankan konsentrasi saya sambil terus bergerak turun.

Begitu tiba di bawah, pressing total segera menyambut. Dalam kegelapan dan hanya ada cahaya senter, seluruh peserta menjalani puncak dari segala tekanan menuju prosesi pelantikan.

Saya tidak ingat apa saja yang diperintahkan atau dikatakan saat itu. Yang saya tahu saya push-up di tengah sungai, berkali-kali tercebur karena sudah tidak kuat mengangkat tubuh. Berjam-jam fisik kami dihabisi di tempat itu tanpa kesempatan beristirahat sedetik pun. Saya kehilangan kemampuan berpikir. Tubuh saya sudah bergerak mengikuti apa pun yang diperintahkan.

Dalam kekosongan akibat tekanan-tekanan itu, saya ditarik seorang operasional, merangkak menuju pos terakhir. Dengan seluruh badan terendam dalam air dan tubuh yang menggigil hebat, sebuah pesan dibisikkan di telinga saya.

“Regy, ingat, segala sesuatu yang pahit akan berakhir manis. Selamat datang di Mapala STTL.”

Saya bergetar mendengarnya. Rasanya seluruh tenaga saya seperti dipulihkan kembali. Seluruh perjuangan saya selama berhari-hari akhirnya mencapai akhir.

Setelah menghabiskan segelas jamu brotowali super pahit yang diberikan panitia, saya berjalan menuju tempat upacara, dan tiba di lapangan kecil yang diterangi nyala obor. Di tengah lapangan sudah berdiri dengan tegak bendera merah putih dan bendera Mapala STTL. Kami berbaris di depan puluhan anggota Mapala STTL yang terlihat gagah dengan seragam biru muda dan syal hijaunya. Seluruh peserta telah lengkap. Upacara dimulai.

Doa dan sebuah puisi yang indah dari Bang Anton membuka upacara di subuh yang senyap itu. Satu persatu kami didatangi oleh Mas Nida, Ketua Mapala, dan mengalungi kami dengan syal ungu, syal anggota muda Mapala STTL, syal yang menjadi pintu gerbang kehidupan kami selanjutnya diiringi lagu Padamu Negeri.

Saya mencium bendera merah putih, kemudian bendera Mapala, air mata jatuh membasahi syal baru saya. Pagi itu, kami, 19 orang dilantik sebagai anggota Mapala STTL dengan nama angkatan Bulan Kabut.

Kami disumpah untuk menjadi saudara selamanya, untuk seumur hidup kami. Bukan sekedar kawan atau sahabat. Kami akan saling menggantungkan nyawa kami di tengah belantara, di tingginya tebing, di kedalaman gua, dan di tengah derasnya jeram-jeram liar.

Saya menatap wajah-wajah asing itu. Wajah-wajah saudara baru saya.

Kita akan berjalan bersama.

Kita akan tumbuh besar bersama.

Advertisements

39 thoughts on “Diksar 9 Mapala STTL

  1. Di Mapala kami, pada hari pertama DIKSAR saja, 1 pendamping TEWAS dan 1 pendamping masuk UGD (UNTUNG SAJA BISA SELAMAT).
    Itulah sejarah yang telah terukir dalam diksar Mapala kami.

    Like

  2. Lagi blogwalking lalu ketemu postingan ini. Jadi kangen juga sama dikdas saya (di mapala saya nyebutnya dikdas) hehee..
    Inget jg itu seri, tampar2an, survival, dsb. Dari hr pertama sampe hr terakhir kena hujan badai di gunung salak, temen hampir tewas kena hipotermia. Hahaa.. Shock therapy jg buat cewek yg dulunya anak mama kyk saya.
    Iiisshh.. Jadi kanget banget sama keluarga Badai Giri.

    Like

  3. Nanti oktober ultah mapalaSTTL ku mau satu meja ama regi, bang bote,lek surip kita AO produk dalam negeri. Cinta produk indonesia bukan produk luar.

    Like

  4. bahahaha…baru ngeh ada tulisan ini, Sama, jd keinget diksar Hujan Kabut awal milenium…mana itu ada sosok saiah saat pelantikan kalian BK, aq diapit wathu, kontur n kopral….yuuk ultah 25 ngumpul lg…Viva MPS!!

    Like

  5. jadi inget waktu diklatsar pencinta alam wktu sma dlu, hampir sama spt ini. mendapatkan tekanan mental dan fisik yg ga ada habisnya. krn kelelahan jd berasa antara sadar dan tidak sadar. tamparan, push up, sit up, tendangan dan apalah kita terima, tp smua emmg berakir indah dan rasa bangga yg tak terkira.

    Like

  6. interest !! panjang tp gg ngebosenin buat baca sampe akhir..
    salam kenal Regy, gue Bekti MAKAPALA (Mahasiswa Akademi Kimia Analisis Pencinta Alam) Bogor.

    Like

  7. Aku suka ceritamu!! Kreen.
    Cerita semasa diksar emang tdak ada duanya,,
    Salam lestari..
    Salam kenal dari kami Mahasiswa pencinta alam massenrempulu (MAPASSE) enrekang sul-sel, kami berdomisili di enrekang kaki gunung latimojong,tpi sekretariat kami di makassar klo ada plening treking ke latimojong,, singgah aja di sekret kami.
    Kita buka lembaran cerita baru..okkk

    Like

  8. Baru baca ini….
    Membuatku tertawa dan haru….
    Smua pastinya menjadi bekal ke depan, dan pastinya jadi kangen masa itu….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s